Dari Busway ke Bus Antar Kota: Sekolah, Perpisahan, dan Cinta Pertamaku pada Dunia Digital

 
Ilustrasi perempuan muda berambut merah duduk di bus tingkat terbuka warna abu gelap, mengenakan gaun putih bordir phoenix emas, dikelilingi buket bunga daisy, mawar, dan water lily dengan latar gedung kota.

Di antara kursi-kursi kosong yang dipenuhi bunga kenangan, ia duduk menghadap kota—seperti hidup yang terus melaju, membawa masa lalu dan harapan dalam satu perjalanan - Blog Cerita Kemuning


Perpisahan yang Mengubah Arah

 

Ada masa ketika hidup berubah bukan karena kita siap, tapi karena keadaan memaksa. Perpisahan orang tua menjadi garis tegas yang membelah masa kecilku menjadi “sebelum” dan “sesudah”. Sebelum itu, aku anak sekolah di kotamadya—riuh, cepat, serba teratur. Sesudahnya, aku pindah ke kabupaten—lebih lengang, lebih santai, dan entah kenapa terasa seperti dunia yang berbeda.

 

Perubahan itu bukan cuma soal alamat rumah. Ia merembes sampai ke bangku sekolah, ke cara berangkat pagi, ke suasana kelas, bahkan ke ritme napas sehari-hari.

 

Kalau dulu aku sekolah seperti naik busway di jalur khusus—rapi, teratur, dan terasa modern—kini aku seperti berdiri di tepi jalan menunggu bus antarkota. Tidak ada jalur khusus. Tidak ada halte megah. Hanya jalan aspal yang sama dengan kendaraan umum lainnya. Dan tentu saja harus ikut bermacet-macetan saat lalu lintas padat. Perbedaannya terasa begitu jelas.

 

Soal jodoh? Itu lain jalur lagi. Dari dulu pun urusan itu rasanya tak pernah punya “jalur khusus”. Jadi sudahlah, ngopi moccachino dulu saja daripada memikirkan rahasia tingkat tinggi… haha.

 

Dan di tengah semua perubahan itu, aku sempat bertanya polos dalam hati: kenapa sekolah di kotamadya dan kabupaten bisa terasa berbeda jauh? Bukankah kita hanya punya satu Menteri Pendidikan? Menteri pendidikan tidak dibagi dua juga, kan? Hehe… pikiranku waktu itu sederhana. Kupikir kalau menterinya satu, harusnya rasanya juga satu.

 

Ternyata hidup tidak sesederhana logika anak sekolah.

 

---

 

Kotamadya yang Serba Cepat

 

Sekolah di kotamadya terasa seperti ikut lomba lari setiap hari. Jadwal padat, tugas menumpuk, dan les tambahan hampir seperti kewajiban tak tertulis. Pulang sekolah belum tentu benar-benar pulang. Sering kali lanjut les di rumah atau tempat kursus.

 

Rasanya seperti mesin yang terus menyala.

 

Aku terbiasa dengan ritme itu. Bangun pagi, berangkat dengan angkot yang kondisi mobilnya selalu terlihat bagus—terasa eksklusif, seperti dunia punya sistem yang rapi dan jelas. Sampai di sekolah, semuanya bergerak cepat. Guru tegas, target tinggi, persaingan terasa.

 

Tidak buruk, sebenarnya. Hanya saja… melelahkan.

 

---

 

Kabupaten yang Lebih Santai

 

Ketika pindah ke kabupaten, aku seperti masuk ke dunia dengan tombol volume yang diturunkan sedikit. Suasananya lebih santai. Tidak ada les tambahan rutin di rumah. Tambahan belajar hanya diadakan beberapa bulan menjelang ujian nasional.

 

Pulang sekolah biasanya setelah sholat lohor. Sampai rumah, makan, ngepel sebentar—karena ya, hidup tetap harus dijalani dengan tanggung jawab—lalu tidur sampai sore.

 

Bagian ini… jujur saja, terasa indah.

 

Lupa segala-galanya. Masih bangun, tapi seperti tidak sedang memikirkan apa pun. Hanya tidur yang panjang dan damai. Kadang bangun dengan perasaan ringan, kadang bangun dengan sedikit bingung karena matahari sudah condong ke barat.

 

Kalau ada les tambahan menjelang ujian, pulang bisa jam tiga atau jam empat sore. Tapi itu hanya sementara. Selebihnya, hidup berjalan dengan ritme yang lebih manusiawi.

 

Dan di situlah aku mulai mengerti: tidak semua yang lambat itu tertinggal. Kadang yang lambat justru memberi ruang untuk bernapas.

 

---

 

Pertanyaan Polos tentang Sistem Pendidikan

 

Sebagai anak yang belum benar-benar paham birokrasi, aku sering bertanya dalam hati: kenapa bisa berbeda jauh padahal kurikulumnya sama? Kenapa rasanya seperti dua dunia berbeda?

 

Bukankah kita satu negara? Bukankah menterinya satu?

 

Belakangan aku sadar, kebijakan memang satu, tapi pelaksanaan bisa berbeda. Fasilitas, budaya sekolah, tuntutan orang tua, dan lingkungan sosial sangat memengaruhi. Kotamadya punya ritme kompetisi yang tinggi. Kabupaten punya pendekatan yang lebih santai.

 

Bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Hanya berbeda.

 

Dan dari perbedaan itu, aku belajar satu hal penting: hidup tidak selalu harus mengikuti kecepatan orang lain.

 

---

 

Pelajaran Komputer: Deg-Degan dan Penasaran

 

Di antara semua pelajaran, ada satu yang membuat jantungku berdebar dengan cara yang berbeda: pelajaran komputer.

 

Setiap kali masuk ruang TIK, ada rasa campur aduk. Senang, penasaran, tapi juga deg-degan. Takut salah klik. Takut layar tiba-tiba berubah. Takut kena omel guru.

 

Maklum, dulu komputer belum seperti sekarang. Tidak semua anak punya laptop pribadi. Internet belum sebebas hari ini. Ruang komputer terasa seperti laboratorium rahasia.

 

Kami belajar dasar-dasar Microsoft Office—mengetik di Word, membuat tabel di Excel, presentasi sederhana di PowerPoint. Kami juga dikenalkan pada hardware dan software. CPU, monitor, keyboard, mouse—hal-hal yang kini terasa biasa, dulu seperti benda-benda penting dari dunia masa depan.

 

Nilai komputerku tidak sempurna. Hanya cukup. Tapi ada sesuatu yang lebih dari sekadar angka di rapor: rasa ingin tahu yang menyala diam-diam.

 

---

 

Dunia Digital yang Masih Aman

 

Saat itu, internet terasa lebih sederhana. Tidak seramai sekarang. Tidak seberisik sekarang. Rasanya lebih aman.

 

Aku hanya “jalan-jalan” di batas yang kupahami. Tidak berani terlalu jauh. Tidak ingin tahu sisi gelapnya. Bagian tergelap dunia digital memang selalu ada, tapi entah kenapa dari dulu aku sudah tahu—tidak semua hal perlu dijelajahi.

 

Rasa penasaran itu sehat, tapi harus tahu batas.

 

Sayangnya, dulu tidak ada yang benar-benar mengarahkan. Tidak ada yang berkata, “Kalau kamu suka komputer, ini langkah awalnya.” Tidak ada pencerahan tentang bagaimana masuk ke dunia digital secara serius.

 

Bahasa pemrograman? Dalam bayanganku waktu itu, itu hanya untuk anak kuliahan. Untuk orang-orang yang jenius. Bukan untuk anak sekolah biasa seperti aku.

 

Padahal mungkin, kalau ada yang membimbing, ceritanya bisa berbeda.

 

---

 

Belajar dari Nol: Membuat Blog

 

Bertahun-tahun kemudian, rasa penasaran itu kembali muncul dalam bentuk yang lebih matang: membuat blog.

 

Belajar dari nol. Mengotak-atik template. Mengganti warna. Mengatur tata letak. Membaca tutorial yang kadang bahasanya bikin pusing. Rasanya seperti kembali duduk di ruang komputer sekolah—deg-degan, takut salah klik.

 

Capek? Iya.

 

Pusing? Jelas.

 

Seru? Banget.

 

Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mengubah satu detail kecil. Ketika tulisan pertama tayang. Ketika tahu bahwa kata-kata yang kita susun bisa dibaca orang lain di tempat yang bahkan tidak kita kenal.

 

Rasa lelah itu terbayar oleh rasa bangga yang sederhana.

 

Dan aku tersenyum dalam hati: ternyata benih cinta pada dunia digital itu sudah ada sejak pelajaran komputer dulu.

 

---

 

Antara Tradisi dan Masa Depan

 

Aku sering berpikir, masa sekolah di kabupaten itu seperti jembatan. Di satu sisi, hidup masih sangat tradisional—pulang sekolah, sholat, bantu pekerjaan rumah, tidur siang. Di sisi lain, ada dunia digital yang mulai mengetuk pelan.

 

Seolah-olah aku berdiri di antara dua zaman.

 

Tradisi mengajarkanku disiplin dan tanggung jawab. Dunia digital mengajarkanku keberanian mencoba hal baru.

 

Keduanya tidak harus bertentangan. Justru saling melengkapi.

 

---

 

Tentang Santai yang Tidak Berarti Malas

 

Ada anggapan bahwa suasana santai berarti kurang ambisi. Tapi bagiku, masa santai itu justru membentuk ketahanan.

 

Karena ketika tidak dipaksa berlari terus-menerus, aku belajar mengatur ritme sendiri. Belajar bangkit dari rasa sedih akibat perpisahan orang tua. Belajar menerima keadaan tanpa banyak protes.

 

Dan dari tidur siang yang panjang itu—ya, yang kadang sampai lupa waktu—aku belajar bahwa istirahat bukan kemunduran. Ia adalah pengisian ulang.

 

Hidup tidak selalu tentang mengejar. Kadang tentang memulihkan.

 

---

 

Mengenang Tanpa Mengeluh

 

Sekarang, ketika mengingat masa itu, aku tidak ingin mengeluh. Tidak ingin menyalahkan sistem. Tidak ingin menyalahkan keadaan.

 

Semua punya porsinya masing-masing.

 

Kotamadya memberiku ketegasan. Kabupaten memberiku kelapangan. Pelajaran komputer memberiku arah samar tentang masa depan. Blog memberiku ruang untuk bersuara.

 

Dan perpisahan orang tua? Ia memberiku kedewasaan lebih cepat dari jadwal.

 

---

 

Dari Anak Takut Salah Klik, Jadi Berani Mencoba

 

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Dulu takut salah klik. Sekarang berani utak-atik blog, belajar hal-hal teknis, bahkan memahami sedikit demi sedikit dunia digital yang dulu terasa asing.

 

Memang tidak instan. Tidak langsung mahir. Tapi langkah kecil tetap langkah.

 

Kalau dulu kupikir pemrograman hanya untuk anak kuliahan, sekarang aku tahu belajar bisa dimulai kapan saja. Tidak ada batas usia untuk memahami teknologi. Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

 

Yang penting bukan seberapa cepat kita menguasai, tapi seberapa konsisten kita mau mencoba.

 

---

 

Syukur yang Tidak Pernah Terlambat

 

Pada akhirnya, setiap fase hidup punya pelajaran. Sekolah di kotamadya maupun kabupaten, dua-duanya membentukku.

 

Kalau dulu hidup terasa seperti dua dunia yang berbeda, sekarang aku melihatnya sebagai dua sisi dari koin yang sama.

 

Dan di titik ini, aku hanya bisa berkata pelan namun penuh makna: Alhamdulillah.

 

Untuk masa yang cepat.

Untuk masa yang santai.

Untuk ruang komputer yang membuatku deg-degan.

Untuk blog yang membuatku terus belajar.

Untuk perjalanan seperti dari busway ke bus antar kota.

Untuk semua yang membentukku menjadi aku hari ini.

Hidup memang tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya kita harus pindah jalur, pindah kota, bahkan mengganti cara pandang. Namun selama langkah tetap diayunkan—pelan atau cepat—kita tetap bergerak menuju sesuatu yang telah disiapkan untuk kita.

Mungkin sejak dulu, dunia digital sudah menunggu dengan sabar, seperti kota yang terlihat dari kejauhan: diam, tetapi menjanjikan.

Hidupku kini terasa seperti duduk di bus yang terus melaju—kadang sendirian, kadang dikelilingi bunga-bunga kenangan—namun selalu menghadap ke depan, ke arah masa depan yang memberi harapan.

---

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

 

---

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar