Ramadan yang Pernah Sepi, dan Doa yang Kini Menghangatkan

Ilustrasi ibu muda berambut merah dengan kepang milkmaid mengenakan lehenga hijau emerald berhias emas dan pink, bermain bersama putri kecilnya yang memakai busana senada di taman bunga luas di samping kastil putih berkerucut hijau kiwi.

Dari Ramadan yang pernah sepi, kini tumbuh taman hangat untukmu, Nak. - Blog Cerita Kemuning



Dari kontrakan sunyi, kolak ubi jalar, hingga pelukan kecil Runi—tentang syukur yang tumbuh pelan-pelan seperti fajar.

 

---

 

Pagi itu, matahari belum benar-benar bangun. Langit masih setengah mengantuk, seperti ibu-ibu yang terbangun sebelum azan Subuh lalu duduk sebentar di tepi ranjang, menghela napas, menata hati sebelum menata dapur.

 

Aku menyeduh teh hangat. Runi masih terlelap. Wajahnya tenang, bulu matanya diam, tangannya memeluk guling kecil yang sudah mulai kempis. Di detik-detik hening seperti ini, Ramadan terasa berbeda. Tidak lagi sepi seperti dulu. Tidak lagi hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia kini tentang menjaga hangat.

 

Tapi aku tidak lahir dari Ramadan yang hangat.

 

Aku pernah hidup dalam Ramadan yang sepi. Sunyi yang bunyinya lebih keras dari petasan anak-anak.

 

---

 

Ramadan Prakarsa: Belajar Menahan, Bukan Hanya Lapar

 

Waktu praremaja, aku belajar puasa dengan cara yang barangkali terlalu cepat dewasa. Aku belajar menahan lapar dan haus, tentu saja. Tapi yang lebih sulit adalah menahan tanya yang berputar-putar di kepala kecilku.

 

Kenapa begini?

Kenapa harus begini?

Kenapa aku merasa sendirian padahal rumah tidak kosong?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban. Jadi aku menelannya bulat-bulat, seperti menelan ludah ketika azan Magrib belum juga terdengar.

 

Aku belajar menahan marah di dalam dada. Menahan kesal yang kadang ingin meledak. Menahan iri ketika melihat keluarga lain tampak lebih utuh, lebih hangat, lebih… ya, lebih saja.

 

Ramadan bagiku saat itu bukan hanya latihan fisik, tapi latihan diam. Diam ketika hati riuh. Diam ketika ingin protes. Diam ketika ingin lari.

 

Dan latihan itu berlangsung lama. Sampai aku beranjak dewasa.

 

---

 

Keinginan Pergi: “Aku Harus Mandiri”

 

Setelah lulus sekolah, satu kalimat berputar keras di kepalaku: aku harus pergi dari sini.

 

Bukan karena benci. Tapi karena ingin bernapas dengan caraku sendiri. Ingin membuktikan bahwa aku bisa. Ingin menjadi mandiri, tidak selamanya bergantung pada mama.

 

Ah, mama.

 

Tanpa mama, mungkin aku bahkan tidak berani bermimpi sejauh itu.

 

Aku merantau. Bekerja dengan gaji yang, kalau jujur saja, sering tidak seberapa. Ekspektasiku setinggi langit, tapi realitanya kadang hanya setinggi atap kontrakan yang bocor.

 

Dunia terasa gedebag-gedebug. Keras. Panas. Tidak peduli pada perasaan anak rantau yang sensitif dan gampang terenyuh.

 

Aku pernah berpikir, ternyata untuk mandiri itu bukan cuma soal punya uang sendiri. Tapi juga soal punya mental baja anti karat dan benteng keras kepala yang terarah. Dan aku? Aku masih belajar.

 

Terlalu mudah percaya.

Terlalu mudah tersenyum.

Terlalu mudah memaafkan.

 

Kadang, senyumku disalahartikan. Dibilang murahan. Dibilang ingin masuk circle. Padahal aku hanya tidak ingin bermusuhan. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang.

 

Tapi dunia kerja tidak selalu ramah pada orang yang terlalu lembut.

 

---

 

Ramadan di Kontrakan: Kolak, Soda Susu, dan Suara Tawa dari Sebelah

 

Ada satu Ramadan yang tidak pernah kulupakan.

 

Aku pulang kerja menjelang Magrib. Badan lelah dari pagi sampai sore. Kepala pening karena lembur yang entah diikutkan atau tidak. Kadang harus berharap namaku masuk daftar lembur supaya bisa menambah sedikit uang.

 

Boro-boro jalan-jalan saat libur. Untuk sekadar membeli makanan enak saja, aku harus berhitung dulu. Kontrakan harus terbayar. Kebutuhan pokok harus aman. Sisanya? Ya, sisa.

 

Sore itu aku membeli kolak ubi jalar dan singkong. Tambah minuman soda susu yang dinginnya menusuk tapi manisnya menenangkan. Buka puasa sederhana, di kamar kontrakan yang temboknya tipis.

 

Dari sebelah, terdengar gelak tawa. Keluarga tetangga berkumpul. Ada suara anak-anak, suara piring beradu, suara televisi menyala keras. Hidup terasa penuh di sana.

 

Di kamarku, hanya ada aku.

 

Aku duduk bersila, menatap kolak di mangkuk plastik. Menghela napas panjang sebelum suapan pertama. Bukan karena tidak bersyukur. Justru karena aku sedang belajar bersyukur di tengah rasa yang campur aduk.

 

Setelah makan, aku menukar pesan dengan mama. Kadang menelepon. Suara mama dari kampung seperti selimut tipis yang menenangkan. Tidak tebal, tapi cukup membuatku tidak menggigil.

 

“Mama sehat?”

“Iya, Nak. Kamu gimana puasanya?”

 

Aku selalu menjawab, “Alhamdulillah, sehat.”

 

Dan itu benar. Aku masih sehat. Aku masih bisa menjalankan puasa di tengah pekerjaan dari pagi sampai sore. Itu saja sudah nikmat yang besar.

 

Tapi manusia memang kadang ingin lebih dari sekadar cukup.

 

---

 

Insecure Itu Nyata

 

Pendapatan yang tidak sesuai harapan, lingkungan kerja yang tidak selalu hangat, dan rasa ingin diakui yang sering kali tidak terpenuhi—semuanya bercampur jadi satu.

 

Aku merasa kecil.

 

Merasa tertinggal.

 

Merasa tidak cukup.

 

Insecure bukan hanya soal penampilan. Tapi soal pencapaian. Soal melihat orang lain tampak lebih berhasil, lebih mapan, lebih bahagia. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati mereka.

 

Kadang aku pulang kerja sambil menahan air mata. Lelah bukan cuma di badan, tapi di jiwa. Tapi anehnya, setiap kali Ramadan datang, ada bagian dalam diriku yang tetap ingin bertahan.

 

Seolah Ramadan berbisik, “Tenang. Ini cuma fase.”

 

Dan mungkin memang begitu.

 

Hidup ini seperti game di ponsel. Ada levelnya. Ada tantangannya. Kadang kita gagal berkali-kali sebelum bisa naik tingkat. Kadang kita harus mengulang dari awal. Dan kadang, kita merasa ingin melempar ponsel karena kesal.

 

Tapi kalau dipikir-pikir, justru di situ serunya.

 

---

 

Pulang yang Berulang

 

Aku pernah mencoba pergi berkali-kali. Bertahan di kota orang. Menguatkan diri. Tapi sering kali aku kalah.

 

Aku pulang lagi.

 

Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai kegagalan. Tapi sekarang aku melihatnya sebagai proses. Mungkin saat itu aku memang belum siap menghadapi kerasnya dunia tanpa pegangan yang cukup kuat.

 

Mama adalah fondasiku. Tempatku kembali ketika duniaku retak.

 

Dan tidak apa-apa.

 

Tidak semua orang harus langsung kuat. Ada yang memang perlu waktu lebih lama untuk membangun mental baja itu. Aku salah satunya.

 

---

 

Kini, Ada Runi

 

Sekarang, aku tidak lagi sendirian di Ramadan.

 

Ada Runi.

 

Anak kecil dengan emosi yang plek ketiplek—kadang meledak seperti petasan, kadang manja seperti anak kucing. Yang tawanya bisa mengusir lelah, tapi rengekannya juga bisa menguji kesabaran tingkat dewa.

 

Aku sering tertawa sendiri. Dulu aku ingin kabur dari sepi. Sekarang aku justru sibuk memastikan rumah kecil kami tidak pernah terlalu dingin.

 

Aku tidak bisa memberi Runi segalanya. Tapi aku ingin memastikan Ramadan-nya hangat.

 

Hangat dengan obrolan sederhana.

Hangat dengan buka puasa yang mungkin tidak mewah, tapi dimakan bersama.

Hangat dengan cerita sebelum tidur.

Hangat dengan doa-doa yang kami ucapkan pelan.

 

Kalau suatu hari Runi harus bertemu dengan dinginnya Ramadan—entah karena jarak, karena kehilangan, atau karena ujian hidup lainnya—aku ingin saat itu ia sudah siap.

 

Siap secara mental.

Siap secara iman.

Siap secara hati.

 

Aku ingin ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih pandai bersyukur daripada aku.

 

---

 

Doa Seorang Ibu

 

Doaku sederhana, tapi dalam.

 

Aku ingin Allah SWT meridhai langkah putriku.

Aku ingin ia menjadi anak yang taat, rajin salat, rajin mengaji, rajin belajar.

Aku ingin ia punya tujuan yang jelas.

Tidak goyah oleh kabar burung.

Tidak mudah terombang-ambing oleh pergaulan yang salah.

 

Aku ingin ia punya teman-teman yang membawanya ke lingkungan baik. Yang mengingatkannya pada kebaikan, bukan menariknya pada keburukan. Yang membawanya bukan hanya ke dunia yang layak, tapi juga ke akhirat yang selamat.

 

Dan, tentu saja, aku ingin ia percaya padaku. Percaya bahwa mamanya berusaha sebaik mungkin. Bahwa setiap larangan ada alasannya. Setiap nasihat ada doanya.

 

Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

---

 

Tentang Syukur yang Bertumbuh

 

Dulu aku berpikir syukur itu datang setelah bahagia.

 

Sekarang aku tahu, syukur justru yang melahirkan bahagia.

 

Ramadan yang sepi mengajariku banyak hal. Mengajariku bahwa kesendirian tidak selalu berarti ditinggalkan. Kadang ia hanya ruang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

 

Mengajariku bahwa uang memang penting—jangan munafik, hidup butuh biaya—tapi uang bukan satu-satunya penentu harga diri.

 

Mengajariku bahwa gagal bukan akhir. Pulang bukan aib. Menangis bukan tanda lemah.

 

Dan yang paling penting, mengajariku bahwa hidup ini berfase.

 

Ada masa kita jadi anak yang penuh tanya.

Ada masa kita jadi perantau yang penuh luka.

Ada masa kita jadi ibu yang penuh doa.

 

Setiap fase punya levelnya sendiri. Punya tantangan sendiri. Punya hadiah sendiri.

 

Kalau dulu hadiahnya adalah kekuatan bertahan.

Sekarang hadiahnya adalah kesempatan membesarkan seorang anak dengan lebih sadar.

 

---

 

Pagi makin terang. Runi mulai bergerak, mengucek mata. Aku tersenyum.

 

Ramadan kali ini tidak lagi tentang kolak yang dimakan sendirian di kamar kontrakan. Ia tentang menyiapkan sahur sambil menahan kantuk. Tentang membangunkan anak dengan lembut. Tentang mengajarinya arti menahan diri, sedikit demi sedikit.

 

Aku tidak sempurna. Masih sering emosi. Masih kadang lelah dan merasa tidak cukup. Tapi aku belajar.

 

Belajar bahwa syukur bukan berarti tidak boleh mengeluh. Syukur berarti tetap berdiri, meski lutut gemetar.

 

Dan kalau suatu hari nanti Runi membaca ini, aku ingin ia tahu:

 

Mamamu pernah merasa kecil.

Pernah merasa kalah.

Pernah berbuka dengan kolak sederhana dan air mata yang ditahan.

 

Tapi mamamu tidak berhenti percaya.

Tidak berhenti berdoa.

Tidak berhenti belajar bersyukur.

 

Karena hidup ini memang seperti game di ponsel itu, Nak. Kadang kita harus kalah dulu supaya tahu strategi yang tepat. Kadang kita harus mengulang level supaya lebih sabar.

 

Yang penting, jangan berhenti main.

Jangan berhenti mencoba.

Dan jangan pernah lupa bersyukur.

 

Ramadan boleh datang dengan wajah yang berbeda-beda. Kadang sepi, kadang ramai. Kadang penuh tawa, kadang penuh doa dalam diam.

 

Tapi selama hati masih mau bersyukur, insyaAllah, ia akan selalu menemukan hangatnya sendiri.

 

---  

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca. 

 

--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar