28 Februari: Ujung Bulan, Awal yang Menguatkan

Ilustrasi semi lukisan ibu muda berambut merah bergelombang dengan hiasan kepala emas dan gaun hijau-kiwi, orange, pink fanta tertutup di bahu, bermain bersama putrinya berambut merah keriting di padang rumput penuh bunga daisy, mawar merah, snapdragon, dan lily of the valley, dengan hutan hijau di kejauhan.

Bermain dengan angin, di antara bunga dan tawa kecil—karena bahagia itu sederhana: sehat, bersama, dan saling menggenggam - Blog Cerita Kemuning



Hari ke-10 Ramadhan, ketika tubuh kembali tegak dan hati belajar bersyukur lebih dalam.

 

---

 

Tanggal 28 selalu terasa seperti halaman terakhir dalam buku tipis bernama Februari. Ia pendek, kadang terasa tergesa, tapi justru di situlah letak manisnya—ia tidak berlama-lama, namun meninggalkan kesan. Tahun ini, tanggal 28 menjadi lebih istimewa. Ia bukan sekadar penutup bulan, tapi juga penanda hari ke-10 Ramadhan. Sebuah angka yang sederhana, tapi bagi aku terasa seperti garis start yang kedua.

 

Setelah beberapa hari jeda karena sakit dan masa haid, akhirnya aku kembali berdiri di barisan orang-orang yang berpuasa. Rasanya seperti pulang. Seperti mengenakan kembali pakaian yang sempat digantung rapi karena belum bisa dipakai. Ada lega, ada syukur, ada haru yang diam-diam menghangatkan dada.

 

Karena, beberapa hari lalu badan ini terasa mau tumbang. Pusing datang seperti tamu tak diundang. Kepala berat, tenaga merosot, dan hati mulai bertanya-tanya, “Kenapa sekarang?” Tapi perempuan memang punya kalendernya sendiri. Kadang tubuh lebih tahu dari pikiran. Setelah masa haid datang, aku baru mengerti—rupanya badan hanya sedang bersiap, bukan benar-benar menyerah.

 

Dan pagi ini, ketika alarm berbunyi pukul tiga dini hari, aku bangun dengan rasa berbeda. Tidak sempoyongan. Tidak pening. Tidak ada rasa melayang yang membuat dinding seperti bergerak pelan. aku duduk sebentar di tepi kasur, menarik napas panjang. Hening. Lalu tersenyum kecil.

 

Alhamdulillah.

 

Sahur hari ini sederhana. Tidak mewah, tidak istimewa. Tapi justru di situlah letak nikmatnya. Makan dengan tenang, minum dengan cukup, tanpa buru-buru, tanpa rasa mual. Setiap suapan terasa seperti hadiah. aku tak lagi memikirkan sakit kemarin. Tubuh ini seperti berkata, “Ayo, kita mulai lagi.”

 

Selesai sahur, aku tidak kembali ke kasur. Dulu mungkin iya—menarik selimut lagi, memejamkan mata beberapa menit sebelum subuh. Tapi entah kenapa, Ramadhan selalu membuat aku ingin bergerak. Ada energi yang tidak bisa dijelaskan. Seperti mesin lama yang dipanaskan perlahan, lalu tiba-tiba berjalan stabil.

 

Aku langsung mandi.

 

Ini kebiasaan kecil yang aku pertahankan: mandi setelah sahur. Ada alasannya, dan ini bukan soal teori tinggi. Ini soal tenggorokan yang kadang terasa kering setelah menyikat gigi. Entah kenapa, sensasinya seperti haus palsu yang mengganggu pikiran. Jadi aku memilih strategi sederhana—mandi setelah sahur, agar setelah selesai masih boleh minum banyak sebelum imsak benar-benar tiba.

 

Praktis. Sederhana. Dan menyelamatkan fokus seharian.

 

Air dini hari terasa berbeda. Dingin, tapi menyadarkan. Seperti menghapus sisa-sisa lelah yang mungkin masih menempel. Saat air mengalir, aku sering merasa seperti sedang memulai hidup lagi. Ada yang bersih, ada yang diperbarui. Ramadhan memang selalu punya cara untuk merapikan hati yang sempat kusut.

 

Selesai mandi, aku minum lagi. Banyak. Tidak malu. Tidak setengah-setengah. Karena aku tahu tubuh ini butuh persiapan. Puasa bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga tentang menghormati badan yang diajak bekerja sama. Kita tidak bisa memaksanya, tapi juga tidak boleh mengabaikannya.

 

Setelah itu, aku mencuci baju.

 

Ya, mencuci baju di jam-jam sunyi seperti itu terasa aneh bagi sebagian orang. Tapi bagi aku, justru damai. Mesin cuci berdengung pelan, langit masih gelap, anak masih terlelap. Dunia seperti memberi ruang pribadi. aku bisa berpikir, bisa bersyukur, bisa berbicara dalam hati tanpa gangguan notifikasi atau suara kendaraan.

 

Ramadhan mengajarkan satu hal yang sederhana: ritme. Tidak perlu cepat, tidak perlu lambat. Yang penting konsisten.

 

Hari ke-10 ini terasa seperti pembuktian kecil. Bahwa jeda karena haid bukan kehilangan. Bahwa sakit bukan kegagalan. Bahwa istirahat bukan berarti tertinggal. Kadang kita memang perlu berhenti, agar saat kembali melangkah, langkahnya lebih mantap.

 

Aku belajar menerima siklus tubuh tanpa drama. Dulu mungkin ada rasa sedih saat tidak bisa puasa. Ada rasa “tertinggal.” Tapi sekarang tidak lagi. aku tahu, perempuan memang diberi jalannya sendiri. Dan ketika waktunya tiba untuk kembali, rasanya justru lebih manis.

 

Syukron ya Allah.

 

Sehat jiwa dan raga memang nikmat yang luar biasa. Kita sering baru sadar saat salah satunya goyah. Saat kepala pening, baru terasa mahalnya satu hari tanpa sakit. Saat anak demam, baru terasa berharganya suara tawa yang biasa kita anggap biasa.

 

Oh iya, Runi juga sudah sehat.

 

Itu bagian yang membuat hati benar-benar plong. Karena kalau anak belum pulih, ibu mana bisa benar-benar tenang? Badan boleh saja sembuh, tapi pikiran tetap bergetar. Melihat Runi kembali ceria, makan dengan lahap, bergerak aktif tanpa drama hidung meler—itu seperti mendapat bonus kebahagiaan di tengah Ramadhan.

 

Kadang aku berpikir, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia tentang menata ulang prioritas. Tentang menyadari bahwa yang paling mahal bukan barang, bukan status, bukan pujian. Tapi kesehatan. Ketenangan. Anak yang sehat. Dapur yang tetap mengepul. Hati yang tidak penuh keluh.

 

Tanggal 28 ini jadi pengingat: akhir tidak selalu sedih. Kadang akhir justru membuka pintu baru. Februari selesai, tapi Ramadhan masih berjalan. Dan aku kembali di dalamnya, bukan sebagai penonton, tapi sebagai pelaku.

 

Ada sesuatu yang berbeda ketika berpuasa setelah sempat tidak bisa. Rasanya lebih sadar. Lebih khusyuk. Tidak lagi sekadar rutinitas, tapi benar-benar pilihan yang disyukuri. Setiap jam terasa berarti. Setiap rasa lapar jadi pengingat bahwa tubuh ini hidup, dan kita sedang menjaganya dengan niat.

 

Menjadi ibu rumah tangga di bulan Ramadhan memang punya tantangan sendiri. Sahur, masak, bersih-bersih, mengurus anak, kadang sambil tetap menulis atau mengerjakan hal lain dari rumah. Tapi di situlah seni bertahannya. Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Kita hanya sedang berusaha jadi versi terbaik hari ini.

 

Dan hari ini, versi terbaik aku adalah bangun jam tiga pagi tanpa keluhan.

 

Tidak semua orang perlu tahu perjuangan kecil itu. Tapi aku tahu. Dan Tuhan tahu. Itu cukup.

 

Ada rasa bangga yang sunyi ketika badan yang kemarin lemah kini kembali bertenaga. Seperti melihat tanaman yang sempat layu lalu kembali segar setelah disiram. Kita tidak memaksa. Kita hanya memberi waktu. Dan waktu yang tepat memang menyembuhkan banyak hal.

 

Aku jadi teringat satu hal: sering kali kita mengira sakit itu musuh. Padahal kadang ia hanya pesan. Pesan untuk melambat. Pesan untuk memperhatikan diri. Pesan untuk berhenti merasa harus selalu kuat.

 

Ramadhan kali ini mengajarkan aku keseimbangan. Antara ibadah dan istirahat. Antara semangat dan realistis. Antara tekad dan penerimaan.

 

Dan di tanggal 28 ini, aku ingin menyimpan satu kalimat sederhana di hati: sehat itu bukan hak, tapi anugerah.

 

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal.

 

Dalam segala keadaan, tetap ada yang bisa disyukuri. Bahkan sakit pun membawa pelajaran. Bahkan jeda pun menyimpan makna.

 

Pagi ini matahari mungkin terbit seperti biasa. Orang-orang mungkin beraktivitas seperti biasa. Dunia tidak berubah drastis. Tapi di dalam diri aku, ada perubahan kecil yang berarti. Ada rasa utuh yang kembali. Ada keyakinan bahwa aku bisa menjalani hari ini dengan baik.

 

Ramadhan masih panjang. Masih ada hari ke-11, ke-12, dan seterusnya. Tapi hari ke-10 ini akan aku ingat sebagai hari kembali. Hari ketika badan dan hati sepakat untuk berjalan seiring lagi.

 

Dan jika nanti lelah datang lagi, aku tidak akan panik. Karena sekarang aku tahu: jeda bukan akhir. Ia hanya bagian dari perjalanan.

 

Selamat tinggal, Februari. Terima kasih sudah menjadi jembatan kecil menuju kekuatan baru.

Selamat datang hari-hari berikutnya. aku siap, dengan badan yang kembali bertenaga dan hati yang lebih bersyukur.

 

Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa cepat kita berlari. Tapi seberapa tulus kita mensyukuri setiap langkah—termasuk langkah kecil di jam tiga pagi, dengan mata setengah terbuka, tapi hati penuh doa.

 

---

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca. 

 

--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar