
Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning

Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning
BAB 3 — Aku, Sekolah, dan Mimpi yang Diam-diam Kubesarkan
Pagi di kota itu selalu terdengar seperti mesin tua yang tak pernah benar-benar dimatikan. Bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik ke langit, suara sepeda motor sudah berkejar-kejaran dengan suara orang-orang yang menyapa setengah mengantuk, dan bau gorengan menyelinap dari warung-warung yang baru membuka pintu. Bimala sudah menghafal irama itu sejak kecil. Ia hafal suara roda becak yang berdecit, klakson angkot yang terdengar seperti orang sedang marah-marah pada dunia, bahkan langkah kaki orang-orang yang berbelanja ke toko ibunya.
Pagi itu, seperti biasa, ia bangun dengan mata yang masih berat. Ponsel di samping bantalnya menyala pelan—alarm yang disetel dengan lagu instrumental dari salah satu film favoritnya. Bukan lagu dangdut atau pop yang ramai. Ia lebih suka nada-nada yang terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Dunia sihir, dunia pahlawan, dunia di mana seseorang bisa menemukan jati dirinya dengan satu misi besar.
“Bangun, Malaaa…!” suara Mama dari bawah menggelegar, penuh tenaga seperti pembawa acara di alun-alun.
“Iya, Ma… ini bangun…” gumamnya setengah sadar.
Ia bangkit, mengikat rambut panjangnya jadi satu kuncir tinggi, lalu menatap sebentar bayangannya di cermin. Pipi yang masih sedikit tembam, lengan yang terlihat kuat, dan mata yang menyimpan banyak cerita yang belum sempat keluar. Pemandangan yang sama seperti kemarin. Tapi entah kenapa, kali ini ia diam lebih lama, memandangi dirinya, lalu berbisik dalam hati.
Setiap film punya tokoh utama… dan mulai hari ini, tokoh utama itu adalah aku.
Ia terkekeh kecil. Ya, mungkin kedengarannya lebay, tapi begitulah cara pikirannya bekerja. Harry Potter, Peter Parker, Diana Prince, Tony Stark, atau bahkan tokoh fiksi ilmiah yang namanya susah diingat—semuanya punya satu kesamaan: mereka bermakna dalam dunia mereka sendiri. Tidak peduli ada yang lebih kuat, lebih kurus, lebih cantik, atau lebih pintar. Mereka punya cerita mereka. Dan entah sejak kapan Bimala mulai percaya: ia juga punya.
Di meja makan, Mama sudah menyiapkan nasi goreng, telur mata sapi, dan segelas teh manis. Kombinasi maut yang selalu berhasil meluluhkan pertahanannya.
“Makan dulu yang banyak ya, Nak. Sekolah itu butuh tenaga.”
Bimala mengangguk sambil duduk. Di dalam hatinya, ada suara kecil yang berkata: Hari ini cukup setengah porsi.
Bukan karena tidak suka. Bukan karena ingin menyiksa diri. Tapi karena ada niat baru yang pelan-pelan tumbuh, seperti tunas kecil di sela retakan beton.
Pelan saja, Mala. Pelan.
Ia mengambil piring, mengisinya secukupnya. Tidak penuh seperti biasa. Mama sempat melirik, tapi tidak bertanya. Mungkin mengira anak gadisnya sedang tidak terlalu lapar. Dan Bimala menghela napas lega.
Di sekolah, hari-harinya berjalan seperti roll film yang diputar pelan. Masuk kelas, mengerjakan tugas, sesekali tertawa bersama teman, sesekali terdiam saat pikiran mulai melayang ke tempat lain. Pelajaran Matematika, Bahasa, dan Sejarah silih berganti, tapi yang paling sering ia tunggu justru jam istirahat… karena di situ ia bisa membuka dunia lain—lewat layar ponsel pribadinya.
Harry Potter selalu menjadi pelarian favorit. Bukan hanya karena sihirnya, tapi karena Hermione yang cerdas, Harry yang setia, dan Ron yang selalu berdiri di sisi sahabatnya meski sering merasa kalah. Itu bukan cuma tentang pertarungan melawan Voldemort, tapi tentang keberanian menjadi diri sendiri, meski dunia berkali-kali mengatakan: kau tidak cukup.
Dan di antara keramaian teman-temannya, Bimala sering duduk sendiri di pojok kelas atau bawah pohon yang rindang di belakang gedung. Bukan karena tidak punya teman. Bukan pula karena dikucilkan. Ia hanya… menikmati sepi kecilnya. Di situ pikirannya bebas, tak perlu menjawab apa pun pada siapa pun.
Kesendirian itu bukan kesepian.
Itu ruang.
Ruang untuk berpikir.
Ruang untuk bertanya pada diri sendiri.
Siapa aku nantinya? Ingin jadi apa aku?
Jawabannya masih samar, seperti kabut tipis di pagi hari. Tapi satu hal mulai jelas: ia ingin sehat. Ia ingin kuat. Ia ingin mencintai tubuhnya bukan karena dipaksa, tapi karena mengerti.
Di sudut halaman sekolah, sambil memperhatikan teman-temannya membeli gorengan, minuman manis, dan jajanan berwarna mencolok, Bimala meneguk air mineral dari botolnya sendiri. Satu teguk. Dua. Tiga.
Air putih terasa hambar, tapi justru di situlah kekuatannya.
“Lagi diet, Mala?” tanya salah satu temannya bercanda.
“Bukan… lagi berteman sama air putih saja,” jawabnya santai.
Mereka tertawa, mengira itu cuma ilusi remaja yang sebentar lagi hilang. Mereka tak tahu, di balik senyum cueknya, ada strategi yang mulai disusun pelan-pelan.
Ia tidak ingin membuat orang tuanya curiga. Ia tidak ingin membuat Mama panik. Trauma sakit typus dulu masih membekas jelas di pikiran orang tuanya. Bagi mereka, tubuh kurus identik dengan bahaya.
Tapi bagi Mala, tubuh yang terlalu berat pun menyimpan bahaya lain.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari satu hal penting: mencintai orang tua bukan berarti mengabaikan kebenaran tentang diri sendiri.
Malam harinya, setelah membantu Mama menata ulang rak beras, gula, dan mie instan, setelah bapaknya pulang kerja sambil membawa senyum lelah tapi hangat, Bimala naik ke kamarnya. Ia menyalakan laptop kecilnya, membuka film superhero kesukaannya.
Ledakan. Pertarungan. Dialog penuh semangat.
Namun kali ini, matanya tidak hanya menonton layar. Ia menonton dirinya sendiri. Ia melihat bagaimana para pahlawan itu jatuh, berdarah, gagal, lalu bangkit lagi.
“Kalau mereka bisa menyelamatkan dunia,” gumamnya pelan, “aku setidaknya bisa menyelamatkan diriku sendiri.”
Dan di bawah cahaya layar biru itu, di antara dinding kamar yang penuh stiker sederhana, Bimala menarik napas panjang. Ia merasa kecil. Ia merasa biasa. Tapi untuk pertama kalinya… ia juga merasa kuat.
Mimpinya belum punya bentuk. Tapi ia sudah punya arah.
Dan kadang, arah adalah segalanya.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar