Tulisan Manis Kemuning 2

Ilustrasi ibu dan anak perempuan duduk berdekatan di kursi klasik di tengah hamparan bunga, saling memandang dengan ekspresi lembut dan penuh kehangatan
Kehangatan yang akhirnya menemukan jalannya - Blog Cerita Kemuning


Dari Kehampaan Hingga Kehangatan Bernama Runi

 

Ada musim yang tak tercatat di kalender. Tak ada tanggal merah, tak ada aba-aba petasan atau terompet plastik putus suara. Ia hanya hadir sebagai rasa: kosong. Dingin. Hampa. Dan setiap akhir tahun di masa remajaku datang dengan perasaan itu—sunyi yang seperti punya suara sendiri, berdenting pelan di kepala, lalu mengendap di dada.

 

Saat orang-orang sibuk menyiapkan pesta kecil untuk mengantar tahun baru, aku justru sibuk mengatur diri agar tak terlalu banyak berpikir. Pikiranku selalu berisik di saat yang salah, dan teramat sunyi pada malam yang seharusnya dirayakan. Televisi memutar hitung mundur, kembang api meletup di layar, dan di luar sana dunia seolah setuju untuk bahagia bersama-sama. Aku mematikan volume. Membiarkan layar menyala tanpa suara. Kadang tak kugubris sama sekali, kadang kupandangi seperti menatap jendela ke kehidupan orang lain.

 

Remaja sepertiku seharusnya punya cerita: tentang teman, tentang cinta yang membuat jantung berdebar, tentang keluarga yang hangat di meja makan. Tapi hidupku berjalan di jalur berbeda. Aku lebih sering duduk diam, membiarkan waktu menetes seperti jam pasir yang retak. Teman-teman bercerita tentang ayah mereka, ibu mereka, adik, kakak, atau makan malam bersama keluarga besar. Ketika giliran aku ditanya, aku hanya tersenyum tipis dan berkata, “Aku tidur saja, capek, hehe.”

 

Mereka mengira itu candaan. Aku membiarkan mereka percaya demikian. Lebih mudah begitu. Tak perlu menerangkan lelah yang sebenarnya bukan di badan, tapi di hati. Lelah mencintai kehidupan yang tak memberiku petunjuk arah. Lelah memeluk realita yang rasanya selalu setengah.

 

Akhir tahun berlalu tanpa perayaan. Yang tersisa hanya pagi yang datang seperti biasa, mata terbuka, dunia masih sama, dan kehampaan yang makin pandai bersembunyi di balik rutinitas.

 

Lalu waktu mendorongku masuk ke usia dua puluhan. Katanya usia itu adalah fase membangun mimpi. Aku membangun—ya, tapi bukan rumah impian, bukan keluarga impian. Aku membangun daya tahan. Aku membangun tembok agar tak mudah runtuh. Aku bekerja di kota lain. Jauh dari kenangan, jauh dari jalan-jalan yang membawa rasa yang tak ingin kuingat. Kota itu ramai, lampunya terang, jalannya panjang, tapi anehnya, aku tetap merasa seperti berjalan sendirian di lorong sempit.

 

Akhir tahun di kota orang lebih nyaring, lebih meriah, lebih hiruk-pikuk. Tapi gema di dalam diriku tetap kosong. Ikan atau ayam bakar yang kerap jadi rencana bersama orang lain, bagiku sering hanya menjadi wacana. Dibicarakan berhari-hari, direncanakan dengan semangat, lalu menguap saat hari berganti warna. Realisasinya hanya beberapa kali dalam hitungan tahun. Selebihnya? Aku kembali pada pola lama: tidur lebih awal, bangun pagi seperti hari biasa, dan menyimpan kehampaan lebih dalam, lebih rapi.

 

Aku mulai berpikir, mungkin beginilah hidupku seterusnya. Mungkin aku memang ditakdirkan berjalan seorang diri, menonton kebahagiaan dari kejauhan seperti penonton yang duduk di bangku paling belakang.

 

Tapi hidup, dengan cara yang selalu tak terduga, menulis bab baru untukku. Bukan dengan ledakan kembang api, bukan dengan janji manis bertabur bunga, melainkan dengan kehadiran yang amat hening… dan begitu suci.

 

Arum Seruni Wijaya.

 

Saat pertama kali aku tahu ia ada di dalam rahimku, ada ketakutan yang memeluk keras keberanianku. Dunia belum ramah padaku, apalagi pada seorang bayi yang bahkan belum mengenal arti dunia. Tapi ada sesuatu yang berubah pelan-pelan… seperti matahari yang muncul pelan dari balik awan paling tebal.

 

Bulan Desember datang lagi, kali ini bersama detak jantung kecil yang pernah ada di dalam diriku. Runi masih bayi merah di dunia yang belum ia pahami. Aku memandanginya tanpa henti. Sungguh, mungkin jika orang lain melihatku saat itu, mereka mengira aku kurang tidur atau hampir kehilangan akal. Tapi saat itu, di kamar sederhana itu, aku hanya seorang ibu yang terpesona oleh ciptaan Alloh SWT.

 

Kupandangi wajahnya yang mungil, jemarinya yang lebih kecil dari angin, napasnya yang seperti doa. Aku mengucap syukur tanpa jeda. Setelah sekian lama hatiku membeku, perlahan ia mencair. Retakan-retakan dingin di dada ini mulai ditempeli hangat oleh senyum yang bahkan belum sempurna.

 

“Terima kasih, ya Allah,” bisikku berkali-kali. “Terima kasih atas keajaiban kecil ini.”

 

Dan saat itu aku tahu: akhir tahunku tak akan pernah sama lagi.

 

Tahun berikutnya, aku menepati janji yang dulu hanya imajinasi. Aku mengajaknya membakar ikan atau ayam, bersama kakek dan neneknya—orang tuaku. Api kecil menyala di halaman, asap mengepul ke langit yang memerah, dan tawa, meski sederhana, terasa lebih meriah dari pesta mana pun. Tak ada musik besar, tak ada pesta mewah. Hanya kami, api, dan aroma bumbu yang meresap ke daging dan ke kenangan.

 

Yang dulu hanya wacana, kini selalu terealisasi.

 

Itulah keajaiban terbesarku: konsistensi kecil yang penuh cinta.

 

Aku sadar, aku mungkin tak bisa memberikan formasi keluarga yang utuh seperti kebanyakan orang—ayah dan ibu dalam satu bingkai. Tapi aku bersumpah dalam hati, Runi akan merasakan cinta yang utuh. Bukan cinta sisa, bukan cinta pinjaman. Cinta seutuh jiwa dari seorang ibu yang memilih waras. Dari seorang perempuan yang lebih memilih perlindungan dan kejujuran dibandingkan keterpaksaan berdalihkan “keluarga”.

 

Suatu hari nanti, Runi akan mengerti. Ia akan paham bahwa keputusan-keputusan dalam hidup ini bukan soal ego, tapi soal keberanian menjaga hati agar tetap hidup. Ia akan tahu bahwa ibunya memilih berdiri sendiri, bukan karena tak sanggup berbagi, tapi karena ingin memberi yang paling murni: ketulusan tanpa drama palsu.

 

Hari ini, ketika aku membuka Google Foto dan melihat deretan kenangan, aku tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu tak terasa kosong. Di setiap gambar, aku menemukan diriku yang perlahan pulang ke rumahnya sendiri. Rumah yang dulu terasa tak ada, kini tumbuh dari dalam: hangat, hidup, bernama cinta.

 

“Oh, iya, ya,” gumamku pelan. “Sejak ada Runi… lubang besar itu mulai terisi. Tidak lagi dingin. Tidak lagi sepi.”

 

Dan di sanalah, aku berdiri—di ambang tahun baru, di ambang masa depan—tak lagi sendirian. Ada sepasang mata kecil yang menatapku sebagai dunia pertamanya. Ada tangan mungil yang menggenggam jariku, seolah berkata, Mama, sekarang kita pulang bersama.

 

Akhir tahun tak lagi tentang kehampaan.

Ia kini tentang syukur.

Tentang harapan.

Tentang Runi.

 

Dan tentang aku—yang akhirnya kembali hidup.

 

---

 

Aku tak lagi iri pada perayaan orang lain, karena akhirnya aku mengerti: tak semua kehangatan datang dari keramaian. Ada yang lahir diam-diam, dari luka yang dibiarkan sembuh, dari pilihan yang tak populer, dari doa yang dipanjatkan tanpa saksi. Dan Runi adalah jawabannya—bukan sebagai penambal kekosongan, tapi sebagai cahaya yang mengajarkan bagaimana caranya hidup kembali.

 

Jika suatu malam nanti ia membaca ini, biarlah ia tahu: ibunya pernah sangat sepi, tapi tak pernah menyerah. Ibunya pernah nyaris membeku, tapi memilih tetap bernapas. Dan di setiap akhir tahun yang kini kami lalui bersama, di antara aroma ikan atau ayam bakar yang sederhana, ada satu hal yang tak pernah lagi kuragukan—bahwa hidup, sekeras apa pun jalannya, tetap layak diperjuangkan bila cinta dan kasih sayang yang tulus menjadi alasnya.

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---

Seorang perempuan bergaun ungu duduk bersandar di bawah pohon berbunga, di tengah padang rumput dan bunga liar, dalam suasana tenang dan sepi.
Dulu sepi, kini bermakna - Blog Cerita Kemuning


Tidak ada komentar:

Posting Komentar