![]() |
| Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning |
BAB 1 — Ruko yang Menjaga dan Membesarkanku
Ada orang yang tumbuh besar di rumah mewah
Ada yang di rumah makan
Ada juga yang di rumah kontrakan
Dan aku?
Aku tumbuh besar di sebuah ruko yang selalu hidup—bahkan saat aku ingin tidur pun dia masih bergeliat seperti bayi lapar.
Ruko itu bernama Toko Sembako Santosa, walau Mama lebih sering menyebutnya sebagai “tempat rezeki yang harus disyukuri dalam keadaan apa pun.” Dari kecil aku tidak pernah benar-benar mengerti betapa seriusnya kalimat itu. Aku baru paham setelah dewasa, setelah melihat betapa keras dunia di luar pintu rolling door kami.
Ruko kami berada di pinggir jalan yang jadi semacam urat nadi bagi kampung besar yang menempel di belakangnya. Jalan itu menghubungkan gang ke gang, lorong ke lorong, kos-kosan ke warung kopi, dan orang-orang ke masalah mereka masing-masing. Pokoknya, kalau ada orang hilang arah, jalan depan ruko kami bisa dibilang GPS alami.
Dari pagi sampai malam, suara kendaraan tidak pernah berhenti. Motor lewat seperti anak panah, mobil klakson seenaknya, bapak-bapak tukang sayur berteriak setengah hati menjual kangkung dan kol, sementara ibu-ibu dari gang sebelah datang belanja sambil naruh satu dua gosip di keranjang belanja Mama.
Dari kecil aku sudah terbiasa tidur ditemani suara “ngeng-ngeng” mesin kendaraan, suara pedagang lewat, suara orang cekikikan dari kontrakan, sampai suara sandal jepit yang seret melewati depan toko. Orang lain mungkin butuh white noise untuk tidur—aku punya noise penuh warna yang disediakan kota.
Kota ini tidak pernah
tidur.
Dan ruko kami pun ikut semangat begadang bersama.
---
Toko sembako kami menempati lantai pertama. Lantai dua? Itu rumah kami.
Tangga sempit di belakang rak mie instan menjadi pembatas antara hidup yang ramai… dan hidup yang lebih ramai. Jangan harap lantai dua membuat kami lebih tenang, karena suara dunia tak mengenal sopan santun.
"Namanya juga di kota, Mala," kata Bapak suatu malam ketika aku mengeluh tidak bisa tidur. "Kalau mau sunyi, pindah ke bukit."
"Terus Mama jualan ke siapa, Pak? Ke kambing?"
Bapak tertawa, senyum yang membuat pipiku hangat.
Bapak itu seperti tempat sampah emosiku—semua kekhawatiran, ketidaknyamanan, atau pertanyaan filosofis ala remaja kelas dua SMA bisa dia tampung tanpa menetes sedikit pun.
Mama?
Ah, itu urusan lain.
Ceu Hayati—nama lengkapnya Hayati Sundari Santosa—adalah perempuan Sunda yang lincah seperti kalau hidup ini adalah kompor gas, dia tombol ON. Tidak pernah diam. Tidak pernah kehabisan energi. Tidak pernah kehabisan kata juga. Kadang aku curiga Mama punya tenaga cadangan dari alam gaib.
“Tuh Mala, bantuin Mama tata galon. Jangan banyak duduk nanti lemak nemplok,” katanya sambil mengangkat dua kardus mie instan seperti mengangkat keranjang buah.
Aku, yang montok dan lembut hati, cuma bisa menerima nasib sambil nyengir pahit.
“Ma, aku ini bukan lemak. Aku ini harapan keluarga.”
Mama mendelik sambil tertawa. “Harepan apa? Harepan bisa ngabisin lauk paling cepet?”
Humor Mama tajam tapi hangat.
Cocok untuk membesarkan anak perempuan yang gampang sensi seperti aku.
---
Orang-orang suka bilang aku cantik “kalau kurusan sedikit.”
Tapi Bapak selalu bilang aku cantik bahkan saat aku bangun tidur dengan rambut seperti barisan prajurit kalah perang.
“Mala itu turunan kuat,” kata Bapak sambil menyendok nasi ke piring. “Mama orang Sunda, Bapak orang Jawa. Dua budaya campur jadi kamu. Itu artinya kamu bisa lembut, bisa tegas, bisa apa aja.”
Mama menyahut dari dapur.
“Asal jangan campur sama malas aja!”
Aku menaikkan alis. “Ma, aku rajin. Cuma sering ngantuk.”
“Ya itu namanya malas, Neng.”
Percampuran Sunda–Jawa bukan cuma soal nama panggilan—Ceu Hayati, Kang Yudha—tapi juga soal kebiasaan. Mama suka bicara cepat, Bapak suka bicara pelan. Mama suka termotivasi kalau lihat dagangan cepat laku. Bapak termotivasi kalau lihat aku makan sambil tersenyum.
Sungguh rumah yang absurd tapi penuh kasih.
---
Sejak kecil aku terbiasa bermain sambil mendengar suara orang tawar-menawar.
“Ceu, ini telurnya bisa kurang gak?”
“Dah murah teh. Di pasar lebih mahal, ah.”
Atau anak-anak kecil yang teriak,
“Malaaa! Main engklek di depan!”
Aku kecil sering lari-larian sambil bawa roti yang belum dibayar. Mama akan menyusul sambil teriak,
“Malaa! Itu roti pelanggan! Kamu mau dimakan Mama?!”
Ruko ini membuatku tumbuh sebagai anak yang tidak manja tapi… ya, sedikit rapuh saat soal omongan orang. Karena di sini, kata-kata itu terbang di udara seperti debu—mereka bisa masuk ke hidungmu tanpa izin.
Dari kecil aku sering dengar orang berkomentar:
“Anaknya Ceu Hayati montok ya?”
“Lucu, tapi kasihan. Nanti gede susah cari jodoh.”
Mama selalu menjawab dengan santai:
“Jodoh mah bukan urusan Ibu-ibu. Urusan Gusti Allah.”
Tapi bagaimanapun santainya Mama, suara-suara itu tetap masuk ke kepalaku.
Dan tumbuh bersama aku.
---
Tetangga kami banyak dan unik. Ada Bu Mirna yang kalau ketawa suka batuk dulu. Ada Bu Euis yang suka gosip tapi hatinya lembut. Ada Bu Rasti yang tiap hari pakai daster berbeda, warna ngejreng semua. Dan semua ibu-ibu itu punya satu kesamaan:
Mereka cerewet.
Suatu pagi, aku ikut Mama belanja ke tukang sayur. Jalan masih basah habis disiram warga, udara masih sejuk, tapi mulut orang sudah hangat.
“Ceu Hayati, Mala itu sudah besar ya sekarang,” kata salah satu ibu.
“Iya, Bu.”
“Eh tapi belum ada yang ngapel ya?”
Mama tersenyum tipis, sopan seperti selalu. “Belum lah, Ibu. Anak saya mah fokus sekolah dulu.”
Ibu itu mengangguk, tapi matanya nakal.
“Ah, apa gara-gara Mala gendut?”
Diam sejenak.
Buang kusut di udara.
Lalu Mama menjawab tanpa goyah:
“Yang penting anak saya sehat lahir batin. Hatur nuhun ya Bu, saya duluan.”
Ia pergi sambil menarik keranjang belanja, meninggalkan tiga ibu-ibu yang saling melirik seperti baru selesai menggosok bel yang basi.
Aku, yang berdiri di belakang Mama, menghela napas.
Kadang aku ingin jadi ninja yang bisa hilang dalam asap.
Tapi apa boleh buat—aku Mala, 17 tahun, bertubuh montok, hidup di kota besar yang suka ikut campur.
---
Setiap Sabtu Bapak libur. Itu hari favoritku.
Bapak selalu bangun lebih pagi dariku, membuat teh manis dan kadang menggoreng pisang (gorengan adalah musuhku sekaligus sahabatku). Kami duduk di ruang tengah lantai dua, dekat jendela kecil yang menghadap jalan.
“Mala,” katanya pelan. “Kamu jangan masukin kata-kata orang ke hati. Nanti hati kamu sesek.”
“Aku gak sesek, Pak.”
“Lalu kenapa ngomongnya pelan begitu? Kayak ayam kedinginan.”
Aku menunduk, tersenyum.
Bapak itu penyembuh tanpa obat. Dari kecil sampai sekarang.
“Kamu cantik, Mala. Montok itu bukan dosa. Yang salah itu manusia yang ngomong seenaknya.”
Aku tertawa kecil. “Kalau aku mau diet, Bapak marah?”
“Diet boleh. Yang penting kamu mau, bukan karena orang lain nyuruh. Hati kamu itu milik kamu, bukan milik mulut orang.”
Kalau Bapak adalah buku, aku pasti akan baca ulang sampai halaman terakhir. Pernah aku bertanya, kenapa Bapak bisa begitu sabar?
“Karena Mama kamu cerewet, Mala. Salah satu dari kita harus waras.”
Aku tertawa sampai perut sakit.
---
Ritme harian kami sederhana tapi padat.
Pagi: buka toko, sapu halaman, bereskan telur, susu, minyak, mie instan.
Siang: Mama masak, kalau hari libur aku bantu bungkus belanjaan pelanggan.
Sore: aku pulang sekolah, bantu lagi di toko.
Malam: tutup toko, makan, belajar, nonton film superhero, tidur dengan suara kendaraan menjadi lullaby.
Toko ini mengajarkan kedisiplinan tanpa perlu alarm.
Setiap hari ada yang harus dikerjakan, entah bantu angkat galon atau menghitung stok sabun.
Aku suka bagian menghitung sabun.
Karena wangi.
Dan aku suka bagian nonton film.
Karena itu pelarianku.
Mau dibilang berisi, montok, gemuk, gembul—film superhero selalu membuatku merasa aku bisa jadi apa saja. Bahkan jadi pahlawan. Bahkan kalau cuma di imajinasi.
---
Di masa pubertas, tubuhku berubah lebih cepat daripada aku sempat memprosesnya. Pipi makin bulat, paha makin besar, baju makin sempit. Mama? senang bukan main.
“Neng, kamu makin cantik. Gak mau Mama lihat kamu kurusan. Sakit hati nanti.”
Aku tahu itu trauma Mama—ketika aku kecil pernah sakit typus dan kurus parah. Mama waktu itu hampir tidak tidur selama seminggu karena takut kehilangan aku. Trauma tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Dalam kasus Mama, berubah jadi ketakutan melihat putrinya terlalu kurus.
Tapi sebagai remaja, aku punya kekhawatiran level baru:
“Apa cowok bakal suka cewek montok kayak aku?”
“Apakah aku cukup menarik?”
“Apa orang bakal lihat aku dulu… atau lihat badanku dulu?”
Pertanyaan itu muncul saat aku sendirian, biasanya ketika aku menatap cermin atau saat baca komentar teman di sekolah.
Tapi begitu pulang ke rumah dan melihat ruko, melihat Mama dan Bapak, melihat kesibukan keluarga kecil kami…
rasanya pertanyaan itu seperti asap. Ada, tapi tidak menggangu kalau tidak dihirup.
---
Aku mungkin tumbuh dengan gosip sebagai latar suara, tapi aku juga tumbuh dengan cinta sebagai benteng.
Mama mencintai dengan cara cerewet.
Bapak mencintai dengan cara diam tapi dalam.
Aku mencintai keduanya dengan cara sederhana: pulang cepat, bantu di toko, memasak yang aku bisa, mencuci piring tanpa disuruh.
Rumah ini terasa hidup—dengan segala keributannya, aku merasa dijaga. Seolah tembok ruko ini mengerti aku lebih dari aku mengerti diriku.
Di sinilah aku
tumbuh.
Di sinilah aku
belajar bertahan.
Di sinilah aku mulai
mengenali siapa sebenarnya diriku.
Dan kelak… di sinilah
juga aku menemukan kekuatan untuk berubah.
Perjalanan itu belum dimulai.
Tapi ia sudah mengetuk pintu pelan-pelan.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar