Penggembala dari Dua Dunia - 8

Ilustrasi dua tokoh di padang rumput tepi Sungai Cimanuk saat senja. Seorang pemuda bernama Candrakara mengenakan baju putih biru muda dan kain batik biru berdiri membelakangi Batari, perempuan berkebaya merah bersanggul bunga melati. Di langit tampak cahaya jingga dan bulan utuh — simbol pertemuan dua dunia.
Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning

 

Bab 8 – Makam di Tengah Taman Bunga

 

Embun pagi masih menempel di ujung daun bambu ketika Candrakara kembali ke tempat di mana istana tua itu pernah berdiri. Kini, tak ada lagi kesunyian yang menakutkan. Hanya suara burung-burung kecil dan aliran sungai yang berkilau di bawah matahari muda. Di tengah reruntuhan yang kini mulai bersih, telah terbentuk satu lingkar taman kecil — makam Batari, tempat kepergian disulap menjadi kedamaian.

 

Candra membawa cangkul kecil di tangan, seikat bibit melati, dan beberapa batang mawar merah serta aster putih yang diambil dari halaman rumahnya. Ia melangkah perlahan, menapaki jembatan kayu mungil yang ia buat sendiri dari potongan bambu dan tali ijuk, menyeberangi aliran sungai yang dangkal.

 

Setiap langkahnya terasa seperti doa. Setiap tanamannya, seperti bisikan lembut untuk jiwa yang telah tenang.

 

---

 

Di halaman rumah, Ki Wreda memperhatikan anaknya dari kejauhan. Wajah tuanya teduh, ada kelelahan yang lama, tapi juga sesuatu yang belum pernah tampak sebelumnya — rasa percaya.

 

“Dia sudah bukan bocah lagi,” katanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

 

Sang istri, Nyi Raras, mendekat sambil membawa kendi air dan seikat daun sirih. “Dulu waktu aku melahirkan dia,” ujarnya lirih, “aku sempat bermimpi... ada cahaya turun di depan rumah ini. Aku kira itu cuma bunga tidur. Ternyata mungkin itu pertanda, ya, Ki?”

 

Ki Wreda tersenyum samar. “Mungkin juga, Nyi. Mungkin sejak dulu, takdir memang sudah menandai anak kita.”

 

---

 

Hari itu, Candrakara akhirnya meminta izin dengan tenang. Di hadapan kedua orang tuanya, ia bersimpuh di beranda rumah, mengenakan pakaian putih sederhana, rambutnya terikat rapi, dan cincin emas berukir di jari manis tangan kanannya berkilau halus di bawah sinar pagi.

 

“Ibu, Ayah…” suaranya rendah namun mantap. “Aku ingin memohon izin. Aku sudah menyempurnakan kepergian Putri Batari Melati… dan cincin pusaka itu kini berada padaku.”

 

Nyi Raras menatap cincin di tangan anaknya dengan mata membesar. “Candra… dari mana kau mendapatkannya?” suaranya nyaris berbisik, antara kagum dan cemas.

 

“Dari tangan Batari sendiri,” jawab Candra lembut. “Ketika malam purnama itu… beliau menyerahkan cincin ini. Dan bersamaan dengan itu, aku bertemu penjaganya — Nyi Lembayung.”

 

Ki Wreda menatap anaknya tajam, seperti ingin memastikan bahwa yang ia dengar bukan sekadar khayal. “Nyi Lembayung? Bukankah dia… jin penjaga istana itu?”

 

Candra mengangguk pelan. “Benar, Ayah. Tapi beliau bukan makhluk jahat. Ia penjaga setia Batari, dan kini, setelah cincin ini diwariskan padaku, beliau menjadi penjaga keluargaku… dan keturunan perempuanku kelak.”

 

Keheningan turun sejenak. Hanya suara angin melewati sela daun pisang di belakang rumah.

 

“Ayah dan Ibu,” lanjut Candra, “aku ingin memperkenalkan beliau. Tapi jangan kaget. Beliau sudah berjanji akan menampakkan wujudnya yang lembut, agar tidak menakutkan.”

 

Nyi Raras saling pandang dengan suaminya. Ada getar halus di tangan wanita itu. “Baiklah, Nak. Kalau itu yang kau anggap benar… kami percaya.”

 

---

 

Udara tiba-tiba menjadi sejuk. Aroma melati samar mengambang di udara. Di antara bayangan pepohonan, muncul sosok perempuan berjubah merah — Nyi Lembayung. Wajahnya lembut, seperti wanita paruh baya yang penuh kebijaksanaan, rambutnya tersanggul rapi, dan mata hitamnya berkilau seperti telaga di malam hari.

 

Nyi Raras tersentak kecil, tapi tidak berteriak. Hanya menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mengalir tanpa sadar.

Ya Dewa… aku kira makhluk halus selalu menakutkan. Tapi engkau…” suaranya bergetar, “…engkau tampak seperti ibu yang penuh kasih.”

 

Nyi Lembayung menunduk dalam. “Hormat saya pada Nyi Raras dan Ki Wreda, ibu dan ayah dari Tuan Muda Candrakara,” katanya dengan suara yang dalam namun lembut. “Saya datang bukan untuk menakuti, melainkan menjaga. Sejak malam purnama itu, tugas saya berpindah pada garis keturunan rumah ini.”

 

Ki Wreda yang dari tadi menahan napas akhirnya bersuara. “Kalau begitu… kau bukan musuh kami?”

 

“Saya tak pernah berniat menjadi musuh, Ki,” jawab Nyi Lembayung. “Saya penjaga dari rasa cinta yang dulu tertinggal di dunia manusia. Kini tugas saya adalah melindungi Tuan dan darahnya — hingga waktu menuntaskannya.”

 

---

 

Setelah beberapa lama berbincang, Nyi Raras membawa air dan sesajen sederhana — bunga tujuh rupa, dupa kecil, dan air dari kendi. “Kalau begitu, biarkan aku membantu menata makam itu,” katanya. “Seorang perempuan pasti ingin kepergiannya tetap indah.”

 

Ki Wreda mengangguk pelan. “Aku juga akan ikut. Mungkin sudah waktunya aku berhenti melihat anakku dari jauh dan mulai percaya padanya.”

 

Candra tersenyum kecil, lega, seperti beban besar di dadanya runtuh. “Terima kasih, Ayah, Ibu.”

 

---

 

Hari itu, mereka bertiga — Candrakara, Ki Wreda, dan Nyi Raras — bersama Nyi Lembayung yang berjalan sedikit di belakang, menuju reruntuhan lama itu. Matahari siang menyorot lembut di sela pepohonan, dan sungai yang membatasi tempat itu kini mengalir jernih.

 

Candra mulai menggali tanah di sisi timur, membuat batas melingkar dari batu-batu putih yang diambil dari tepi sungai. Di tengah lingkar itu, ia menata bunga melati, mawar merah, dan aster putih dengan pola spiral, seperti lambang putaran kehidupan.

 

Nyi Raras menaburkan air bunga sambil berdoa dalam hati. Ki Wreda menancapkan sebatang kayu kecil sebagai tanda, lalu berkata lirih,

“Di tempat inilah cinta berakhir… dan takdir diteruskan.”

 

Nyi Lembayung berdiri di dekat air, menatap dalam diam. Aura di sekelilingnya bergetar lembut, seperti melantunkan doa tak bersuara untuk tuannya yang telah pergi.

 

---

 

Sore itu, langit berubah jingga. Setelah semua selesai, Candra duduk di tepi makam, menatap taman kecil itu. Kini tampak seperti taman kerajaan kecil — rapi, penuh warna, tapi tetap sederhana.


Ia menguburkan Batari dengan keheningan yang khidmat dan penuh ketulusan, serta doa yang mengalir lembut dari hatinya.

 

“Ibu,” katanya pelan, “Batari dulu selalu memakai bunga-bunga ini di sanggulnya. Aku ingin ia tetap cantik di tempat peristirahatannya.”

 

Nyi Raras mengusap bahu anaknya. “Kau anak baik, Nak. Ibumu bangga. Tapi… jangan terlalu lama bersedih, ya. Kadang, cinta sejati justru mengajarkan cara melepaskan.”

 

Candra mengangguk, menatap ke tanah. “Aku tahu, Bu. Aku sudah belajar dari Batari — bahwa cinta yang tulus tidak selalu harus dimiliki, tapi dijaga agar tetap suci.”

 

Ki Wreda menepuk bahu putranya. “Aku dulu takut kau akan tersesat dalam perasaan itu, Candra. Tapi sekarang aku tahu — kau justru menemukan dirimu lewat cinta itu.”

 

Candra menoleh, tersenyum tipis. “Terima kasih, Ayah. Aku tak lagi takut. Aku hanya ingin menjaga apa yang sudah dipercayakan padaku.”

 

---

 

Malam menjelang. Bulan purnama mulai naik, dan angin malam membawa aroma melati dari taman kecil itu. Nyi Lembayung menampakkan diri sejenak dalam cahaya lembut.

 

“Tuan,” katanya, “tugas pertama sudah selesai. Putri Batari telah tenang di peraduannya. Kini giliran Tuan menata kehidupan dunia Tuan sendiri.”

 

Candra memandangi makam itu satu kali lagi. “Aku akan menjaganya, Nyi. Sama seperti engkau menjaga tuanmu dulu.”

 

Nyi Lembayung menunduk dalam. “Saya bersyukur bisa berada di sisi Tuan. Semoga Sang Hyang Widhi memberi jalan yang terang bagi keduanya.”

 

---

 

Di langit, bulan bersinar penuh. Di bawahnya, taman itu berkilau seperti taman dewa — bunga-bunga melati menebar harum, dan di atas pusara Batari, seekor kupu-kupu putih melayang tenang sebelum lenyap ke arah sungai.

 

Candrakara menatapnya, lalu berkata perlahan,

“Selamat jalan, Batari… kau telah kembali pada cahaya, dan aku akan terus menanam kenanganmu di sini.”

 

Ia menunduk, menepuk tanah perlahan, seperti menepuk bahu seseorang yang sedang tidur. Dan malam itu, taman bunga di atas makam Batari menjadi saksi: bahwa dari kehilangan yang paling dalam, tumbuh cinta yang paling abadi.

 

---

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar