![]() |
| Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning |
Bab 7 – Di Bawah Cahaya Cincin
Langit malam masih dipenuhi sisa cahaya bulan purnama yang menggantung tepat di atas kepala Candrakara. Sungai di hadapannya memantulkan sinar lembut itu, berkilau seperti lelehan perak yang mengalir pelan. Hening — tak ada suara kecuali desir angin dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu keras di telinganya.
Di permukaan air, bayangan Batari perlahan menampakkan diri. Wajahnya pucat namun teduh, seolah terbentuk dari cahaya bulan itu sendiri. Sanggul rambutnya yang penuh bunga tampak kokoh di bawah aliran air, dan dari jari manis tangan kanannya tampak cincin emas berukir yang pernah membuat Candra tertegun — kini memantulkan cahaya yang tak biasa, lebih hangat, lebih hidup.
Candra menatap lekat, seolah takut bayangan itu lenyap jika ia berkedip.
“Batari...” bisiknya hampir tak terdengar, “apakah ini... perpisahan kita?”
Bayangan itu tidak segera menjawab. Hanya gerakan halus tangan Batari yang membuat riak lembut di air, menciptakan lingkaran cahaya yang merambat ke tepi sungai. Dari dalam riak itu, sinar keemasan perlahan muncul, membentuk cincin yang sama — pusaka warisan Putri Batari Melati.
Namun sebelum cincin itu benar-benar keluar dari air, seberkas cahaya menembus mata Candra. Dalam sekejap, pandangannya berputar — dunia di sekitarnya mengabur, berganti dengan bayangan masa silam.
---
Ia melihat sebuah istana megah berdiri di tengah taman yang dipenuhi bunga melati dan mawar merah. Di atas menara tertinggi, bendera kerajaan berkibar — bergambar bulan sabit dan matahari, lambang keseimbangan antara cahaya dan gelap. Namun, suasana damai itu tiba-tiba terguncang.
Teriakan para prajurit terdengar di kejauhan. Api membubung, suara denting senjata memecah malam. Candra melihat sosok perempuan muda berlari di lorong istana, napasnya terengah, sanggul rambutnya berantakan — itulah Putri Batari Melati, di masa hidupnya.
“Batari, cepat ke kamar Ibu!” teriak suara perempuan dari arah berlawanan. Itu suara Sang Ratu — wajahnya tegas meski ketakutan jelas terlihat di matanya. Ia menuntun putrinya masuk ke ruangan yang dindingnya dipenuhi ukiran bunga dan mantra pelindung.
“Ibu... jangan tinggalkan aku,” suara Batari Melati bergetar.
Sang Ratu menatap putrinya lembut, lalu menangkup wajahnya. “Kau adalah harapan terakhir garis keturunan kami. Jika takdir menuntut kami pergi, kau harus hidup — bahkan bila sebagai rakyat biasa.”
“Ibu—”
Sang Ratu menutup mulut anaknya dengan telunjuk, air matanya mulai jatuh. “Ingatlah, Nak. Cincin leluhur yang kau kenakan... lindungilah. Karena di dalamnya tersimpan doa seluruh darah keturunanmu.”
Batari Melati menunduk. Tangannya gemetar saat Sang Ratu menutup tubuhnya dengan selimut merah dan mengunci pintu ruangan itu dari luar.
“Tunggu Ibu...”
Namun hanya dentuman keras dan suara pedang beradu yang menjawab.
Candra — yang melihat dari kilasan masa lalu itu — ingin berteriak, ingin berlari menolong, tapi tubuhnya seperti tertahan di antara dua waktu. Ia hanya bisa menyaksikan tragedi itu dengan dada sesak.
Suara benturan makin dekat. Pintu kamar tempat Batari bersembunyi berguncang hebat, debu berjatuhan dari langit-langit. Lalu segalanya runtuh — dinding, batu, dan tiang-tiang besar menimpa tubuh Putri Batari Melati sedang menggenggam tangan kanan yang memakai cincin itu di dada. Cahaya terakhir yang ia lihat adalah cahaya bulan menembus celah reruntuhan.
---
Kilasan itu lenyap seketika.
Candra terlonjak, napasnya memburu. Ia kembali duduk di tepi sungai, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Dari air yang beriak lembut, bayangan Batari memandangnya sayu.
“Sekarang kau tahu segalanya,” suaranya lembut tapi penuh gema, seperti berasal dari dua dunia sekaligus. “Aku telah menunggu seseorang yang bersih hatinya, yang tak gentar melihat kebenaran dan kesedihan dalam satu pandangan.”
Candra hanya bisa menatap, dadanya terasa sesak. “Dan aku... orang itu?”
Bayangan Batari tersenyum samar. “Bukan karena darahmu, tapi karena jiwamu, Candrakara.”
Riak air bergemerlap, dan dari telapak tangan Batari yang terangkat perlahan keluar cahaya keemasan — cincin itu. Ia menatapnya sejenak, lalu melepaskannya ke permukaan air. Cincin itu terombang-ambing, lalu melayang perlahan ke arah Candra, seolah menembus batas antara dunia mereka.
Candra menatap, tak berani bergerak. Tapi ketika cincin itu hampir tenggelam, tangannya otomatis menyambar. Cincin itu dingin — namun anehnya, begitu ia genggam, terasa berdenyut pelan, seperti nadi yang hidup.
Begitu ia mengangkat kepalanya, bayangan Batari sudah menunduk dalam. Sebuah hormat terakhir.
Candra menatap dengan mata berkaca. Ia tahu — ini bukan sekadar salam perpisahan. Ini adalah penyerahan warisan takdir.
“Terima kasih...” suaranya tercekat, “telah mempercayakan sesuatu yang bahkan dunia pun tak mampu memahaminya.”
Batari tersenyum — senyum yang begitu lembut, hampir seperti angin yang menyentuh pipi. Matanya redup, tapi masih ada cahaya cinta yang tulus di sana. Ia mengangkat tangannya sekali lagi, lalu perlahan melepaskan ikatan bunga di sanggulnya: melati putih, mawar merah, dan aster putih — bunga-bunga yang selama ini menemani setiap wujudnya di hadapan Candra.
Bunga-bunga itu terapung, lalu pelan naik ke permukaan air, mengitari cincin yang kini digenggam Candra.
Sebelum lenyap, bibir Batari bergerak — tanpa suara, tapi Candra tahu apa yang ia katakan.
“Jangan menangis.”
Kemudian bayangan itu memudar. Wajahnya larut bersama cahaya bulan, hingga hanya riak air yang tersisa.
---
Candra duduk lama tanpa suara. Ia menatap cincin di telapak tangannya — berukir lembut, dengan huruf-huruf kuno yang memantulkan sinar keemasan. Lalu ia menggenggamnya erat, menatap bunga-bunga yang masih mengapung.
“Selamat jalan, Batari,” bisiknya. “Semoga alam sana lebih tenang daripada dunia yang menunggumu di sini.”
Ia menunduk, mencium ikatan bunga itu, lalu menyimpannya di dada. Setelah beberapa saat, dengan tangan gemetar, ia mengenakan cincin itu di jari manis tangan kanannya. Dan seketika, angin malam berubah arah — seperti menyapa.
Riak air di depannya berguncang pelan. Dari balik kabut putih tipis, muncul sosok Nyi Lembayung. Kini tanpa menyamar sebagai Batari lagi. Wujudnya tinggi dan anggun, mengenakan jubah hitam berkilau, dengan mata yang teduh namun kuat. Ia berjalan di atas air, lalu berhenti beberapa langkah di depan Candra.
“Hormat saya pada Tuan Candrakara,” katanya, suaranya rendah tapi bergetar. “Ruh Putri Batari Melati telah seutuhnya menghadap Sang Hyang Widhi. Kini hamba tidak lagi memiliki izin untuk menyerupai beliau. Maka, izinkan hamba muncul dalam wujud asli hamba.”
Candra menatapnya lama, lalu tersenyum kecil meski air matanya belum kering.
“Jadi... ini wajah dan wujud aslimu, Nyi?”
“Betul, Tuan.”
Ia mengangguk pelan, menatap jubah hitam yang dikenakan Nyi Lembayung. “Bisakah kau ubah warna pakaianmu? Menjadi merah... seperti kebaya Batari.”
Nyi Lembayung menunduk hormat. “Baik, Tuan.”
Sekejap kemudian, jubah hitam itu berubah. Kilau merah darah mawar menyelimuti tubuhnya, lalu berangsur lembut menjadi merah bata seperti kebaya kerajaan. Ikat kepala di dahinya pun berubah menjadi bando merah, menghiasi rambut panjang yang kini terurai indah.
“Begini, Tuan?” tanyanya.
Candra menatapnya, tersenyum lega. “Ya... sekarang, kalau Ibuku — yang kadang bisa melihat hal-hal yang tak tampak — menemuimu, dia tidak akan terkejut atau ketakutan. Terima kasih, Nyi Lembayung.”
“Dengan senang hati, Tuanku.”
Nyi Lembayung menunduk dalam. Angin malam berhenti sejenak, seolah ikut memberi hormat kepada hubungan baru itu — bukan lagi antara manusia dan arwah, tapi antara dua penjaga dunia, yang diikat oleh janji lama dan cinta yang tak padam.
Candra menatap langit. Bulan masih bulat sempurna. Di matanya, ada damai yang baru — damai setelah kehilangan.
Dan di bawah cahaya cincin emas berukir yang kini melingkar di jari manis kanannya, Candrakara resmi menjadi tuan baru bagi Nyi Lembayung — penjaga perbatasan dua dunia.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar