![]() |
| Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning |
Bab 9 – Tangan Bulan
- Warisan dan penjagaan abadi.
- Tentang cinta yang tak hilang — hanya berubah wujud,
menjadi terang.
---
Tahun-tahun berganti tanpa terasa.
Di lembah kecil tempat rumah Candrakara berdiri, musim hujan dan kemarau datang silih berganti. Pohon bambu di tepi sungai semakin tinggi, dan jembatan bambu yang dahulu dibuatnya untuk menyeberangi aliran air kini telah diperkuat batu, menjadi jalan menuju taman kecil yang selalu harum — makam Batari.
Candrakara bukan lagi pemuda kurus yang menatap dunia dengan luka di dadanya. Ia kini dikenal di seluruh lembah sebagai Ki Candrakara Sang Penyembuh — orang yang katanya bisa menuntun jiwa yang tersesat, dan mengobati tubuh tanpa banyak bicara. Orang-orang datang dari desa jauh hanya untuk memohon air tangan dan doa darinya.
Dan setiap kali Candrakara menempelkan telapak tangannya ke tubuh seseorang, cincin emas berukir di jarinya selalu berpendar lembut — cahaya keemasan, kadang seperti pijar bulan, kadang seperti nyala api kecil di tengah malam.
---
Orang-orang sering berbisik, “Itu bukan cahaya manusia biasa.”
Tapi Candrakara hanya tersenyum.
Ia tahu, itu bukan kekuatan dari dirinya semata, melainkan warisan dari cinta yang telah menyeberangi batas dunia.
---
Suatu sore, saat matahari turun perlahan di barat, Nyi Raras duduk di beranda rumah. Rambutnya mulai memutih, tapi sorot matanya masih tajam seperti dulu. Ia memanggil anaknya yang sedang memberi makan ikan di kolam depan rumah.
“Candra…” panggilnya pelan.
Candrakara menoleh. “Ya, Ibu?”
Nyi Raras menatap lama, lalu berkata, “Usiamu tak lagi muda, Nak. Ibu sudah lega melihatmu menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Tapi… Ibu tak ingin kau hidup sendiri.”
Candra terdiam. Ia tahu arah pembicaraan itu.
“Ibu ingin menjodohkanku?” tanyanya perlahan.
Nyi Raras mengangguk. “Ada gadis baik dari desa tetangga. Namanya Sekar Arum. Lembut, rajin, dan pandai menenun. Ibu ingin melihat cucu sebelum waktu ibu habis.”
Candrakara menunduk lama. Di dalam dadanya, kenangan akan Batari masih hidup — lembut, tak membakar, tapi tetap hangat seperti bara yang tak padam. Ia mencintai Batari sepenuh hatinya, tapi ia juga tahu: hidup harus terus berjalan.
“Ibu…” katanya dengan suara pelan, “aku tak bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintai Batari. Tapi… kalau pernikahan ini bisa membuat Ibu tenang, aku akan menerimanya.”
Nyi Raras menatapnya lama, lalu tersenyum dengan air mata di sudut mata. “Itu jawaban yang membuat Ibu lega. Cinta sejati bukan hanya pada satu wajah, Nak. Kadang cinta sejati adalah ketika kita berani melanjutkan hidup dengan hati yang bersih.”
---
Pernikahan itu berlangsung sederhana namun sakral. Di bawah naungan bulan purnama — entah kebetulan atau memang takdir — cincin di jari Candrakara memancarkan cahaya lembut saat ia mengucap janji di hadapan ayah, ibu, dan Sang Hyang Widhi.
Sekar Arum menatap cahaya itu dengan kagum, tapi tidak takut. “Cincin itu indah sekali,” katanya pelan.
Candra tersenyum. “Itu bukan sekadar perhiasan. Cincin ini adalah tanda penjagaan. Dan mungkin, juga pengingat agar aku tak lupa dari mana semuanya bermula.”
---
Tahun demi tahun berlalu, dan rumah Candrakara kini ramai dengan tawa anak-anak. Empat laki-laki dan satu perempuan kecil, yang rambutnya berkilau keemasan di bawah cahaya senja.
Ia menamai putri bungsunya Candraningtyas, artinya “yang kebajikannya seterang sinar bulan.”
Candraningtyas berbeda dari saudara-saudaranya — matanya berwarna coklat muda, seperti Batari dulu, dan sejak kecil ia punya kebiasaan berbicara dengan bunga. Bila malam tiba dan bulan bersinar, gadis kecil itu kerap berdiri di taman, berbicara pelan pada udara. Dan setiap kali itu terjadi, Nyi Lembayung menampakkan diri dari bayangan bambu, tersenyum, menjaga dari kejauhan.
---
Candrakara tak pernah melarang anak-anaknya bermain di taman Batari.
Ia malah sering duduk bersama mereka di bawah sinar rembulan, menceritakan kisah lama — tentang seorang putri yang mencintai dunia terlalu dalam hingga akhirnya menjadi cahaya.
Anak-anaknya mendengarkan dengan takjub, tapi Candraningtyas selalu diam, seolah ia ingat sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Suatu malam, saat Candra hendak menutup pintu, ia melihat anak bungsunya masih duduk di taman, menatap bunga melati yang sedang mekar.
“Ning…” panggilnya pelan.
Candraningtyas menoleh, matanya berkilat seperti terkena pantulan bulan. “Ayah,” katanya lembut, “aku barusan bertemu wanita berjubah merah. Katanya namanya Lembayung. Dia bilang dia sahabat Ayah waktu muda.”
Candrakara terdiam.
“Dan dia bilang,” lanjut anak itu, “aku punya tugas nanti, sama seperti Ayah. Menjaga cahaya.”
Candra mendekat, berlutut di hadapan anaknya, memegang kedua bahunya. “Kalau begitu, dengarkan baik-baik pesan Ayah, Nak. Cahaya itu bukan untuk disombongkan. Itu untuk menerangi, tanpa membakar.”
Candraningtyas mengangguk, matanya teduh. “Aku tahu, Ayah. Cahaya tidak punya niat selain memberi terang.”
Candra mengusap rambutnya perlahan. Di hatinya, ia tahu — takdir sudah mulai berputar lagi.
---
Tahun-tahun kembali bergulir.
Anak-anak Candrakara tumbuh dewasa, satu per satu menikah dan menetap di desa-desa sekitar lembah. Rumah utama menjadi tempat berkumpul, tempat doa, tempat kisah. Sementara Candraningtyas tumbuh menjadi gadis dewasa yang bijak, lembut, tapi tajam pikirannya.
Setiap kali ia berjalan di bawah bulan, cincin di tangan ayahnya berpendar — seperti menyapa pewarisnya yang akan datang.
---
Suatu hari di akhir masa hidupnya, Candrakara duduk di bawah rumpun bambu. Angin sore bertiup lembut, dan bayangan pepohonan memantul di permukaan air. Ia memandang ke arah makam Batari di seberang sungai, kini sudah ditumbuhi bunga melati liar yang merambat indah di batu-batu putih.
Ki Wreda dan Nyi Raras telah lama berpulang. Istrinya, Sekar Arum, sudah lebih dulu meninggalkan dunia beberapa tahun sebelumnya. Kini hanya Candrakara — tua, rambutnya memutih, tapi matanya masih bersinar lembut.
Ia memanggil Candraningtyas mendekat.
“Ning…” katanya pelan, “sini, duduk di samping Ayah.”
Gadis itu datang, membawa kendi air dan bunga. “Ayah mau ke taman?”
“Tidak, Nak. Hari ini Ayah ingin bercerita.”
Candraningtyas duduk tenang. Angin membuat ujung rambutnya berkibar.
“Dulu,” ujar Candrakara lirih, “ayahmu ini pernah mencintai seorang putri. Tapi cintanya tidak berakhir dengan memiliki. Justru dengan kehilangan, Ayah belajar menjaga.”
Ia menatap tangan tuanya, di mana cincin emas itu masih tersemat. “Cincin ini bukan sekadar pusaka, tapi amanah. Dan sekarang, waktunya berpindah padamu.”
Candraningtyas terkejut. “Tapi Ayah… aku belum pantas.”
Candra tersenyum. “Justru karena kau merasa belum pantas, maka kau pantas, Nak.”
Ia menggenggam tangan putrinya, menurunkan cincin itu perlahan ke jari manis Candraningtyas. Seketika, cahaya lembut keluar dari cincin itu, menari-nari di udara seperti benang cahaya bulan. Bunga-bunga di sekitar mereka bergoyang lembut, seolah berbisik: warisan telah diterima.
---
Dalam hening itu, Nyi Lembayung muncul di antara rumpun bambu. Wajahnya masih sama seperti dulu — lembut, tapi penuh wibawa. Ia menunduk dalam pada Candrakara.
“Tugasmu sudah selesai, Tuan,” katanya. “Rantai cahaya sudah berpindah.”
Candrakara tersenyum. “Terima kasih, Nyi. Kau tetap setia sampai akhir.”
“Saya hanya menjalankan titah,” jawab Nyi Lembayung dengan suara lirih. “Dan titah itu adalah cinta yang tak lekang waktu.”
Candraningtyas menatap sosok itu dengan kagum. “Apakah Anda akan menjaga saya juga, Nyi?”
Nyi Lembayung tersenyum lembut. “Selama darahmu mengalir dari Tuan Candrakara, aku akan tetap di sisi kalian.”
---
Sore menjelang malam.
Langit di atas lembah memerah keemasan. Candrakara bersandar di batang bambu, menatap bulan yang mulai naik perlahan.
“Lihatlah, Nak,” katanya pelan, “bulan itu tak pernah berhenti memberi cahaya. Walau purnamanya hilang, ia akan kembali lagi. Begitu juga cinta sejati — kadang redup, tapi tak pernah padam.”
Candraningtyas menggenggam tangan ayahnya, yang kini mulai dingin.
“Tidurlah, Ayah. Aku akan menjaga taman itu, seperti yang Ayah jaga dulu.”
Candrakara mengangguk perlahan. Di sela napas terakhirnya, ia mendengar bisikan lembut yang datang dari arah sungai — suara yang pernah ia dengar puluhan tahun lalu.
- “Aku di sini, Candrakara…
- Aku akan tetap menjagamu.”
Ia tersenyum. Cahaya bulan menimpa wajahnya, dan dunia di sekitarnya menjadi tenang — seolah waktu berhenti untuk memberi penghormatan. Di langit, awan terbuka, dan sinar keperakan menyoroti taman Batari yang kini berbunga sempurna.
Nyi Lembayung menunduk dalam, berbisik pelan,
“Selamat jalan, Tuan. Cahaya telah kembali pada sumbernya.”
---
Beberapa malam kemudian, Candraningtyas berdiri di taman itu sendirian. Ia menatap bunga-bunga melati yang bergoyang lembut diterpa angin. Di jarinya, cincin itu memancarkan cahaya lembut — bukan terang yang menyilaukan, tapi hangat, seperti pelukan dari masa lalu.
Ia berbisik pada udara,
“Ayah, Ibu, Batari, Nyi Lembayung… aku akan menjaga semuanya. Sampai waktuku tiba.”
Dan malam itu, di atas taman kecil yang menjadi saksi cinta, bulan menggantung bulat penuh — tangannya memantulkan cahaya pada cincin emas yang kini menyatukan masa lalu dan masa depan.
Cahaya itu bergetar lembut, seolah berkata:
- Cinta tak pernah berakhir. Ia hanya berubah menjadi terang yang menjaga.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar