![]() |
| Ilustrasi Pak Asma, Bu Asma, dan orang-orangan sawah di kebun jagung - Blog Cerita Kemuning |
Siang di kampung Cibiru itu terik sekali. Langit biru pucat seperti kain sprei yang sudah sering dijemur, sementara angin berdesir pelan membawa bau tanah kering dan daun jagung yang merisik di pinggir pematang.
Di tengah bentangan sawah yang tidak lagi ditanami padi, tampak sepasang suami istri yang sudah sepuh sedang menunduk, memunguti sisa batang kacang tanah.
Namanya Pak Asma dan Bu Asma atau sering dipanggil Aki dan Nini Asma.
Orang-orang di kampung bilang, mereka pasangan yang paling rajin. Walau anak-anaknya sudah pada berumah tangga, mereka masih saja menanam apa pun yang bisa tumbuh di tanah warisan leluhurnya.
“Lumayan buat tambahan sambal rujak sama cucu-cucu,” begitu alasan Nini.
Tahun ini, karena musim kemarau panjang, para petani sepakat tidak menanam padi. Sawah-sawah berubah jadi kebun palawija: ada jagung, ubi jalar, cabai, mentimun, sampai kacang panjang yang menjalar ke mana-mana.
Pak Asma dan Nini pun sepakat menanam kacang tanah, kacang panjang, mentimun, dan cabai keriting.
Tapi Nini menambahkan satu tanaman yang jarang orang lain tanam: kacang gude.
“Soalnya anak-anak suka rujak kacang gude, Ki,” katanya suatu hari sambil menyiangi gulma. “Rasanya pedas keset-keset tapi nagih.”
Pak Asma hanya terkekeh, “Iya, iya, yang penting jangan sampai kebanyakan makan, nanti seret tenggorokan.”
Hari itu, sore menjelang maghrib, mereka masih di kebun. Sinar matahari menurun perlahan, membelah awan kemerahan. Di kejauhan, terdengar suara ayam pulang ke kandang, bersahut dengan kokok ayam jantan yang salah waktu.
“Nini, pulang duluan aja,” ujar Pak Asma sambil mengangkat karung berisi kacang tanah. “Angin mulai kenceng, ini pasti udah mau ganti musim.”
Nini menggeleng. “Ah, gak apa-apa, Ki. Saya tungguin aja sekalian, nanggung, lagian enak anginnya.”
“Ya sudah, tapi nanti maghrib baru kelar. Jangan ngeluh lapar ya.”
“Hehehe, iya.”
Di saung kecil buatan Aki, Nini duduk sambil mengipas wajahnya dengan daun pisang kering. Ia melihat suaminya sibuk memungut batang-batang sisa panen.
---
Menjelang adzan maghrib, mereka baru beres membereskan semua.
Langit mulai ungu, dan suara jangkrik mulai terdengar di sela rerumputan. Pak Asma menggendong karung hasil panen di pundaknya, sementara Nini membawa sabit dan botol air. Mereka berjalan di pematang sawah, menyusuri jalan kecil di antara kebun jagung milik Pak Aep, tetangga sebelah.
Tapi baru beberapa langkah, Nini mendadak berhenti.
Langkahnya kaku, wajahnya mendadak pucat.
“Aki…,” bisiknya pelan, suaranya seperti tertelan angin. “Ada kunti jam segini…!”
Pak Asma sontak menoleh. “Hah, apa? Kunti?”
“Iya, itu tuh…” Nini menunjuk ke arah kebun jagung. “Putih, tinggi, rambutnya kayak… kayak diterpa angin!”
Pak Asma memicingkan mata. Dari sela-sela batang jagung, memang tampak sesuatu berdiri tegak, putih keabu-abuan, berkibar pelan.
“Astaghfirullah, Nini. Belum tentu itu hantu. Bisa aja kain jemuran. Ini masih sore, gak mungkin setan gentayangan.”
“Ih, Aki mah! Waktu juga bukan urusan setan, barangkali itu jelmaan suaminya Ceu Ida, yang mati ketabrak mobil itu, loh. Kepala bocor, katanya!”
Pak Asma menepuk jidat. “Astagfirulloh, Nini. Makin ngaco aja. Mana ada laki-laki mati ketabrak jadi kuntilanak! Kuntilanak itu perempuan!”
“Lah, terus itu apa? Yang putih, tinggi, melayang-layang?”
Angin berembus makin kencang. Daun jagung berdesir, menambah kesan mencekam. Tapi wajah Nini sudah seperti mau pingsan.
“Gini aja, Nini duduk dulu di saung Pak Aep. Aku periksa ke sana.”
“Hah? Saya sendirian di sini?” Nini menggenggam tangan suaminya erat-erat.
“Nih, pegang sabit. Kalau ada yang muncul aneh-aneh, sabit aja kepalanya!”
“Akii…” wajah Nini sudah hampir menangis.
Tapi Aki tetap melangkah pelan, memasuki kebun jagung yang mulai gelap. Setiap langkah menimbulkan suara “kres… kres…” dari daun kering.
---
Di dalam kebun, suasananya berubah sunyi. Hanya suara detak jantung Aki sendiri yang terasa di telinga.
Ia berdoa dalam hati. “Bismillahirrahmanirrahim…”
Badan tua itu menunduk, menyingkap batang jagung, mendekati sosok putih itu perlahan.
Dan ketika jaraknya tinggal beberapa meter—
Aki berhenti.
Matanya membulat.
Lalu… ia menepuk jidatnya sendiri.
“Astagfirulloh, ini mah bukan setan! Ini karung bekas beras!”
Rupanya Pak Aep memasang orang-orangan sawah baru.
Tingginya hampir dua meter, pakai karung plastik bekas beras 25 kg yang dikibaskan angin, sehingga dari jauh tampak seperti sosok putih menjulang. Di bagian kepalanya, Pak Aep menaruh tempurung kelapa, dan ujungnya diberi rambut dari sabut kelapa—jadinya memang mirip kepala berambut panjang!
“Dasar si Aep, kagak bilang-bilang bikin beginian!” gerutu Aki sambil terkekeh geli.
Ia lalu balik arah, bergegas menjemput Nini yang menunggu di saung.
Begitu melihat Aki datang dengan wajah sumringah, Nini langsung berdiri. “Gimana, Ki? Kuntilanaknya udah Aki usir?”
“Hahaha, gak ada kuntilanak, Nini! Itu cuma orang-orangan sawah buatan si Aep. Pakai karung bekas beras, makanya kelihatan melambai.”
Nini melongo. “Hah? Cuma itu?”
“Hehe iya. Saking gede karungnya, kalau kena angin jadi kayak terbang.”
“Aduh, malunya saya! Saya udah deg-degan dari tadi!”
Pak Asma tertawa terpingkal. “Hahaha, kamu tuh emang kebanyakan nonton sinetron hantu sore-sore!”
Nini cemberut tapi akhirnya ikut tertawa.
“Ya sudah, Aki, jangan dibahas lagi. Ayo pulang, keburu adzan.”
Mereka pun berjalan pulang menyusuri pematang, masih sambil tertawa-tawa kecil. Dari jauh, suara adzan maghrib terdengar, lembut dan menenangkan.
---
Sesampainya di rumah, mereka membereskan perkakas dan bergantian mandi. Setelah itu sholat maghrib berjamaah, lalu makan malam sederhana: nasi, tumis kangkung, tempe goreng, dan sambal terasi buatan Nini yang jadi favorit Aki.
“Hmmm… pedesnya pas, Nini. Sambel buatanmu gak pernah gagal.”
“Hehehe, ya iyalah, udah puluhan tahun bikin sambel, masa gak bisa-bisa.”
Mereka tertawa bersama.
Udara malam mulai dingin. Angin dari kebun belakang bertiup membawa aroma tanah dan suara jangkrik. Lampu teplok di dapur bergoyang halus.
Nini menatap wajah suaminya yang mulai renta tapi masih gagah. “Aki, tadi saya beneran kaget loh. Saya kira itu beneran kunti.”
Pak Asma tersenyum lembut. “Hehe, wajar, Nini. Namanya juga manusia. Kadang yang kita takutkan itu cuma bayangan pikiran sendiri.”
Nini mengangguk, lalu tertawa kecil. “Tapi rambutnya dari sabut kelapa itu, mirip banget.”
“Iya, makanya nanti kalau ketemu Pak Aep, saya bilangin, jangan bikin orang jantungan.”
Mereka membereskan piring, menyalakan dupa kecil agar dapur tidak bau minyak, lalu bersiap tidur.
---
Sekitar tengah malam, angin bertiup lebih kencang.
Karung plastik di belakang rumah berisik, menepuk-nepuk tiang bambu.
Nini terbangun sejenak, menggeliat pelan. “Ki… denger gak? Kayak ada suara di kebon.”
“Heh, itu angin, Nini. Tidur aja.”
“Kayak… suara karung bekas beras ditiup angin.”
“Ya iya, itu juga si Aep punya orang-orangan sawah, kena angin makanya bunyi.”
Nini mengangguk setengah sadar, lalu kembali memejamkan mata.
Tapi di luar jendela, di bawah cahaya rembulan pucat, orang-orangan sawah itu tampak berdiri di tempat yang berbeda.
Angin berembus membuat karung plastiknya berkibar pelan.
Dan entah dari mana, terdengar suara lirih—
seperti tawa kecil yang tertelan angin malam.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar