![]() |
| Ilustrasi remaja putri sedang duduk di ruangan penuh bunga - Blog Cerita Kemuning |
Waktu aku kecil, aku sering bingung setiap kali ada tamu datang ke rumah. Entah kenapa, suasana rumah yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah jadi seperti pasar sore — ramai, sibuk, dan penuh suara gelas beradu.
Biasanya, semuanya bermula dari satu kalimat sederhana:
© “Nak, itu ada tamu. Sini, salaman dulu.”
Dan seperti tombol ajaib, semua orang di rumah langsung bergerak.
Nenek keluar dari dapur, Mama buru-buru merapikan jilbabnya, dan aku yang baru saja pulang sekolah cuma bisa melirik ke arah ruang tamu dengan wajah setengah lelah, setengah penasaran.
Goah, Kamar Rahasia yang Ajaib
Nah, bagian yang paling aku heran waktu kecil itu justru bukan tamunya, tapi kamar goah di rumah kami.
Buat yang belum tahu, goah ini semacam kamar rahasia — bukan untuk tidur, tapi buat menyimpan segala macam “stok kehidupan rumah tangga”: karung beras, minyak goreng, susu kaleng, sirup botolan, sampai kue kaleng yang cuma dibuka saat Lebaran atau… ya itu, kalau ada tamu datang mendadak.
Aku masih ingat betul waktu pertama kali Mama membuka pintu goah di hadapanku. Wangi manis sirup bercampur bau kayu lemari memenuhi udara.
Aku langsung nyeletuk, “Mah, ini kenapa nggak diminum aja? Kan enak.”
Mama cuma senyum. “Itu buat tamu, Nak. Biar kalau ada yang datang, bisa disuguhin.”
Waktu itu aku cuma bisa manyun.
© “Tapi tamunya juga belum tentu haus, kan, Mah?”
Mama cuma ketawa kecil, “Nggak apa-apa. Yang penting niatnya menyambut tamu dengan baik.”
Aku sih waktu itu nggak ngerti. Dalam pikiranku, ngapain repot-repot buka sirup baru cuma buat orang yang datang sebentar. Kadang tamunya cuma ngobrol lima belas menit, minum dua teguk, terus pamit. Tapi sirupnya keburu kebuka, dan aku nggak boleh minum banyak-banyak karena “itu buat besok kalau ada tamu lagi”.
Tamu, Sirup, dan Aku yang Mau Tidur Siang
Pernah juga suatu sore, aku baru pulang sekolah, capek banget habis ulangan harian. Baru mau rebahan, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Mama langsung menatapku dari dapur. “Nak, tolong sambut dulu tamunya ya, Mama masih nyalain kompor.”
Aku bengong.
© “Tapi, Mah… aku capek banget. Tadi ulangan Matematika.”
© Mama cuma nyengir. “Capek nggak apa-apa, senyum dikit aja. Nanti dapat pahala loh, menyambut tamu.”
Dan di situlah aku mulai berhadapan dengan kenyataan: ternyata menyambut tamu itu bukan soal suka
atau nggak suka, tapi soal adab.
Tapi jujur aja, waktu kecil aku tetap nggak sepenuhnya paham. Aku lebih fokus pada fakta bahwa setiap kali ada tamu, semua makanan enak keluar dari persembunyian.
Kue kaleng, roti gulung, sirup rasa leci, bahkan keripik yang katanya “buat malam minggu” tiba-tiba muncul di meja tamu.
Kadang aku duduk diam di pojok ruang tamu, sambil memperhatikan Mama menyuguhkan semuanya dengan senyum ramah.
Aku yang masih kecil cuma bisa mikir: “Kalau begini terus, habis dong stok kue aku.” 😅
Saat Aku Remaja: “Kenapa Harus Ramah?”
Begitu masuk masa remaja, rasa bingungku berubah jadi… sedikit kesal.
Bayangkan, baru pulang dari sekolah habis ujian praktek yang bikin otak panas, udah mau ganti baju, eh Mama manggil, “Nak, jangan ganti dulu, salaman dulu sama tamu Papa.”
Dalam hati aku mendengus.
© “Tamu Papa, kenapa aku juga harus salaman? Aku kan bukan tuan rumahnya.”
Tapi ya, tetap aja aku disuruh salaman, senyum, dan kadang ikut nimbrung walau cuma lima menit.
Lucunya, setelah itu Mama suka komentar halus,
© “Tadi kamu mukanya datar banget, Nak. Kalau tamu datang tuh, kita harus tampak senang.”
Waktu itu aku cuma menjawab pelan, “Tapi aku nggak bisa pura-pura senang, Mah.”
Mama ketawa kecil. “Nggak harus pura-pura. Cukup hormat aja, itu udah cukup.”
Kalimat itu nggak langsung aku pahami. Tapi ternyata, kalimat itu menempel di kepala sampai sekarang.
Pelajaran dari Gelas Sirup
Sekarang aku udah dewasa, dan tiap kali melihat sirup botol di rak dapur, aku suka senyum sendiri. Ternyata, sirup itu bukan cuma minuman manis buat tamu — tapi juga simbol kecil tentang keikhlasan berbagi dan menghormati.
Aku jadi ingat satu momen kecil waktu SMA. Saat itu aku lagi di dapur bantu Mama menyiapkan minuman untuk tamu. Aku protes,
© “Mah, padahal masih ada teh hangat. Kenapa harus sirup?”
© Mama jawab, “Karena tamu itu datang bawa rezeki, Nak. Jadi kita sambut dengan yang terbaik yang kita punya.”
Dan sejak saat itu, aku berhenti mengeluh soal “kenapa semua makanan enak keluar saat ada tamu”. Karena ternyata, itu bukan tentang makanan atau minuman.
Itu tentang hati yang terbuka — tentang niat untuk membuat orang lain merasa diterima.
Sekarang Aku Mengerti
Setelah beranjak dewasa, aku baru sadar betapa besar nilai yang diajarkan dari kebiasaan kecil di rumah.
Menjamu tamu bukan cuma soal sopan santun sosial, tapi juga bagian dari ajaran kebaikan yang diajarkan Nabi. Rasulullah pernah bersabda bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.
Tapi tentu saja, waktu aku kecil, aku nggak tahu apa-apa soal
itu. Yang aku tahu cuma: “kalau ada
tamu, aku harus senyum.”
Kini aku paham — ternyata Mama dan Nenek bukan sedang mengajarkanku formalitas. Mereka sedang menanamkan rasa hormat dan kerendahan hati.
Kalau dipikir-pikir, dulu aku sering menganggap tamu itu “mengganggu waktu tenangku”. Tapi sekarang, ketika rumah sudah sepi dan Mama nggak lagi sering nerima tamu, aku malah rindu suasana itu.
Rindu suara gelas beradu. Rindu aroma sirup yang baru dibuka. Rindu dengar Mama bilang,
© “Nak, tolong ambilin sendok kecil di dapur buat aduk sirupnya, ya.”
Aku yang Dulu, dan Aku yang Sekarang
Kadang aku membayangkan bertemu “diriku yang kecil” dulu — yang sering manyun setiap kali ada tamu datang.
Mungkin percakapannya bakal begini:
© Aku kecil: “Ih, kenapa sih harus salaman? Aku kan capek.”
© Aku sekarang: “Dulu Mama nggak nyuruh kamu buat capek, tapi buat belajar menghargai.”
© Aku kecil: “Tapi kenapa harus buka sirup yang disimpen di goah?”
© Aku sekarang: “Karena itu caranya Mama bilang ‘selamat datang’ tanpa kata-kata.”
Kadang kita baru mengerti makna hal-hal sederhana setelah bertahun-tahun berlalu. Dulu aku pikir “adab menerima tamu” cuma teori pelajaran agama yang membosankan. Tapi ternyata, itu adalah pelajaran kehidupan — tentang berbagi, menghargai, dan berlapang dada.
Kalau Sekarang Ada Tamu…
Jujur, aku masih butuh waktu buat “switch on” kalau suasana rumah tiba-tiba ramai. Tapi kali ini, aku nggak lagi manyun seperti dulu. Aku malah tersenyum kecil, teringat masa kecil yang hangat itu.
Aku bakal bilang,
© “Silakan masuk, duduk dulu ya, saya bikinin minuman.”
Dan tanpa sadar, langkahku mengarah ke dapur, membuka lemari, mengambil botol sirup yang disimpan untuk momen seperti ini.
Kadang aku bahkan tertawa sendiri. “Ternyata aku juga jadi Mama yang suka buka-buka goah, ya.” 😄
Penutup: Tentang Rumah dan Kehangatan
Rumah bukan cuma tempat kita pulang, tapi juga tempat kita belajar jadi manusia yang tahu adab.
Dari ruang tamu yang kecil, dari segelas sirup yang manis, dari sapaan “selamat datang” yang tulus — kita belajar arti menghormati sesama.
Dan dari semua itu, aku belajar satu hal penting:
Adab menerima tamu bukan tentang seberapa mahal suguhannya, tapi seberapa hangat hati kita saat menyambut mereka.
Jadi, kalau suatu hari kamu mendengar suara motor berhenti di depan rumah dan Mama memanggil,
© “Nak, ada tamu, salaman dulu ya…”
© jangan buru-buru manyun seperti aku dulu.
Senyum saja. Karena mungkin, dari tamu itulah, rezeki dan keberkahan sedang mampir ke rumahmu.
---
![]() |
| Ilustrasi anak kecil sedang bermain dengan boneka beruangnya di taman bunga - Blog Cerita Kemuning |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar