Aku dan Tanaman Hias Mamaku

Ilustrasi seorang remaja putri sedang meihat taman bunga dari kaca jendela kamarnya.
Ilustrasi remaja putri sedang melihat taman bunga dari jendela kamarnya - Blog Cerita Kemuning


Setiap orang punya kenangan khas tentang rumah masa kecilnya.

Ada yang ingat aroma masakan ibunya, ada yang ingat suara radio tua yang setiap pagi memutar lagu-lagu lawas.

Kalau aku, yang paling melekat justru aroma tanah basah dan deretan pot tanaman di halaman belakang.

Rumah kami dulu seperti kebun kecil yang hidup. Di setiap sudutnya ada daun, bunga, dan batang yang tumbuh dengan penuh cinta. Semua itu karena Mama—perempuan bertangan dingin yang bisa membuat apa pun yang ditanamnya tumbuh subur.

Aku? Hmm… waktu kecil, aku justru sering ngambek karena disuruh bantu Mama di taman.

Tapi dari semua rasa malas dan keluhanku dulu, ternyata tersimpan pelajaran yang baru kupahami setelah dewasa.

 

---

 

Kenangan di Kebun Kecil Mama

 

Dulu waktu kecil, aku sering merasa jadi “korban taman hijau Mama.”

Setiap akhir pekan, saat teman-teman sibuk main lompat tali atau main sepeda di depan rumah, aku sudah diseret Mama ke halaman belakang yang dipenuhi pot, sekop kecil, dan aroma tanah basah.

“Bantu Mama nyiram tanaman, ya,” katanya sambil tersenyum lebar.

Tapi aku tahu — di balik senyum itu, terselip tugas besar: dari menyiram, memindah pot, sampai mengelap daun-daun puring yang menempel debu.

 

Kalau ada yang bilang masa kecil itu masa paling indah, mungkin dia nggak pernah disuruh nyabutin rumput liar sambil dikejar nyamuk sore hari.

Aku sering ngambek. Kadang duduk di pojok, pura-pura sibuk ngikat tali sepatu, berharap Mama nggak sadar kalau ember air di tanganku masih penuh. Tapi Mama, dengan insting khas seorang ibu yang bertangan dingin, pasti tahu.

“Nanti tanaman Mama kehausan, lho,” katanya lembut.

Dan aku, yang waktu itu masih kecil dan manja, cuma manyun tanpa menjawab.

 

🌵

 

Rumah kami dulu seperti hutan mini. Di depan rumah, deretan puring berbaris rapi. Ada puring kuning gading, puring pelangi, puring tokek, dan yang paling unik—puring anting raja.

Aku ingat betul pertama kali melihatnya. Daunnya panjang, melengkung lembut seperti anting yang menggantung di telinga. Bentuknya aneh tapi cantik. Waktu itu aku refleks berkata,

“Lho, kok bisa ya, Ma? Kayak anting beneran! Allah SWT bisa menciptakan yang detail kayak gini, ya.”

Mama hanya tertawa kecil, matanya berbinar bangga seolah puring itu hasil tangannya sendiri.

 

Anehnya, meskipun aku lagi ngambek, untuk puring anting raja aku selalu rela menambah airnya sedikit lebih banyak.

“Biar kamu tumbuh subur ya, yang anting,” kataku dalam hati.

Entah kenapa tanaman itu terasa lebih dekat, mungkin karena dia juga tampak seperti perempuan yang suka berhias—mirip Mama.

 

🌸

 

Selain puring, ada satu tanaman yang selalu jadi primadona di rumah kami: bunga Wijayakusuma.

Mama memanggilnya dengan nama lengkap: Kusumawijaya. Katanya, di dunia tanaman, bunga ini istimewa—bunga yang hanya mekar di malam hari, dan hanya sebentar saja.

Kalau malamnya sedang berbunga, Mama akan menyalakan lampu di teras, menunggu dengan sabar sampai kelopaknya benar-benar terbuka.

“Ayo, lihat,” katanya padaku dan Papa, “malam ini Kusumawijaya mekar.”

 

Begitu bunga itu mekar sempurna, harum semerbaknya menyebar ke seluruh rumah. Bahkan tetangga sebelah pun kadang ikut bilang,

“Bu, Wijayakusumanya mekar lagi, ya?”

Dan Mama dengan bangga menjawab, “Iya, yang jantan soalnya. Harumnya beda.”

 

Aku baru tahu waktu itu kalau ternyata ada dua jenis: jantan dan betina.

Yang jantan bunganya besar dan wangi sekali, sedangkan yang betina mungil dan harum biasa saja. Tapi dua-duanya indah.

Aku sering memandangi bunga itu sambil berpikir: “Kenapa ya, yang mekar malam hari malah seharum ini?”

Seolah dia ingin bilang, keindahan nggak harus selalu disorot matahari.

 

🌲

 

Mama memang seperti punya sihir kecil pada tanaman.

Apa pun yang ditanamnya, tumbuh.

Pohon cemara yang katanya hanya cocok di daerah sejuk, bisa menjulang tinggi di halaman kami. Daunnya hijau gelap, menjuntai indah sampai hampir menutupi jendela kamar.

“Cemara ini kuat, ya,” kata Papa suatu sore.

Mama tersenyum, “Asal disayang, semua tumbuhan bisa bertahan.”

 

Sayangnya, musim kemarau panjang datang. Daun cemara mulai rontok, batangnya mengering, dan akhirnya pohon itu tumbang dengan pelan, seperti menyerah pada panas yang tak berkesudahan.

Aku ingat bagaimana Mama berdiri lama di depan batangnya yang patah. Tidak menangis, tapi matanya redup, seperti kehilangan teman lama.

 

🌻

 

Aku tumbuh jadi anak yang jauh berbeda dari Mama.

Kalau Mama rajin, aku pemalas.

Kalau Mama telaten, aku moody.

Aku bahkan sempat bercanda dalam hati, “Mungkin Mama bertangan dingin, sedangkan aku bertangan panas.”

 

Istilah itu kudengar dari tetangga yang memuji Mama, katanya,

“Bu Nadya itu tangannya dingin, tanam apa aja tumbuh.”

Waktu kecil, aku kira artinya Mama punya tangan sedingin es, kayak Elsa di film Frozen.

Tapi ternyata bukan. “Bertangan dingin” artinya punya kemampuan merawat tanaman dengan sabar dan telaten, seolah setiap sentuhan tangannya membawa kehidupan.

Sementara “bertangan panas” adalah kebalikannya — orang yang kalau merawat tanaman, hasilnya malah layu.

 

Aku mengakui, aku termasuk kategori kedua.

Kalau Mama bisa bikin puring tumbuh subur, aku bisa bikin tanaman plastik pun kelihatan sedih.

Mungkin karena aku nggak punya ketelatenan seperti Mama.

Atau mungkin karena aku dulu terlalu sibuk mencari alasan untuk tidak ikut menyiram.

 

🌼

 

Waktu ujian sekolah datang, aku merasa punya alasan sah untuk menghindar dari dunia tanaman.

“Ma, aku belajar dulu ya,” kataku setiap Mama mulai membawa ember dan gembor air.

Padahal sering kali, belajar hanya jadi alasan supaya aku bisa rebahan di kamar sambil baca majalah atau menggambar.

Mama tahu, tapi dia nggak pernah marah.

Kadang cuma tersenyum dan berkata pelan, “Nggak apa-apa, nanti Mama sendiri aja.”

 

Sekarang aku baru sadar, dari semua kegiatan itu, Mama tidak sekadar menanam. Dia sedang mengajarkan sesuatu yang waktu itu belum kupahami: kesabaran, ketelatenan, dan cinta dalam bentuk paling sederhana.

Cinta yang tidak banyak bicara, tapi hadir di setiap siraman air dan setiap daun yang dibersihkan.

 

🌹

 

Bertahun-tahun kemudian, aku sudah dewasa.

Rumah lama kami masih berdiri, tapi taman Mama sudah tidak selengkap dulu. Sebagian tanaman sudah berganti, sebagian berpindah tangan ke tetangga yang mau merawatnya.

Namun puring anting raja masih ada — tetap berdiri di sudut yang sama, seperti penjaga kenangan masa kecilku.

Setiap kali aku pulang, aku selalu berhenti di depannya dan tersenyum kecil,

“Masih cantik kamu, ya?”

 

Sekarang aku sudah paham, tidak semua tanaman butuh perhatian ekstra seperti yang Mama berikan. Ada tanaman-tanaman yang bisa tumbuh mandiri, cukup disiram sesekali dan diberi tempat yang pas.

Dan mungkin aku cocoknya dengan tipe itu — tanaman yang kuat sendiri, tapi tetap butuh cahaya agar tidak layu.

 

Aku juga belajar, “tangan dingin” bukan berarti punya kekuatan ajaib, tapi hati yang sabar dan tekun.

Bukan tangan Mama yang ajaib, tapi cintanya yang tidak pernah habis.

Cinta itu yang membuat semua tanaman di rumah kami tumbuh seolah tahu bahwa mereka disayang.


🏵️

 

Kadang aku membayangkan, kalau suatu hari aku punya rumah sendiri, aku ingin punya taman kecil juga.

Bukan yang penuh tanaman seperti taman Mama, tapi cukup beberapa yang “mandiri” — tanaman yang kuat dan nggak butuh perawatan ekstra.

Mungkin lidah mertua, sirih gading, atau kaktus kecil di meja dapur.

Sederhana, tapi tetap hidup.

 

Tapi siapa tahu, mungkin nanti tangan ini — yang dulu kucap bertangan panas — akan berubah jadi dingin juga.

Mungkin karena gen Mama menurun pelan-pelan, atau mungkin karena cinta memang selalu menemukan cara untuk tumbuh, meski lewat daun-daun hijau kecil di pot.

 

🌺

 

Aku masih suka senyum sendiri kalau mengingat masa kecilku: betapa sering aku ngambek hanya karena disuruh nyiram tanaman, betapa malasnya aku menyentuh tanah atau sekadar memindahkan pot.

Tapi justru dari hal-hal kecil itulah aku belajar tentang ketulusan dan kesabaran.

 

Sekarang aku tahu, mungkin dulu aku bukan “bertangan panas” — hanya belum menemukan caraku sendiri untuk menyentuh kehidupan.

Dan mungkin, di masa depan, ketika aku punya taman kecil di rumahku sendiri, aku akan menanam satu pohon puring anting raja.

Bukan sekadar untuk mengenang Mama, tapi untuk mengingat bahwa setiap daun, setiap bunga, dan setiap kehidupan butuh kasih sayang — sama seperti manusia.

 

Karena ternyata, cinta itu bisa tumbuh di mana saja.

Bahkan di antara pot, tanah, dan air yang dulu sering aku hindari.

Mungkin aku tak setelaten Mama, tapi setiap kali melihat tanaman tumbuh, aku tahu, ada sedikit tangan Mama yang hidup di dalam diriku.”

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---

Potret remaja perempuan berambut merah duduk santai di taman bunga dengan pemandangan pondok dan bunga-bunga tropis seperti daisy, mawar, sepatu, dan kamboja.
Ilustrasi remaja putri sedang menikmati sore di taman bunga — tempat warna, wangi, dan kenangan berpadu jadi satu keindahan sederhana - Blog Cerita Kemuning


Tidak ada komentar:

Posting Komentar