Lollipop, Semut, dan Standar yang Selalu Dibebankan pada Perempuan

Ilustrasi gadis berambut merah cabai duduk di taman bunga daisy dan mawar merah, menikmati hangatnya sore dengan senyum tenang.
Mekar tanpa terburu-buru, seperti bunga yang tahu waktunya sendiri.✨ - Blog Cerita Kemuning


Ketika Sebuah Permen Menjadi Ceramah


Beberapa hari lalu, saat sedang menggulir TikTok seperti kebanyakan orang yang sedang mencari hiburan atau sekadar mengisi waktu, aku menemukan sebuah video yang sudah sangat sering beredar dalam berbagai versi.

Di video itu ada dua buah lolipop.

Yang satu terbuka.

Yang satu tertutup rapat.

Lalu datanglah semut-semut. Mereka mengerubungi lolipop yang terbuka. Sementara lolipop yang tertutup tetap bersih tanpa gangguan.

Pesan videonya sederhana.

Atau setidaknya terlihat sederhana.

Perempuan yang menutup diri akan lebih terjaga. Perempuan yang terbuka akan lebih mudah dijamah.

Aku melihat videonya sampai selesai.

Dan sebenarnya aku paham maksud yang ingin disampaikan.

Tapi aku juga tahu bahwa video itu bukan benar-benar tentang lolipop.

Dan tentu saja bukan tentang semut.

Entah kenapa, hampir selalu tentang perempuan.


---


Kenapa Selalu Perempuan?


Aku sering bertanya-tanya.

Kenapa dalam banyak nasihat sosial, perempuan selalu dijadikan contoh?

Kenapa yang dibandingkan selalu perempuan?

Kenapa yang diingatkan untuk menjaga diri hampir selalu perempuan?

Seolah-olah segala bentuk godaan di dunia ini lahir karena keberadaan perempuan.

Padahal kalau kita mau jujur, manusia tetap manusia.

Laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki keinginan, kelemahan, dan pilihan hidup masing-masing.

Aku tidak sedang menggurui siapa pun.

Aku juga tidak sedang memperdebatkan hijab atau cara berpakaian seseorang.

Karena menurutku, pilihan berpakaian adalah urusan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar analogi lolipop dan semut.

Yang membuatku berpikir justru hal lain.

Di zaman sekarang, apakah benar yang terbuka selalu paling mudah dijamah?

Dan apakah yang tertutup selalu paling suci dan paling terjaga?

Aku rasa tidak sesederhana itu.


--- 


Yang Terlihat Baik Belum Tentu Benar-Benar Baik


Kita hidup di era ketika penampilan sering kali menjadi alat pencitraan.

Orang bisa terlihat sangat baik di depan umum.

Sangat santun.

Sangat alim.

Sangat menjaga image.

Tapi siapa yang benar-benar tahu isi hatinya?

Sebaliknya, ada orang yang terlihat santai.

Bicara seadanya.

Gayanya biasa saja.

Tidak terlalu peduli pada pencitraan.

Namun justru hatinya tulus dan tidak suka menyakiti orang lain.

Manusia memang tidak bisa diukur hanya dari bungkus luarnya.

Karena yang paling sulit dilihat bukan pakaian seseorang.

Melainkan isi kepalanya.

Dan isi hatinya.


--- 


Laki-Laki Juga Punya Tanggung Jawab Moral


Kalau perempuan sering diminta menjaga diri, bukankah laki-laki juga seharusnya demikian?

Aku kadang merasa lucu ketika ada sebagian orang yang begitu rajin membahas perempuan ideal, tetapi jarang membahas laki-laki ideal.

Padahal kenyataannya, tidak sedikit laki-laki yang juga jauh dari kata terjaga.

Ada yang terlihat pendiam tetapi diam-diam memiliki banyak hubungan.

Ada yang terlihat tidak punya pasangan tetapi ternyata dekat dengan banyak perempuan sekaligus.

Ada yang mengaku hanya berteman, tetapi batas pertemanannya bahkan lebih rumit daripada hubungan pacaran.

Ada pula yang beralasan bahwa semua itu hanya pergaulan biasa.

Tidak pakai perasaan, katanya.

Pertanyaannya sederhana.

Kalau perilaku seperti itu dilakukan perempuan, apakah masyarakat akan menilainya sama santainya?

Atau justru langsung diberi cap buruk?

Standar yang berbeda inilah yang kadang membuatku mengernyit.


--- 


Ceplas-Ceplos Tidak Selalu Jujur


Ada satu kalimat yang juga sering kudengar.

"Orang yang ceplas-ceplos biasanya lebih jujur."

Benarkah?

Entahlah.

Karena dari yang kulihat selama ini, kemampuan berbicara blak-blakan tidak otomatis membuat seseorang lebih jujur.

Bahkan terkadang orang yang paling pandai berbicara justru paling pandai menyembunyikan niat sebenarnya.

Orang yang tampak polos belum tentu polos.

Orang yang tampak galak belum tentu jahat.

Orang yang tampak baik belum tentu baik.

Manusia memang rumit.

Mungkin itulah sebabnya kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari satu sisi saja.


--- 


Perempuan Juga Berhak Memilih


Hal yang paling sering terlupakan adalah bahwa perempuan bukan hanya objek penilaian.

Perempuan juga manusia yang memiliki hak untuk menilai.

Kami juga berhak memilih.

Kami juga punya standar.

Kami juga punya harapan.

Kalau laki-laki boleh memiliki kriteria pasangan impian, kenapa perempuan tidak?

Kalau laki-laki boleh membandingkan calon pasangan, kenapa perempuan harus selalu menerima apa adanya?

Aku rasa tidak begitu.

Bukan berarti menjadi perempuan harus menjadi sosok yang pemilih berlebihan.

Bukan pula berarti merasa diri paling baik.

Tetapi setiap orang berhak menentukan seperti apa pasangan hidup yang diinginkannya.

Karena pernikahan bukan perlombaan siapa yang paling cepat menikah.

Melainkan perjalanan panjang yang akan dijalani setiap hari.

Tentu wajar jika seseorang berharap mendapatkan pasangan yang sesuai dengan nilai hidupnya.


--- 


Pada Akhirnya, Semua Kembali ke Hati


Semakin dewasa, aku semakin percaya bahwa kualitas seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan luar.

Karakter muncul dari kebiasaan.

Integritas muncul saat tidak ada yang melihat.

Kesetiaan muncul saat ada kesempatan untuk berkhianat tetapi memilih tidak melakukannya.

Semua kembali ke hati.

Dan hati tidak bisa diukur dengan bungkus permen.

Tidak bisa diukur dengan analogi semut.

Tidak bisa diukur dengan komentar orang lain.

Karena setiap manusia sedang berjuang dengan dirinya masing-masing.


--- 


Tentang Jodoh dan Hal-Hal yang Tidak Bisa Kita Tebak


Tentu saja, kita boleh memiliki harapan.

Kita boleh memiliki kriteria.

Kita boleh memilih.

Tetapi pada akhirnya, ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.

Jodoh adalah salah satunya.

Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang akan berjalan bersama kita sampai akhir.

Bahkan esok hari pun masih menjadi rahasia.

Kita sering sibuk menebak siapa jodoh kita.

Padahal ada satu hal lain yang sama misteriusnya.

Maut.

Tidak ada yang tahu mana yang datang lebih dulu.

Jodoh atau perpisahan.

Pertemuan atau kehilangan.

Karena itu mungkin yang paling penting bukan sibuk menghakimi siapa lolipop yang terbuka dan siapa yang tertutup.

Melainkan belajar menjadi manusia yang baik.

Baik saat dilihat orang.

Maupun saat tidak ada seorang pun yang melihat.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak penilai.

Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu menjaga dirinya sendiri, tanpa harus sibuk mengukur harga diri orang lain.


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar