![]() |
| Mobil bak tua itu diam bertahun-tahun di bawah pohon sirsak. Tapi beberapa suara, katanya, tak pernah benar-benar pergi - Blog Cerita Kemuning |
Cerita Kemuning Tentang Sawah, Rumah Kosong, dan Suara Anak-Anak Jam Dua Malam
Ada kampung-kampung yang siangnya biasa saja.
Anak kecil main layangan. Ayam lewat seenaknya. Ibu-ibu ngobrol sambil nyabutin daun singkong. Traktor meraung dari sawah seperti suara tua yang sudah akrab sejak puluhan tahun lalu.
Tapi malamnya berbeda.
Kampungku seperti punya wajah lain setelah magrib lewat.
Dan cerita ini, sampai sekarang, masih jadi salah satu hal yang membuatku malas melihat mobil bak tua berkarat.
Dulu aku masih SMA. Masih sibuk nyetrika seragam sambil ngeluh karena tugas matematika lebih banyak daripada isi dompet anak sekolah. Masa di mana pagi terasa buru-buru, dan suara traktor di sawah sudah seperti alarm alami.
Kakekku memang terkenal di kampung sebagai orang yang punya traktor lebih dulu dibanding yang lain. Bahkan sampai dua buah. Jadi kalau musim panen, bajak sawah, sampai masa tanam lagi, banyak pekerja dari luar kampung datang membantu. Kadang mereka menginap beberapa hari di rumah saudara nenekku.
Rumahnya tidak jauh dari rumah kami.
Kalau dari rumah nenekku tinggal lewat tiga rumah, lalu menyeberangi jalan kampung kecil. Rumah tua itu cukup besar, tapi sudah lama kosong karena pemiliknya dibawa anak-anaknya ke kota untuk dirawat bersama.
Karena kosong, nenek minta izin supaya rumah itu dipakai sementara untuk tempat istirahat pekerja sawah.
Awalnya tidak ada masalah.
Atau mungkin… masalahnya memang belum muncul.
Di samping rumah tua itu ada pohon sirsak. Di bawahnya terparkir sebuah mobil bak tua yang sudah lama tidak dipakai. Warnanya kusam, catnya mengelupas, dan bagian sampingnya penuh karat seperti besi yang capek hidup terlalu lama.
Aku pribadi malas mendekati mobil itu.
Kupikir cuma karena takut ambruk atau takut ada tikus.
Ternyata bukan cuma itu.
Waktu itu musim tanam baru mulai. Salah satu pekerja perempuan sedang sakit. Flu, batuk, dan masuk angin cukup parah. Badannya lemas, wajahnya pucat sekali. Dua temannya yang sempat menginap di rumah tua itu malah sudah pulang duluan sehari sebelumnya.
Katanya suasananya tidak enak.
Aku waktu itu cuma menganggap mereka terlalu takut.
Namanya juga rumah kosong. Bunyi kayu, suara kucing kawin, genteng dipijak musang — semua bisa terdengar menyeramkan kalau malam.
Pikirku begitu.
Sampai pagi itu.
Aku masih ingat jelas suasananya. Aku sedang sarapan di rumah nenek sebelum berangkat sekolah. Teh panas masih mengepul, dan nenek sedang menyiapkan bekal sederhana buat para pekerja di sawah.
Lalu ibu pekerja itu datang.
Pelan sekali langkahnya.
Wajahnya seperti orang yang semalaman tidak tidur. Matanya sembab. Tangannya gemetar. Bahkan waktu duduk di ruang tengah rumah nenek, beliau sempat beberapa kali mengusap air mata di pipinya.
Aku langsung diam.
Ada sesuatu dalam wajah orang ketakutan yang tidak bisa dibuat-buat.
Beliau meminta maaf kepada nenek karena merasa tidak bisa bekerja maksimal. Suaranya pelan dan bergetar.
“Maaf, Mak… saya nggak kuat nginep di sana…”
Nenek hanya diam mendengarkan.
Lalu ibu itu mulai bercerita.
Katanya setelah minum obat flu, beliau mencoba tidur lebih awal. Badannya sangat lelah. Tapi sekitar jam setengah satu malam, mulai terdengar suara anak-anak kecil bermain.
Awalnya samar.
Seperti suara anak-anak jauh di luar rumah.
Lalu makin lama makin jelas.
Suara lari-larian. Suara tertawa. Suara ramai seperti anak-anak sedang main petak umpet tengah malam.
Padahal rumah itu kosong.
Dan kampung kami kalau malam sangat sepi.
Apalagi jam segitu.
Beliau bilang tubuhnya sudah tidak kuat berdiri. Lututnya lemas. Kepala terasa berat sekali. Bukannya mengantuk setelah minum obat, beliau malah makin sadar karena suara itu seperti masuk langsung ke telinga.
Akhirnya beliau hanya duduk di pojokan ruang tengah sambil memeluk tasnya.
Takut membuka pintu. Takut melihat jendela.
Dan yang membuat bulu kudukku berdiri waktu mendengarnya adalah bagian setelah jam dua malam.
Suara anak-anak itu tiba-tiba jadi lebih ramai.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
Seolah mereka sedang bermain tepat di halaman samping rumah.
Lalu terdengar suara dari arah mobil bak tua.
“Ngek… ngek… ngek…”
“Krek… krek…”
Seperti ada yang melompat-lompat di atas bak mobil tua itu.
Berulang kali.
Pelan lalu keras.
Pelan lalu keras lagi.
Aku yang mendengar ceritanya sambil makan sampai berhenti mengunyah.
Entah kenapa suasana pagi itu ikut terasa dingin.
Ibu pekerja itu menangis kecil sambil cerita kalau beliau benar-benar tidak berani melihat ke arah jendela. Bahkan untuk lari keluar rumah pun tubuhnya tidak sanggup.
Jadi beliau hanya duduk diam sampai suara itu hilang sendiri.
Dan anehnya…
Semua suara berhenti tepat jam tiga pagi.
Seperti ada yang memberi aba-aba.
Sunyi mendadak.
Hanya terdengar suara motor orang yang mau ke pasar dan ayam mulai berkokok dari kejauhan.
Setelah itu beliau buru-buru membereskan pakaian dan tasnya. Tapi tetap belum berani ke kamar mandi sampai adzan subuh terdengar.
Baru setelah matahari mulai muncul, beliau nekat berjalan ke rumah nenek untuk pamit pulang.
Aku melihat nenek menarik napas panjang setelah mendengar semua cerita itu.
Lama sekali.
Seperti orang yang sebenarnya sudah tahu sesuatu.
Dan benar saja.
Pelan-pelan nenek bilang kalau dulu mobil bak tua itu pernah dipakai untuk mengangkut mayat pada masa krisis di beberapa daerah lain. Mobil itu milik orang lain, hanya dititipkan di samping rumah saudara nenek karena tempat parkirnya luas.
Aku langsung merinding.
Bukan karena cerita hantunya.
Tapi karena tiba-tiba semua terasa masuk akal dengan cara yang aneh.
Kadang benda lama memang seperti menyimpan sesuatu.
Entah kenangan.
Entah kesedihan.
Atau sesuatu yang tidak selesai.
Nenek akhirnya mengiyakan permintaan ibu pekerja itu untuk pulang. Beliau diberi upah, ongkos, lalu dicarikan ojek supaya bisa cepat sampai ke rumahnya di daerah wetan.
Ibu itu pamit sambil berkali-kali meminta maaf.
Padahal tidak ada yang salah dengannya.
Kalau aku jadi beliau, mungkin jam satu malam sudah lari sambil bawa bantal.
Setelah beliau pulang, aku pun bersiap berangkat sekolah seperti biasa. Jalan kampung pagi itu tetap sama. Matahari tetap hangat. Orang-orang tetap sibuk dengan sawah.
Tapi sejak hari itu, setiap melewati rumah tua itu, pandanganku selalu otomatis menuju mobil bak berkarat di bawah pohon sirsak
Diam.
Tua.
Tak bergerak.
Namun anehnya selalu terasa seperti ada yang sedang memperhatikan dari sana.
Sampai sekarang aku masih ingat cerita itu.
Karena kampungku memang begitu.
Tenang di permukaan, tapi menyimpan banyak kisah yang bahkan sampai hari ini pun tidak benar-benar kupahami.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar