Bab 19. Ujian Terakhir
Sidang demi sidang terus bergulir. Mama duduk dengan tenang di kursi pengunjung, sementara papa hadir dengan wajah keras, seolah dialah pihak yang paling terzalimi. Tidak jarang papa menyuruh keluarganya datang, hanya untuk memberikan tekanan batin. Beberapa kali mereka menatap mama dengan tatapan sinis, seakan menyalahkan setiap langkah yang mama ambil.
Eliana kecil yang ikut mendampingi hanya bisa menggenggam tangan mama erat-erat. Ia sudah tahu, sejak lama papa pandai bermain peran. Di hadapan majelis hakim, papa berlagak seperti suami yang ditinggalkan, padahal kenyataannya justru berbalik seratus delapan puluh derajat.
Setiap kali sidang ditunda, kabar-kabar aneh beredar. Ada gosip kalau berkas mama sengaja diperlambat. Bahkan terdengar bisikan bahwa papa menggerakkan “teman-teman” yang punya kedekatan dengan beberapa pegawai agar surat janda mama jangan cepat keluar. Semuanya terasa seperti permainan panjang yang melelahkan.
Namun, mama tidak goyah. “Kita jalani saja, Nak,” ucapnya lirih kepada Eliana. “Selama niat kita baik, Tuhan pasti tunjukkan jalan.”
Mbak Ira yang mengikuti alur cerita lewat potongan memori dari Eliana kecil bisa merasakan getirnya perjuangan itu. Baginya, ini adalah ujian terakhir untuk memastikan ruang kosong yang lama menjerat hatinya bisa terisi oleh keberanian dan keteguhan mama.
Lalu, di tengah kebuntuan itu, muncul sebuah kabar mengejutkan. Salah seorang sahabat lama mama, yang dulu pernah hilang kontak karena sibuk dengan keluarga dan pekerjaannya, tiba-tiba menghubungi. Ternyata sahabat itu kini menduduki posisi penting di Pengadilan Agama.
“Kalau memang sudah sesuai prosedur, seharusnya tidak ada alasan untuk menunda terlalu lama,” katanya menegaskan. “Aku akan bantu agar proses ini berjalan sebagaimana mestinya. Kau sudah cukup lama menanggung beban.”
Mama terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia tidak pernah menduga bahwa masih ada orang yang bersedia berdiri di sisinya setelah semua pengkhianatan dari orang-orang terdekat.
Eliana kecil tersenyum lega, meski masih ada ketakutan. Ia tahu papa tidak akan tinggal diam. Tapi untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa pertahanan papa mulai retak.
Sidang selanjutnya terasa berbeda. Hakim mulai menanyakan hal-hal yang lebih rinci, memverifikasi bukti-bukti yang selama ini mama kumpulkan dengan sabar. Papa terlihat gusar, sesekali melirik ke arah keluarganya yang duduk di belakang. Mereka yang biasanya penuh percaya diri kini tampak gelisah.
Mbak Ira merasakan degupan yang berbeda di dadanya. Seperti ada pintu yang mulai terbuka, memberi cahaya masuk. Ujian terakhir ini memang berat, tapi hasilnya sudah mulai tampak di depan mata.
Mama menggenggam tangan Eliana kecil lebih erat dari biasanya. “Kita sudah dekat, Nak. Sedikit lagi… sedikit lagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Eliana kecil mengangguk dengan keyakinan penuh. “Aku percaya, Ma. Kita pasti bisa melewatinya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar