Bab 18. Bisikan yang Semakin Nyaring
Beberapa hari terakhir, Mbak Ira semakin sering merasakan sensasi aneh di kepalanya. Kadang seperti ada suara berbisik lembut, tidak jelas dari mana datangnya, tetapi pesannya selalu sama: “Waktumu hampir habis.”
Awalnya, ia mengira itu hanya ilusi karena kelelahan. Namun semakin lama, bisikan itu muncul bukan hanya ketika ia lelah, melainkan juga di saat-saat tenang—ketika ia sedang duduk menemani Eliana belajar di samping warungnya, atau saat menonton Mama menyiram bunga-bunga di depan rumah..
Setiap kali bisikan itu datang, Mbak Ira refleks menghela napas panjang. Dadanya seperti ditekan, bukan oleh ketakutan, melainkan oleh kenyataan: ia tidak bisa selamanya berada di sini.
---
Suatu sore, Eliana kecil dengan riang mendekatinya.
“Mbak Ira, nanti kalau aku lomba baca puisi, Mbak Ira harus datang ya. Biar aku nggak grogi.”
Mbak Ira tersenyum, menatap mata polos itu. “Tentu saja, sayang. Selama Mbak masih di sini, Mbak pasti datang.”
Eliana langsung memeluknya erat, tanpa sadar kata-kata selama Mbak masih di sini adalah sebuah penanda.
Mbak Ira merasakan dada yang sesak. Ia tahu, suatu saat harus ada percakapan lain—percakapan yang jauh lebih berat—tentang kepergiannya.
---
Malam itu, ia menuliskan rencana kecil di buku catatan yang selalu ia sembunyikan.
Judulnya sederhana: Alasan Pergi.
Di bawahnya ia menulis poin-poin:
1. Pindah kerja ke luar kota.
2. Kontrak baru di tempat lain.
3. Ingin menata hidup sendiri.
Alasan-alasan itu mungkin terdengar biasa, tapi cukup masuk akal. Ia tidak bisa berkata sebenarnya pada Mama maupun Eliana. Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa ia hanyalah bagian dari jiwa Eliana di masa depan, yang kembali untuk menyembuhkan luka lama.
Yang bisa ia lakukan hanyalah memberi alasan manusiawi agar mereka bisa menerima.
---
Bisikan itu datang lagi malam itu, lebih jelas dari sebelumnya. “Waktumu tinggal sedikit. Bersiaplah.”
Mbak Ira menutup mata, menahan air yang hampir jatuh. Ia bukan takut pada akhirnya. Ia hanya takut melihat Eliana kecil menangis saat ia pamit nanti.
Namun, di balik rasa berat itu, ada keyakinan yang kuat: bahwa misinya hampir selesai.
Eliana kecil sudah tidak lagi merasa sendirian. Mama sudah bangkit dari keterpurukan. Rumah itu kini dipenuhi tawa dan doa, bukan lagi tangisan.
Mbak Ira berjanji pada dirinya sendiri: sebelum benar-benar pergi, ia akan memastikan meninggalkan jejak yang indah. Ia akan berpamitan dengan tenang, dengan pelukan hangat, bukan dengan air mata yang dalam.
---
Pagi berikutnya, saat membeli sayuran, Mama sempat melirik Mbak Ira yang terlihat termenung.
“Kamu kenapa, Mbak Ira? Capek ya?” tanya Mama lembut.
Mbak Ira tersenyum, mencoba menutupi. “Nggak, Bu. Cuma lagi mikirin beberapa hal. Mungkin nanti kalau waktunya pas, aku ada yang mau dibicarakan sama Ibu.”
Mama mengangguk pelan, tidak mendesak. Ia tahu Mbak Ira bukan tipe yang suka bertele-tele.
Di saat yang sama, Eliana kecil asyik bercerita tentang teman-temannya. Suaranya yang riang membuat hati Mbak Ira terasa semakin berat—bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan kebahagiaan kecil ini?
Namun ia tahu, cinta yang sejati kadang bukan berarti bertahan selamanya, melainkan pergi di saat yang tepat, agar orang yang dicintai bisa tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
---
Di kamar malam itu, Mbak Ira berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya lama sekali. Bibirnya bergetar, lalu ia berbisik pelan pada dirinya sendiri:
“Jika waktunya tiba, aku akan pamit baik-baik. Bukan sebagai seseorang yang hilang, tapi sebagai seseorang yang pergi untuk menata hidup. Itu akan lebih mudah diterima Mama dan Eliana.”
Air matanya jatuh, tapi senyumnya tetap mengembang. Karena dalam hati, ia sudah memutuskan: meski berat, ia akan menghadapi akhir ini dengan penuh kasih.
Dan di kejauhan, bisikan itu terdengar lagi, lebih jelas dari sebelumnya.
“Bersiaplah. Malam perpisahanmu sudah dekat.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar