Dongeng Si Cikal 17

Dongeng Si Cikal Bab 17 di blog Cerita Kemuning


Bab 17. Dendam dalam Diam


Keluarga Papa kini seperti kapal karam yang masih mencoba berdiri gagah di permukaan. Di depan banyak orang, mereka sudah tidak bisa lagi menyerang Mama secara terang-terangan. Apalagi kabar perceraian semakin jelas, dan keputusan Mama untuk tetap maju tidak tergoyahkan.


Namun, bukannya benar-benar menerima, mereka memilih menyimpan bara dendam di hati. Dendam itu tidak lagi mereka wujudkan dengan teriakan, tapi dengan diam yang dingin. Diam yang penuh racun.


Di hadapan tetangga, mereka menebar wajah penuh pasrah. “Ya, mungkin ini memang sudah jalannya. Kalau sudah kehendak Tuhan, kita harus ikhlas,” kata salah satu tante Papa dengan suara sendu.

“Betul, kita nggak bisa melawan takdir. Bagaimanapun, kita harus saling mendoakan,” sambung yang lain, tersenyum manis seolah-olah penuh welas asih.


Padahal, dalam hati mereka mendidih. Bukan ikhlas yang ada di sana, melainkan gengsi yang terluka. Mereka tidak tahan melihat Mama tetap bisa bertahan, bahkan mulai menata hidup dengan Eliana tanpa bantuan siapa pun.


Bagi mereka, pencitraan adalah senjata.

Mereka tahu, jika tidak bisa melawan Mama di ranah hukum atau di mata masyarakat, maka citra baik-lah yang harus dijaga. Di depan publik, mereka terlihat paham, penuh kasih, dan bijaksana. Namun di balik itu, setiap langkah Mama dan Eliana terus mereka amati, menunggu celah untuk menjatuhkan.


“Sudahlah, biar saja orang itu merasa menang sekarang,” bisik salah satu paman Papa dalam pertemuan keluarga. “Tunggu waktunya. Kita tidak akan lupa.”

“Yang penting jangan sampai orang luar tahu sisi kita yang sebenarnya,” sambung yang lain.

Semua mengangguk setuju. Mereka tahu permainan ini bukan soal kebenaran, tapi soal siapa yang bisa bertahan lebih lama menjaga muka.


---


Di sisi lain, kehidupan Mama dan Eliana kecil semakin penuh warna.

Suatu sore, sepulang sekolah, Eliana menghampiri Mama di dapur. Bau harum kue baru saja keluar dari oven memenuhi ruangan.

“Ma, tadi di sekolah aku disuruh maju baca puisi. Deg-degan banget, tapi aku bisa, Ma. Guru bilang suaraku bagus,” cerita Eliana dengan mata berbinar.


Mama tersenyum lebar, lalu mengusap kepala Eliana. “Wah, Mama bangga sekali. Berarti kamu berani. Itu tandanya kamu anak kuat, sayang.”


Obrolan kecil seperti itu mungkin terdengar biasa, tapi bagi mereka berdua, itu adalah obat.

Eliana merasa dirinya penting, didengar, dan dicintai. Sementara Mama merasakan kebahagiaan sederhana yang tidak pernah bisa diberikan oleh Papa: kehangatan batin tanpa syarat.


Setiap percakapan, setiap tawa kecil yang muncul, perlahan-lahan membuat luka lama menutup. Rumah yang dulu penuh bayangan kini mulai terasa seperti tempat tinggal yang sesungguhnya.


---


Mbak Ira—Eliana dewasa yang hidup dalam kesadaran tersembunyi—merasakan perubahan itu dengan jelas. Biasanya, setiap kali Eliana kecil bercerita tentang perlakuan keluarga Papa, ada tekanan berat yang ikut ia tanggung. Kepala bagian belakangnya terasa nyeri, kadang membuat pikirannya kacau di tengah pekerjaan.


Namun kini, sesuatu berubah. Saat mendengar tawa Eliana kecil bersama Mama, rasa sakit itu menghilang. Dadanya terasa hangat, dan kepala belakangnya yang selama ini berat kini justru terasa ringan.


Seperti ada beban yang diangkat dari punggungnya.

Seperti ada ruang kosong dalam hatinya yang dulu gelap, kini mulai terisi cahaya.


Mbak Ira mulai menyadari sesuatu: waktunya hampir habis. Ada bisikan lembut yang entah datang dari hati atau dari langit, mengingatkan bahwa misinya segera selesai. Ia harus mulai menyiapkan alasan, menyiapkan cerita untuk menjelaskan keberadaannya. Bahwa suatu saat ia akan berkata, “Aku harus pindah keluar kota.”


Itu akan menjadi penutup yang wajar, alasan yang bisa diterima. Karena pada dasarnya, kehadirannya memang hanya sementara—untuk menambal yang bolong, untuk mengisi yang kosong, untuk menguatkan yang rapuh.


---


Malam itu, Eliana kecil tertidur pulas dalam pelukan Mama. Mama membelai rambut anaknya dengan penuh kasih, menatap wajah polos yang begitu damai.

Di balik itu, Mbak Ira tersenyum lega. Walau tanpa Papa, walau dunia di luar sana masih menyimpan duri, setidaknya sekarang ia tahu: ruang kosong di hati Eliana kecil sudah tidak lagi menakutkan.


Ruang itu kini telah terisi oleh kasih sayang Mama, keberanian Eliana kecil, dan keteguhan dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, Mbak Ira benar-benar bisa berkata dalam hati:

“Aku berhasil.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar