Bab 16. Kehangatan yang Menguatkan
Hari-hari terus berjalan. Awalnya, Mama sempat ragu apakah usahanya menjual kue, lauk, dan camilan rumahan bisa benar-benar bertahan. Namun, perlahan-lahan kabar tentang kelezatan masakan Mama mulai tersebar dari mulut ke mulut.
Tetangga yang awalnya sekadar membeli karena iba, kini datang kembali karena rasa kue dan lauk yang benar-benar enak. Beberapa orang bahkan mulai memesan untuk acara keluarga, arisan, dan hajatan kecil.
Di dapur sederhana, Mama bekerja sejak pagi buta. Wajahnya berkeringat, namun bibirnya tetap tersenyum. Sesekali, Eliana kecil duduk di bangku kayu kecil, membantu membungkus kue atau sekadar mencuci piring.
“Ma, tadi Bu Rini bilang pesanannya ditambah, katanya kue cucurnya laris,” ujar Eliana sambil tersenyum bangga.
Mama menoleh, matanya berbinar. “Benarkah? Alhamdulillah…. Lia, lihat kan? Kalau kita sungguh-sungguh, Tuhan pasti kasih jalan.”
Eliana mengangguk dengan senyum ceria. “Iya, Ma. Aku jadi makin semangat bantuin Mama.”
Sementara itu, ancaman Papa dan keluarganya satu per satu runtuh. Bisikan mereka tentang ketidakmampuan Mama tak lagi terbukti. Bahkan, semakin mereka menyebarkan cerita buruk, semakin banyak orang penasaran, lalu justru datang membeli. Seakan-akan Tuhan sendiri membalikkan keadaan.
Eliana kecil tetap menjadi gadis yang sering menyalurkan rasa sesaknya melalui celotehan ringan. Ketika membeli sayuran atau buah di warung dekat rumah, ia sering bercerita.
“Mbak, tadi Mama dimarahin Papa lagi. Tapi aku bilang ke Mama, nggak usah takut. Aku ada sama Mama,” ucapnya polos pada penjual sayur.
Atau saat membeli buah, ia bergumam sambil tersenyum, “Semoga nanti jualan Mama tambah ramai, biar Mama nggak capek mikirin Papa.”
Cerita-cerita polos itu, selalu sampai ke telinga Mbak Ira—dirinya sendiri di masa dewasa. Seperti sebuah gema dari masa lalu yang dibisikkan kembali, setiap curhat kecil Eliana seakan hadir nyata.
Di warung, Mbak Ira yang tengah menata sayuran dan buah-buahan, mendadak merasa ada sesuatu berubah. Dadanya yang biasanya sesak ketika mengingat masa kecil, kini terasa hangat. Ada rasa lega yang mengalir, seolah beban yang lama mengikat dilepaskan perlahan.
Kepala bagian belakangnya, yang biasanya sering terasa berat dan mudah pening saat tekanan pekerjaan memuncak, kini terasa ringan. Ia menegakkan tubuh, menutup matanya sebentar, lalu menarik napas panjang.
“Kenapa ya… rasanya beda sekali hari ini,” gumamnya lirih. Ada sesuatu yang menenangkan, seperti pelukan lembut yang tak terlihat.
Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. “Ternyata… aku, Eliana kecil, benar-benar kuat. Aku bisa melewati itu semua. Dan aku masih hidup, masih berdiri sampai sekarang.”
Perasaan hangat itu mengalir deras, menyapu luka-luka lama yang selama ini membuatnya mudah rapuh. Ia tahu, perjalanan belum berakhir, tapi setidaknya hari ini ia merasakan—beban itu bisa perlahan diangkat.
Sementara di rumah sederhana itu, Eliana kecil berlari kecil ke arah Mamanya yang sedang melayani pesanan. “Ma, lihat… orang-orang makin banyak yang suka beli kue buatan Mama! Kita bisa bahagia lagi, kan?”
Mama menatap putrinya dengan senyum tulus, mengangguk penuh keyakinan. Dan di dua garis waktu yang berbeda, hati seorang anak dan seorang ibu saling menguatkan, menjadikan luka sebagai sumber cahaya baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar