Dongeng Si Cikal 15

Dongeng Si Cikal Bab 15 di blog Cerita Kemuning


Bab 15. Senyum yang Membungkam Fitnah


Hari itu, langit tampak teduh. Awan putih berarak pelan, seakan menjadi saksi bisu dari perjalanan Eliana kecil pulang sekolah. Seragam putih abu-abu yang dikenakannya tampak sedikit kusut, tapi wajahnya tetap cerah. Langkah kakinya ringan, meski hatinya sesungguhnya sudah belajar banyak tentang kerasnya hidup.


Di jalan setapak menuju rumah, beberapa orang yang tak asing baginya tiba-tiba muncul. Mereka adalah keluarga dari pihak Papa—para tante dan sepupu jauh yang jarang sekali menemuinya. Wajah mereka ramah, senyum mereka manis, seolah penuh kasih sayang.


“Eliana sayang…” salah satu tante itu mendekat sambil menepuk lembut bahunya. “Kamu pasti capek ya sekolah, kasihan sekali anak pintar seperti kamu harus melihat Mama dan Papa bertengkar. Tante harap kamu kuat ya.”


Eliana berhenti sejenak. Matanya menatap lurus ke wajah tantenya, lalu tersenyum kecil. Dari cara berbicara, intonasi suara, dan tatapan mata mereka, Eliana tahu ada maksud terselubung. Tuhan memberinya firasat yang tajam; ia bisa merasakan niat yang tidak tulus di balik kalimat manis itu.


“Terima kasih, Tante,” jawab Eliana dengan suara lembut. “Aku baik-baik saja. Lagipula, Papa dan Mama pasti tahu yang terbaik untukku. Aku percaya itu.”


Senyum Eliana membuat wajah si tante sedikit kaku. Mereka mencoba lagi.


“Kamu tahu, Nak… Papa-mu itu orang baik. Dia hanya sedang bingung. Kalau kamu dekat dengan Papa, mungkin nanti Papa luluh dan kembali ke rumah. Jangan sampai kamu terpengaruh oleh Mama, ya. Mama itu kadang keras kepala.”


Ucapan itu menusuk, jelas dimaksudkan untuk mengguncang hatinya. Namun, Eliana hanya tersenyum lagi. “Aku sayang Papa dan Mama. Aku juga percaya Tuhan tahu apa yang terbaik untuk keluarga ini. Aku tidak akan membenci salah satu dari mereka. Aku ingin semuanya baik-baik saja.”


Tante itu saling pandang dengan keluarga lain. Mereka seakan kecewa karena kalimat-kalimat simpati bercampur racun yang mereka lontarkan tidak berhasil menjatuhkan mental Eliana. Gadis kecil itu tetap berdiri tegak, menatap mereka dengan ketenangan yang jarang dimiliki anak seusianya.


Sesampainya di rumah, Eliana langsung memeluk Mamanya erat. “Mama, jangan sedih ya. Aku tahu banyak orang bicara macam-macam, tapi aku percaya Mama kuat. Aku juga kuat.”


Mama mengusap rambut Eliana, menahan air mata. Sejak memutuskan berpisah, tekanan datang dari berbagai arah. Namun, keteguhan hati Eliana menjadi sumber kekuatan baginya.


Di sisi lain, Papa semakin geram. Upayanya melalui keluarga untuk menggoyahkan hati anaknya gagal total. Eliana justru semakin dekat dengan Mama. Ia mulai merencanakan langkah lain yang lebih kejam.


Dengan wajah dingin, Papa berkata pada salah seorang kerabatnya, “Kalau begitu, jangan beri mereka kemudahan. Jangan beri uang sepeser pun untuk biaya sekolah anak itu. Biar mereka tahu rasanya hidup tanpa nafkah dariku.”


Kata-kata itu menjadi awal dari strategi licik berikutnya. Papa merasa dengan menekan dari sisi finansial, Mama akan menyerah. Ia yakin Mama tidak akan mampu bertahan. Namun, yang tidak pernah ia sadari adalah—Mama sudah menyiapkan langkahnya sendiri.


Malam itu, Mama duduk di ruang tamu dengan tatapan tenang meski hatinya bergolak. “Lia,” katanya sambil menatap Eliana, “kalau nanti Papa benar-benar berhenti memberi nafkah, kita tetap harus sekolah, ya. Mama akan kerja keras. Mama sudah mulai terima pesanan kue. Jadi jangan khawatir.”


Eliana mengangguk penuh keyakinan. “Aku percaya Mama. Aku juga nggak takut. Selama kita bersama, aku bahagia, Ma.”


Dan malam itu, di balik senyum dan doa-doa lirih, keduanya berjanji untuk tidak menyerah pada keadaan. Senyum manis Eliana bukan hanya membungkam fitnah, tetapi juga menjadi sinar yang menjaga agar hati mereka tetap kokoh di tengah badai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar