Dongeng Si Cikal 14

Dongeng Si Kecil Bab 14 di blog Cerita Kemuning


Bab 14. Membakar Amarah, Menumbuhkan Harapan


Surat itu datang pada suatu pagi yang tenang. Matahari baru saja merayap naik dari balik atap rumah-rumah tetangga ketika tukang pos berhenti di depan pagar, menyerahkan sebuah amplop cokelat dengan cap resmi. Mama menerimanya dengan tangan bergetar. Ia tahu betul, inilah yang ia tunggu-tunggu: panggilan resmi pertama dari Pengadilan Agama.


Sejenak Mama terdiam, menatap amplop itu seolah sedang berhadapan dengan garis takdirnya sendiri. Ada rasa lega bercampur ngeri, ada keberanian sekaligus kegugupan. Eliana kecil yang sedang sarapan di meja hanya bisa melihat wajah Mama berubah—ada senyum samar tapi juga tatapan mata yang penuh tekad.


Papa, yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah masih kusut, mendekat penasaran. “Apa itu?” tanyanya. Mama tak menjawab, hanya menyerahkan amplop itu di meja makan.


Papa meraihnya cepat, membuka paksa segelnya. Begitu membaca isi surat, wajahnya memerah. Suaranya bergetar menahan amarah.

“Ini... ini panggilan sidang cerai?!” Ia menatap Mama dengan sorot mata liar. “Kau benar-benar berani, Ratih? Kau pikir kau bisa lepas begitu saja dariku?”


Mama menghela napas panjang. “Aku tidak berniat berdebat pagi ini. Surat itu resmi dari Pengadilan Agama, dan aku akan menghadirinya.”


Papa terdiam sejenak, lalu menghantam meja dengan tinjunya. Gelas air di sampingnya jatuh dan pecah berantakan. Eliana kecil terlonjak kaget, matanya mulai berkaca-kaca. Mama segera mendekap anaknya, menenangkan dengan usapan lembut.


“Kau pikir aku tidak bisa menghentikanmu?” suara Papa rendah tapi mengandung ancaman. “Aku punya banyak cara, Ratih. Jangan lupa, aku masih suamimu. Kau tidak akan bisa keluar dari rumah ini tanpa izinku.”


Mama menatap lurus ke mata Papa, untuk pertama kalinya tanpa gentar. “Justru karena aku masih istrimu, aku berhak mengajukan ini ke pengadilan. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan langkahku.”


Papa menggertakkan gigi, lalu dengan kasar mengambil jaketnya. Ia menatap Eliana dengan wajah tiba-tiba penuh kesedihan, pura-pura lembut. “Papa pergi dulu, Nak. Doakan Papa, ya. Jangan benci Papa...” katanya sambil mengelus kepala Eliana.


Eliana kecil bingung, apalagi melihat air mata seolah-olah menetes dari sudut mata Papanya. Tapi Mama tahu, itu hanya sandiwara. Tatapan Papa pada dirinya masih penuh api dendam, tapi ia mencoba meraih simpati anaknya agar Mama luluh. Sayang, kali ini jurus itu tak lagi mempan.


Papa kemudian pergi dengan pintu yang dibanting keras, meninggalkan udara panas dan sesak. Mama memeluk Eliana erat, berbisik, “Tak apa, Nak. Kita masih punya satu sama lain. Papa mungkin marah, tapi kita akan baik-baik saja.”


---


Sejak hari itu, Papa memilih tinggal di rumah orang tuanya. Sesekali ia datang hanya untuk menegaskan keberadaannya, kadang membawa kata-kata manis untuk Eliana, namun semakin jarang berbicara dengan Mama. Keangkuhannya terluka, karena kendali yang dulu ia genggam erat mulai lepas satu per satu.


Mama tahu, ia tak bisa hanya menunggu proses sidang. Ia perlu berdiri di atas kaki sendiri, membuktikan bahwa dirinya bisa menafkahi anaknya tanpa uluran tangan Papa. Maka, lahirlah tekad baru: membuka usaha kecil-kecilan dari rumah.


Awalnya, Mama hanya membuat bolu pisang kukus seperti biasa—resep turun-temurun yang selalu disukai keluarga dan tetangga. Dulu, kue itu hanya dibagikan pada arisan atau syukuran. Kali ini, Mama menempelkan spanduk kecil di depan rumah:


“Terima Pesanan Bolu Pisang Kukus & Kue Kering – Ratih Homemade”


Spanduk sederhana itu menjadi tonggak keberanian.


Eliana kecil ikut bangga ketika melihat tetangga-tetangga mulai mampir, mencicipi, lalu memuji kue buatan Mama. “Enak sekali, Bu Ratih. Kenapa baru sekarang dijual? Harusnya dari dulu, ya,” kata Bu Yati, tetangga sebelah rumah.


Kabar menyebar cepat. Tak butuh waktu lama, pesanan mulai berdatangan—mulai dari kue ulang tahun anak-anak, toples kue kering untuk hajatan, hingga ada yang nekat memesan kue pengantin walau usaha Mama masih baru.


Mama menyambut semua itu dengan senyum dan kerja keras. Malam-malamnya dipenuhi suara mixer dan aroma manis adonan kue. Dapur kecil berubah menjadi ladang rezeki. Eliana sering duduk di sudut dapur, mengamati dengan mata berbinar bagaimana tangan Mama begitu cekatan mengaduk, menghias, dan membungkus kue.


“Mama capek?” tanya Eliana suatu malam.


Mama menoleh, menghapus keringat di dahinya, lalu tersenyum hangat. “Capek sedikit, Nak. Tapi capek ini menyenangkan. Karena setiap loyang kue yang keluar dari oven, itu artinya kita bisa bertahan, bisa hidup lebih baik.”


Eliana kecil memeluk pinggang Mamanya. “Aku bangga sama Mama.”


Air mata Mama menetes, tapi kali ini bukan karena luka. Melainkan karena harapan.


---


Sementara itu, Papa mendengar kabar tentang usaha Mama dari kerabatnya. Alih-alih bangga, ia justru makin tersulut. Di matanya, keberanian Mama membuka usaha adalah bentuk pembangkangan.


Dalam suatu kesempatan ketika ia menjemput Eliana, Papa menatap spanduk kecil itu dengan sinis. “Kau pikir dengan jualan kue seperti ini kau bisa hidup tanpa aku?” katanya pada Mama, suaranya merendahkan.


Mama tidak terpancing. “Aku tidak berpikir bisa hidup mewah. Aku hanya ingin anakku makan dari hasil kerja ibunya sendiri. Itu saja sudah cukup.”


Papa mendengus, lalu pergi tanpa komentar lagi. Tapi jelas dari raut wajahnya, keangkuhannya semakin tercabik.


---


Hari-hari berikutnya, usaha Mama perlahan berkembang. Ia mulai mendapat pelanggan tetap. Bahkan ada satu toko kecil yang bersedia menitipkan kue kering buatannya. Mama belajar mengatur keuangan sederhana, menabung dari setiap keuntungan yang ada.


Eliana kecil melihat perubahan itu dengan kagum. Meski masih kecil, ia bisa merasakan betapa kuat dan mandirinya Mamanya. Di balik semua luka hati, Mama justru tumbuh menjadi pribadi baru—lebih percaya diri, lebih tegar.


Namun, bayangan sidang yang akan datang tetap menyelimuti rumah itu. Papa, yang merasa kendali semakin lepas, bersiap dengan segala cara untuk mempertahankan egonya.


Di satu sisi, amarah Papa membakar semakin hebat. Tapi di sisi lain, dari dapur kecil itu, harapan baru sedang tumbuh.


Harapan yang tak bisa dipadamkan oleh teriakan, ancaman, atau manipulasi. Harapan seorang ibu yang ingin melindungi masa depan anaknya dengan cara yang jujur dan bermartabat.


Dan di sanalah, jalan cerita keluarga kecil itu mulai benar-benar berubah arah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar