![]() |
| Cerita seri pendek Nayera dan Abimanyu - Blog Cerita Kemuning |
Bab 1 – Kehangatan di Rumah Grosir
Mentari pagi menembus jendela rumah sederhana yang menyatu dengan toko grosir bahan kue milik keluarga Mahendra. Bau harum vanila dan cokelat bubuk menyeruak dari karung-karung yang tersusun rapi, berpadu dengan wangi kopi yang baru saja diseduh Mama. Suasana itu menjadi hal yang paling disukai Nayera Mahendra, atau biasa disapa Yera, setiap kali ia pulang kuliah dan singgah membantu orang tuanya.
“Yera, jangan lupa sarapan dulu sebelum ke kampus!” suara Mama terdengar dari dapur, hangat dan penuh perhatian. Mama sedang menyiapkan sepiring nasi uduk sederhana dengan potongan telur dadar dan sambal kacang yang harum.
“Siap, Ma! Tapi nanti aku makan di kantin kampus aja, biar nggak telat kuliah.” Yera muncul dari kamar dengan ransel hitam yang sudah penuh buku catatan. Rambut hitam panjangnya ia ikat sederhana, wajahnya segar meski semalam ia baru saja begadang mengerjakan tugas analisis pasar untuk kelas manajemennya.
Papa yang sedang menata kardus tepung terigu di toko menoleh, melirik putri sulungnya dengan tatapan campuran kagum dan khawatir. “Kalau terus-terusan begini, Papa takut kamu kecapekan, Yera. Kuliah sudah padat, masih ditambah bantu-bantu di toko. Kesehatanmu jangan disepelekan.”
Yera tersenyum, mendekati Papa dan membantu menumpuk kardus. “Aku senang kok, Pa. Lagian kan ini toko keluarga kita. Aku justru banyak belajar dari Papa dan Mama tentang cara dagang. Nanti kalau sudah lulus, siapa tahu aku bisa mengembangkan grosir ini lebih besar lagi.”
Papa menghela napas, tapi akhirnya ikut tersenyum. “Ya sudah, asal kamu janji tetap jaga diri.”
Tak lama, suara riang seorang remaja laki-laki terdengar dari dalam rumah. Andri, adik laki-laki Yera yang masih kelas dua SMA, muncul sambil membawa roti tawar yang sudah diolesi selai kacang. Rambutnya masih berantakan, jelas ia baru saja bangun tidur.
“Kak Yera, nanti sore jangan pulang terlalu malam ya. Aku pengen ngajarin Kakak cara main game baru. Seru banget!” ucap Andri polos.
“Duh, adikku sayang, Kakak ini sibuk kuliah dan bantuin Mama-Papa. Mana sempat main game?” Yera mencubit pelan pipi Andri.
Andri meringis tapi tetap tertawa. “Kalau Kak Yera nggak sempat, aku ajarin Papa aja deh!”
Papa dan Mama tertawa mendengar celotehan Andri. Kehangatan itu terasa sederhana, tapi justru sangat mahal. Tidak ada pertengkaran besar di rumah itu, hanya gurauan ringan yang membuat hari-hari terasa ringan.
---
Siang harinya, setelah menyelesaikan kelas Manajemen Strategi, Yera langsung menuju grosir. Ia sudah terbiasa menyeimbangkan perannya: mahasiswa berprestasi sekaligus anak pertama yang penuh tanggung jawab. Teman-temannya sering heran bagaimana Yera bisa tetap ceria meski jadwalnya padat. Hanya Yera sendiri yang tahu bahwa terkadang kepalanya terasa berat, seperti ada kabut yang menekan dari dalam. Namun, ia selalu menepis perasaan itu, memilih untuk tetap tersenyum.
“Assalamu'alaikum!” Yera masuk ke toko sambil melepas jaket. Mama yang sedang melayani pelanggan tersenyum lega.
“Wa'alaikumsalam, pas banget kamu datang, Nak. Tolong bantu timbang gula pasir ini, ya. Ibu-ibu ini pesan sepuluh kilo.”
“Siap, Ma!” Yera dengan cekatan mengambil timbangan, menakar gula, lalu membungkusnya dalam plastik besar. Senyum ramahnya membuat pelanggan nyaman.
Tak lama, Andri datang membantu menata stok susu kental manis. Walaupun masih remaja, ia sering diajak belajar berdagang oleh Papa. Andri memang lebih banyak bercanda, tapi diam-diam ia juga bangga dengan toko keluarganya.
“Kak Yera, tadi di sekolah aku cerita kalau keluargaku punya toko grosir bahan kue, teman-temanku langsung bilang iri. Katanya, bisa bikin kue kapan aja.” Andri terkekeh.
Yera menepuk bahu adiknya. “Lain kali bawa aja kue bikinan Mama ke sekolah. Biar mereka ngerasain juga.”
Mama menimpali sambil tertawa, “Iya, tapi nanti Mama nggak mau rugi. Harus dibayar dengan nilai rapor bagus!”
Suasana toko sore itu riuh oleh tawa keluarga. Yera merasa seakan hidupnya sudah lengkap: kuliah berjalan baik, keluarga harmonis, dan ia punya impian untuk melanjutkan usaha orang tuanya.
Namun, tanpa ia sadari, di balik keceriaan itu tubuhnya mulai mengirim tanda-tanda. Saat ia menunduk terlalu lama menulis nota pesanan, kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya sempat berkunang, tapi ia buru-buru mengibaskan tangan, seolah rasa pusing itu hanya kelelahan biasa.
“Aku baik-baik aja,” gumamnya lirih, tersenyum agar Mama dan Papa tidak curiga.
---
Malam harinya, setelah toko ditutup, keluarga berkumpul di ruang tengah. Papa menonton berita, Mama merapikan catatan keuangan, Andri sibuk dengan gawainya. Yera duduk di tengah, menatap wajah mereka satu per satu.
“Aku bersyukur punya keluarga seperti ini,” katanya tiba-tiba.
Andri menoleh, mengerutkan dahi. “Kenapa Kakak ngomongnya kayak orang mau pamitan gitu?”
“Bukan pamitan, Bodoh,” Yera mencubit lagi pipi Andri. “Cuma lagi terharu aja. Banyak teman kuliahku yang sering ngeluh soal keluarga. Ada yang orang tuanya sibuk kerja sampai nggak peduli, ada juga yang rumahnya penuh konflik. Tapi aku? Aku pulang kuliah selalu disambut Mama yang manis, Papa yang perhatian, dan adik yang… yah, meski kadang nyebelin, tapi tetap bikin ketawa.”
Papa tersenyum hangat. “Keluarga itu memang taman hati, Yera. Kalau dijaga dengan kasih sayang, pasti akan terus mekar.”
Mama menambahkan, “Dan kamu, Yera, adalah bunga indah di taman hati Mama-Papa.”
Yera terdiam sesaat, hatinya hangat. Kata-kata itu akan terus ia kenang. Namun, ia tidak tahu bahwa hidupnya kelak akan mempertemukannya dengan sebuah bunga liar yang berbeda—seorang laki-laki misterius yang tanpa ia sangka akan menjadi bagian penting dari taman hatinya.
Keesokan harinya, suasana toko lebih ramai dari biasanya. Pusat grosir bahan kue milik keluarga Mahendra memang menjadi salah satu yang terbesar di kawasan itu. Rak-rak kayu penuh dengan plastik berisi cokelat bubuk, botol pewarna makanan warna-warni, aneka essens, margarin, hingga kardus ragi instan. Aroma manis bercampur gurih memenuhi udara, membuat siapa saja yang masuk merasa seakan berada di dapur raksasa.
Yera baru saja selesai kuliah pagi, lalu langsung menuju toko. Kemeja putihnya masih rapi, namun wajahnya agak pucat. Ia menepuk pipinya pelan, berusaha menutupi rasa lelah. “Nggak boleh ketahuan, nanti Mama khawatir,” batinnya.
“Yera, tolong layani Mbak itu ya, mau beli butter,” kata Mama sambil menunjuk seorang pelanggan yang sudah menunggu.
“Siap, Ma!” Yera segera menghampiri. Senyum ramahnya langsung membuat pelanggan merasa nyaman. “Mau butter merk Bluebell atau Royal, Mbak? Lagi ada promo lho kalau beli dua karton.”
Pelanggannya tersenyum. “Wah, saya ambil yang Royal aja, Dek. Anak-anak lagi suka bikin kue kering.”
“Baik, Mbak. Saya ambilkan ya.” Yera bergerak cekatan, mengangkat karton butter meski agak berat. Punggungnya sempat terasa sakit, namun ia tetap bertahan, tidak ingin orang tuanya tahu ia sering merasa tidak enak badan.
Sementara itu, Papa sedang menata stok tepung. Andri sibuk dengan kalkulator di meja kasir, mencoba pura-pura serius menghitung. Namun sesekali ia melirik gawainya, membuat Papa geleng-geleng kepala.
“Andri, kalau kamu main HP terus, kapan bisanya ngitung uang grosir?” tegur Papa dengan nada setengah bercanda.
“Aku lagi belajar, Pa. Lihat nih, aku sudah bisa hitung pakai aplikasi, nggak usah pakai kertas.” Andri menunjukkan layar gawainya dengan bangga.
Papa terkekeh. “Dasar anak zaman sekarang. Untung ada Kakakmu, kalau nggak, toko ini bisa-bisa jadi tempat nongkrong, bukan grosir.”
Yera menoleh sambil membawa karton butter, ikut menimpali, “Tenang aja, Pa. Kalau Andri jadi kasir, paling-paling untung toko kita jadi terkenal di TikTok!”
Suasana seketika pecah dengan tawa. Pelanggan pun ikut tersenyum melihat kehangatan keluarga itu.
---
Malam hari, setelah toko ditutup, mereka sekeluarga makan malam bersama. Mama menyiapkan sop ayam hangat, nasi putih mengepul, dan sambal terasi yang pedas. Yera makan dengan lahap, meski kepalanya terasa berdenyut. Ia menunduk agak lama, membuat Andri menatapnya heran.
“Kak, kamu kenapa? Kelihatan pucat banget,” tanya Andri polos.
Yera cepat menggeleng. “Nggak, cuma capek kuliah. Tugasnya banyak banget. Besok juga ada presentasi.”
Mama ikut khawatir. “Jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Kalau kamu sakit, siapa yang bisa bantu Mama-Papa di toko?”
Yera buru-buru tersenyum. “Makanya aku harus sehat terus. Aku janji, Ma. Aku kuat kok.”
Papa menaruh sendoknya, menatap Yera dengan serius. “Yera, kamu memang anak yang rajin. Papa bangga. Tapi jangan lupa, tubuhmu bukan mesin. Kalau perlu istirahat, bilang. Jangan ditahan.”
Hening sejenak. Yera menghela napas, lalu mengangguk pelan. “Iya, Pa. Aku ngerti.”
Andri, dengan nada ceria khasnya, mencoba mencairkan suasana. “Tenang aja, Pa, Ma. Kalau Kak Yera sakit, aku siap jadi pengganti. Aku bakal jaga toko, kasih diskon gede-gedean, dan—”
“—dan bikin toko bangkrut dalam semalam,” potong Yera sambil tertawa.
Meja makan kembali riuh dengan tawa, meski jauh di dalam hati Yera menyimpan rasa cemas yang tidak pernah ia ucapkan.
---
Beberapa hari berikutnya, rutinitas berjalan seperti biasa. Yera berangkat kuliah pagi, menghadiri kelas Statistik Bisnis yang penuh dengan angka-angka rumit. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswi berprestasi dan aktif di kelas. Banyak dosen menyukainya karena selalu sigap menjawab pertanyaan.
Selesai kuliah, ia langsung menuju grosir. Di sanalah ia merasa dirinya berguna, bukan hanya untuk masa depannya, tapi juga untuk keluarganya. Ia membantu mencatat stok barang, melayani pelanggan, bahkan terkadang ikut menata pajangan agar lebih menarik.
“Yera, coba kamu buat daftar barang yang paling laris minggu ini. Papa pengen tahu,” ujar Papa suatu sore.
“Siap, Pa. Aku catat di buku, sekalian aku bandingkan sama minggu lalu. Jadi bisa kelihatan tren penjualannya.” Yera mencoret-coret di buku catatannya, begitu serius hingga tak sadar waktu berlalu cepat.
Andri menghampiri dengan segelas es teh. “Kak, minum dulu. Kalau kamu terus-terusan serius gini, nanti malah sakit beneran.”
“Thanks, Andri.” Yera tersenyum, menerima gelas itu. “Kamu juga harus belajar serius. Biar nanti bisa bantu Papa lebih banyak.”
Andri mendengus. “Iya sih, tapi aku lebih pengen belajar dari Kak Yera. Kakak itu keren. Kuliah, bantuin toko, masih sempet bercanda. Aku pengen kayak Kakak.”
Yera tertegun sejenak, menatap adiknya. Hatinya hangat. “Andri, kamu nggak perlu jadi kayak Kakak. Kamu cukup jadi dirimu sendiri, tapi jangan lupa tanggung jawab. Itu yang bikin Papa-Mama bangga.”
Andri tersenyum malu-malu. “Oke, Kak. Janji deh.”
---
Malam itu, sebelum tidur, Yera duduk di meja belajarnya. Lampu belajar kecil menerangi buku-buku tebal di hadapannya. Ia memijat pelipis, mencoba mengusir sakit kepala yang makin sering datang. Ia tahu ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak ingin membebani keluarganya.
“Aku harus kuat,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku nggak boleh bikin Mama-Papa khawatir. Aku harus jadi kebanggaan mereka.”
Di luar jendela, langit malam bertabur bintang. Yera memandanginya sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia tidak pernah tahu bahwa takdir sedang menyiapkan pertemuan dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya—seorang laki-laki sederhana, pekerja keras, yang kelak menjadi bunga liar di taman hatinya.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar