Belajar Ridho, Belajar Hidup (Bagian 1)

Ilustrasi seorang remaja putri sedang duduk dibawah pohon besar yang berada di taman dan banyak bunya daisy dan rose
Ilustrasi remaja putri berteduh di bawah pohon besar - Blog Cerita Kemuning


Belajar Ridho, Belajar Hidup: Catatan Perjalanan dari Usia 20-an


Hidup itu kadang tidak pernah berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Di usia remaja, banyak sekali angan-angan indah yang terasa masuk akal. Kita kira jalan setelah lulus sekolah akan mulus, pekerjaan akan sesuai dengan keinginan, dan masa depan akan langsung terlihat jelas. Tapi begitu menginjak usia 20 tahun, barulah terasa bahwa dunia nyata itu tidak semudah lembar jawaban di kelas.


Aku pernah berada di titik itu. Usia dua puluh tahun, masih muda, masih bingung arah, tapi sudah harus menelan kenyataan hidup yang tidak selalu manis.


Usia 20: Asisten Bidan Desa Bodong


Siapa sangka, anak lulusan SMA jurusan IPA—yang bahkan masuk IPA karena terpaksa nurut orang tua—akhirnya bekerja jadi asisten bidan desa? Hehe, kalau dipikir sekarang rasanya lucu juga. Apalagi aku bukan lulusan kesehatan, bukan bidan, bukan perawat. Ya jelas statusku “bodong”.


Tapi begitulah takdir. Aku diterima bekerja di sebuah tempat praktek kecil yang hanya dipisahkan sekat tebal kain seperti di puskesmas. Bidan desa yang baik hati tidak memandangku sebelah mata. Aku diajari membuat pembukuan pasien, menata obat-obatan, bahkan mencuci alat medis setelah digunakan. Kadang kalau ada ibu yang melahirkan, aku ikut membantu menyiapkan perlengkapan dan mengurus bayi yang baru lahir.


Pekerjaan itu membuatku sadar, hidup tidak bisa selalu menuruti ego sendiri. Walaupun bukan bidang yang aku pilih, aku belajar banyak. Tentang kesabaran, tentang rasa tanggung jawab, tentang bagaimana orang yang awalnya merasa “tidak mampu” ternyata bisa kuat ketika dijalani.


Namun, perjalanan itu tidak lama. Aku akhirnya berpamitan untuk mencoba pekerjaan lain di kota.


Usia 21: Bekerja di Toko Aluminium


Aku pindah kerja ke sebuah toko aluminium di kota. Harapannya sih bisa belajar hal baru, mendapat pengalaman yang lebih baik. Tapi ternyata hanya bertahan tiga bulan. Alasannya? Karena toko itu sedang sepi proyek dan harus mengurangi karyawan. Namaku masuk ke daftar yang harus keluar.


Jujur, aku lega. Sangat lega. Karena tanpa sepengetahuan pamanku—orang yang memasukkan aku ke toko itu—ada beberapa hal tidak mengenakkan. Ada senior yang terang-terangan tidak suka denganku, bahkan ada seorang karyawan laki-laki yang hampir melecehkan. Aku bertahan hanya karena tidak ingin membuat pamanku malu. Jadi ketika ada pengurangan karyawan, aku menghela napas panjang dan berucap dalam hati, “Alhamdulillah, ya Allah, Engkau mengabulkan doaku dengan cara yang indah. Aku bisa keluar dengan mulus, tanpa harus kabur, tanpa membuat paman malu.”


Di angkot perjalanan pulang, aku tersenyum sendiri. Kadang cara Allah membebaskan kita dari sebuah goa kesengsaraan itu begitu halus, sampai kita hanya bisa berkata, “Terima kasih, ya Rabb.”


Usia 22: Jadi Operator Pendataan Sekolah


Lalu, di usia 22 tahun, aku masuk ke dunia baru lagi: bekerja di sekolah swasta tingkat menengah kejuruan. Karena hanya lulusan SMA, aku ditempatkan di tata usaha bagian inventaris. Awalnya pekerjaan terasa biasa, tapi kemudian ada tugas tambahan: menjadi operator pendataan sekolah.


Tahun 2012, aplikasi pendataan sekolah baru saja diluncurkan ke seluruh Indonesia. Tugasnya berat—mendata semua yang ada di sekolah, mengikuti rapat, belajar aplikasi baru. Aku yang introvert tiba-tiba harus keluar dari zona nyaman: bertemu orang baru, ikut rapat bersama operator dari sekolah lain, bahkan ikut forum-forum nasional.


Awalnya minder sekali. Dalam hati selalu ada bisikan, “Ah, kamu kan cuma lulusan SMA. Takut dibilang otaknya cuma otak SMA.” Tapi aku tetap belajar. Aku rajin mencari informasi, masuk grup operator se-Indonesia, bahkan rela mengubek-ubek forum hanya untuk memahami hal-hal teknis.


Alhamdulillah, kerja keras tidak sia-sia. Sekolah tempatku bekerja selalu masuk 10 besar dalam hal update data tepat waktu. Itu pencapaian kecil yang membuatku bangga. Meski begitu, aku tetap kesulitan di pertemanan. Aku tidak banyak teman, hanya beberapa orang saja. Tapi itu cukup, karena niatku memang bekerja, bukan mencari popularitas.


Usia 25: Rasa Jenuh


Memasuki tahun ketiga dan keempat, rasa jenuh mulai datang. Pekerjaan monoton, gaji tidak naik signifikan, dan jalan ke depan terasa buntu. Aku bahkan sempat mencari tahu apakah lulusan SMA masih bisa jadi PNS. Jawabannya? Tidak bisa. Minimal D3.


Di situlah semangatku mulai menurun. Aku bertahan sampai tahun kelima, lalu akhirnya menyerah. Aku pamit baik-baik pada kepala sekolah, yang juga istri dari pendiri yayasan.


Keluar dari pekerjaan itu seperti membuka lembaran baru, tapi juga penuh tanda tanya besar: Lalu aku mau jadi apa?


Usia 27: Jodoh Tak Kunjung Datang


Di usia 27 tahun, beban baru muncul. Masa depan masih tidak jelas, pekerjaan belum tetap, dan jodoh? Hilalnya pun belum terlihat.


Tetangga, keluarga, sanak saudara mulai heboh. Ada yang menyarankan dijodohkan saja, ada yang mendesak agar segera menikah. Tapi Mama selalu jadi perisai yang paling teguh. Mama bilang, “Biar gimana juga, yang mau ngejalanin rumah tangganya itu dia sendiri.”


Aku hanya bisa tersenyum, meski dalam hati menghela napas panjang. Aku juga tidak tahu siapa jodohku, bagaimana ceritanya nanti. Sering muncul pikiran “seandainya saja dulu begini”, “seandainya saja dulu begitu”. Tapi aku sadar, mesin waktu Doraemon tidak ada. Yang ada hanyalah takdir yang harus dijalani dengan sabar.


Aku belajar menerima. Belajar ridho. Belajar istiqomah. Belajar tawakal. Dan itu tidak mudah.


Waduk Jatigede dan Dunia Potret


Tahun 2015, kampungku terkena gusuran untuk pembangunan Waduk Jatigede. Rumah kami pindah ke pesisir waduk, dan Mama membuka warung kopi kecil di tepi waduk. Dari sanalah aku menemukan hal baru: dunia potret.


Setiap pagi, aku bisa menyaksikan cahaya matahari muncul di ufuk timur, memantul di permukaan air waduk. Saat musim kemarau dan air surut, banyak bunga-bunga bermekaran di tepian waduk. Bunga-bunga yang bahkan belum pernah aku lihat sebelumnya. Ada juga tanaman markisa hutan, buahnya bisa dimakan, bunganya indah, dan selalu jadi sasaran kamera ponselku.


Dari situ aku belajar, keindahan hidup kadang tersembunyi di balik luka. Waduk memang menggusur kampungku, tapi juga memberiku kesempatan baru untuk melihat dunia dari lensa kamera.


Belajar Ridho


Kalau aku renungkan, perjalanan dari umur 20 sampai 27 tahun itu memang tidak mulus. Penuh jatuh bangun, rasa minder, jenuh, kecewa, bahkan hampir kehilangan arah. Tapi setiap tahap punya pelajaran.


  • Dari bidan desa aku belajar tanggung jawab dan kesabaran.
  • Dari toko aluminium aku belajar bahwa Allah selalu punya cara menyelamatkan kita dari bahaya. 
  • Dari operator sekolah aku belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
  • Dari rasa jenuh aku belajar bahwa tidak semua jalan harus diteruskan. Kadang kita perlu berhenti dan mencari arah baru.
  • Dari desakan menikah aku belajar bahwa hidup itu bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain.
  • Dari Waduk Jatigede aku belajar bahwa kehilangan bisa membuka jalan pada hobi baru, bahkan cara baru untuk memandang hidup.


Hidup memang penuh seandainya. Tapi ridho membuat kita bisa berdamai dengan masa lalu.


---


Penutup


Hidup di usia 20-an itu ibarat naik roller coaster. Kadang naik, kadang turun, kadang menegangkan, kadang membuat ingin menyerah. Tapi setiap momen punya arti. Dan semua itu adalah bekal menuju fase berikutnya.


Mungkin aku tidak punya masa lalu yang sempurna. Tapi aku punya pelajaran berharga: bahwa ridho adalah kunci. Selama kita belajar ikhlas, belajar sabar, dan tetap berniat baik, insyaAllah Allah juga akan ridho pada langkah-langkah kecil kita.


Perjalanan ini belum selesai. Masih panjang, masih banyak bab yang belum ditulis. Tapi aku percaya, setiap usia punya ceritanya sendiri. Dan aku akan terus menulisnya—bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan hidup yang kujalani sehari-hari.


---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.



---

Ilustrasi remaja putri yang seorang introvert berada di ruangan penuh bunga di sebuah pondok
Ilustrasi remaja putri berada di ruangan penuh bunga - Blog Cerita Kemuning


Tidak ada komentar:

Posting Komentar