![]() |
| Ilustrasi seorang ibu dan putrinya piknik di sisi danau - Blog Cerita Kemuning |
Menulis, Luka Lama, dan Hal-Hal Kecil yang Bikin Aku Bertahan
Ada kalanya aku bertanya ke diri sendiri, “Kenapa sih aku masih nulis, padahal sering ditolak?”
Jawaban paling jujur sebenarnya sederhana: karena menulis bikin aku tetap waras. Menulis adalah cara paling aman buat ngobrol sama diri sendiri, tanpa takut dihakimi, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar.
Tapi kalau ditanya lebih dalam lagi, alasanku tetap menulis dan berusaha bekerja dari rumah juga punya kaitan erat dengan masa kecilku. Aku pernah merasakan rasanya jauh dari mama, bukan karena beliau tidak sayang, tapi karena keadaan yang memaksa begitu. Setelah melahirkan adikku dengan operasi caesar, mama harus menghadapi operasi besar lagi hanya seminggu setelahnya. Ada masalah di usus kecil yang bikin perutnya membengkak, hingga beliau harus berjuang keras untuk pulih. Karena itu, aku dan adikku sempat dititipkan ke kakek-nenek.
Aku paham, itu bukan salah mama. Tapi sebagai anak kecil, tentu ada rasa hampa yang tertinggal. Kontak dengan mama hanya sebatas lewat telepon, sementara sehari-hari aku lebih banyak ditemani kakek-nenek yang perannya lebih sebagai pelindung dan penyedia kebutuhan dasar. Dari situ, tanpa sadar, ada luka kecil yang menempel di hati.
Untungnya, aku punya adik laki-laki yang meski usianya terpaut jauh, sejak kecil sudah seperti tahu kalau kami harus saling melindungi. Dia tumbuh jadi sosok yang sholeh, pekerja keras, dan selalu berusaha menjaga aku. Itu membuatku sadar: pengalaman pahit tidak selalu melahirkan kepahitan baru, tapi bisa juga menumbuhkan kasih sayang yang lebih dalam.
Mungkin karena itulah, ketika aku jadi seorang ibu, aku bertekad tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Aku ingin ada di sisi anakku, menjaga, menemani, bahkan memeluknya saat ia terlelap. Aku tidak ingin ia sampai bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa hatiku merasa hampa, bahkan di tengah keramaian?” seperti dulu yang sempat aku rasakan.
Makanya, aku lebih memilih bekerja dari rumah, atau kalau pun harus bekerja di luar, sebisa mungkin dekat dengan rumah. Supaya waktu pulang sore, aku masih bisa menemani anakku dengan utuh. Itu alasan paling kuat kenapa aku tetap berusaha menulis, meski kadang jalannya terasa berat.
Dan soal menulis itu sendiri, aku menemukan banyak penghiburan dari hal-hal kecil di sekitarku. Awan yang bergerak pelan di langit, matahari sore yang memantulkan warna keemasan, bunga yang tiba-tiba mekar, atau angin sepoi yang bikin ngantuk—semuanya bisa jadi bahan cerita. Tidak selalu harus aku abadikan dengan kamera ponsel, karena ada saat-saat indah yang justru lebih kuat jika dituangkan lewat kata-kata.
Bahkan musik favorit, hujan yang turun deras, atau sekadar aroma kopi di sore hari bisa jadi pemantik untuk kembali duduk dan menulis. Hal-hal kecil itu seperti pengingat bahwa inspirasi sebenarnya selalu ada, hanya menunggu kita membuka mata dan hati.
Di sisi lain, aku juga sering menemukan kekuatan baru dari media sosial. Bukan untuk ikut-ikutan tren atau sekadar scrolling tanpa arah, tapi lebih ke mencari kata-kata penyemangat dari orang-orang yang pernah jatuh dan bangkit lagi. Ada influencer yang bilang, “Perusahaan tempatmu bekerja bisa dengan cepat mencari pengganti, tapi kalau kamu sakit, kamu sendirilah yang harus berjuang untuk pulih.” Kata-kata itu nempel banget di kepalaku, karena aku pernah merasakannya.
Dulu, kerja di pabrik membuatku sering merasa tertekan. Tekanan kerja, ritme yang keras, sampai akhirnya sakit tanpa ada yang benar-benar tahu bagaimana rasanya. Itu jadi pengalaman berharga, meski pahit, karena dari situ aku sadar: kesehatan itu nggak bisa ditawar. Kalau badan roboh, kita tetap harus bangkit sendiri, pelan-pelan, sampai pulih lagi.
Belakangan aku juga menemukan inspirasi lain: “Kalau bisa, jadikan hobimu sebagai sumber penghasilan.” Katanya, kalau pekerjaan lahir dari hal yang kita sukai, deadline dan tantangan tidak lagi terasa seperti beban, melainkan tantangan yang bisa dinikmati. Itu yang coba aku terapkan dengan menulis.
Memang, menulis belum selalu menghasilkan besar. Kadang ditolak penerbit, kadang sepi pembaca. Tapi setiap kali aku hampir menyerah, hal-hal kecil yang indah di sekitar, ditambah kata-kata inspiratif yang nyasar di beranda sosmed, membuatku kembali duduk dan menulis lagi.
Karena buatku, menulis bukan hanya soal hasil. Menulis adalah tentang menjaga kewarasan, menemani diri sendiri, sekaligus warisan kecil untuk anakku kelak—bahwa ibunya pernah berjuang dengan caranya sendiri.
Jadi, meski sering ditolak, meski jalannya lambat, aku tetap memilih menulis. Karena di balik kata-kata yang kutulis, ada cinta, luka lama, semangat, dan hal-hal kecil yang bikin aku bertahan. 🌸
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---
![]() |
| Ilustrasi seorang ibu dan putrinya duduk santai di sisi danau - Blog Cerita Kemuning |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar