Bab 10. Benang yang Kian Menjerat
Suasana rumah itu makin lama makin berubah. Jika dulu hawa yang terasa hanya suram, penuh pertengkaran kecil dan bisikan keluh kesah, kini ada sesuatu yang lain. Mama tampak lebih kuat. Wajahnya tidak sesuram dulu, tidak mudah meledak hanya karena Papa pulang larut atau ucapan orang yang menusuk. Lia kecil pun terlihat lebih berani. Tangannya sudah terbiasa menggenggam kuat, langkah kakinya lebih tegak ketika berjalan. Bahkan, tetangga sekitar mulai memperhatikan perubahan itu.
Namun perubahan yang dirasakan positif oleh Mama dan Lia kecil, justru menyalakan alarm curiga di benak Papa.
Papa duduk di kursi ruang tamu malam itu, sambil menatap jam dinding yang berdetak pelan. Kopi hitam di mejanya sudah dingin, tapi ia tidak menyentuhnya. Matanya memperhatikan Mama yang sedang menyiapkan selimut untuk Lia kecil di kamar. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan: perubahan sikap istrinya. Mama yang biasanya rapuh dan mudah terpengaruh, kini sering terlihat berani menolak atau menunda perintah Papa. Mama juga lebih sering terlihat berdoa, membaca buku kecil usang peninggalan neneknya, dan berbicara panjang dengan Lia kecil sebelum tidur.
Papa menghela napas berat.
"Sejak kapan mereka jadi begini? Apa ada seseorang yang campur tangan?" gumamnya dalam hati.
---
Eliana dewasa, dalam tubuh Mbak Ira, bisa merasakan hawa curiga itu. Malam-malam ia sering resah, khawatir kalau Papa benar-benar menaruh mata penuh kecurigaan pada Mama dan Lia kecil. Ia tahu betul bagaimana Papa bisa berubah menjadi pria manipulatif. Bagi orang luar, Papa mungkin tampak sopan, pekerja keras, bahkan bertanggung jawab. Tapi Eliana dewasa tahu: di balik senyumannya, ada bara ambisi yang tak pernah padam.
"Papa selalu ingin semua orang tunduk. Dan jika Mama mulai menunjukkan kekuatan, Papa akan merasa itu ancaman." pikir Eliana sambil menatap langit-langit kamar Mbak Ira, tubuhnya kaku.
Di taman dekat sekolah, latihan Lia kecil bersama Eliana masih berlanjut. Hanya saja pertemuan mereka tidak sesering dulu. Mama yang mulai sedikit paranoid takut kehilangan anaknya, membatasi interaksi. Lia kecil kini hanya bisa bertemu ketika disuruh membeli sayuran atau buah ke warung Mbak Ira. Tetapi, justru di pertemuan yang singkat-singkat itu, Eliana dewasa memanfaatkan waktu dengan maksimal.
"Jangan takut kalau orang tuamu bertengkar," bisik Eliana suatu sore, sambil menyodorkan sepotong apel. "Kamu hanya perlu kuat, dan tahu apa yang benar."
Lia kecil menatapnya, matanya berbinar. "Tapi Mama sering sedih. Kalau Mama pergi, aku sendirian."
Eliana tersenyum getir. "Kamu nggak akan sendirian. Aku ada di sini."
Dalam hati Eliana dewasa bergetar. Ia ingin memeluk Lia kecil lebih erat, ingin berteriak kalau dirinya bukan sekadar orang asing, tapi dirinya sendiri di masa depan. Namun ia menahan. Rahasia itu harus disimpan rapat-rapat.
---
Hari demi hari berlalu. Mama makin terlihat bersemangat. Ia mulai mengatur pola makan keluarga, bahkan mengajak Lia kecil bangun pagi untuk berolahraga ringan. Senyum tipis yang dulu jarang muncul, kini kembali menghiasi wajah Mama. Namun di balik senyum itu, Eliana tahu, ada luka yang belum sembuh.
Dan luka itu kembali ditusuk ketika seorang teman lama Mama datang berkunjung.
Namanya Ratna, salah satu sahabat kuliah Mama dulu. Dari luar, ia tampak manis dan perhatian. Tetapi Eliana dewasa masih ingat jelas dari masa dewasanya: Ratna adalah orang yang suka memanfaatkan kelemahan orang lain. Ia pintar bicara, pandai menebar simpati, namun di baliknya selalu ada kepentingan pribadi.
Ratna datang dengan wajah penuh iba. "Astaga, kamu masih bertahan juga, Ratih? Aku salut. Kalau aku jadi kamu, mungkin sudah pergi dari rumah ini."
Mama hanya tersenyum tipis, matanya menunduk. "Semua ini rumahku, Ratna. Aku tidak bisa begitu saja pergi."
Ratna tertawa kecil. "Rumah? Rumah macam apa ini kalau kamu setiap hari hanya jadi bulan-bulanan? Suamimu jelas-jelas mengatur segalanya. Kamu berhak bahagia, Ratih. Jangan mau terus dikekang."
Eliana dewasa yang menyimak dari sudut ruangan, dada berdebar kencang. Inilah yang kutakutkan. Ratna akan menyalakan api pemberontakan yang salah. Jika Mama tergoda mengikuti sarannya, keluarga ini bisa hancur lebih cepat.
Mama hanya diam, tapi dari wajahnya terlihat galau. Ratna makin giat menekan. "Kamu tahu, ada banyak jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa kenalkan dengan orang-orang yang bisa membantumu pindah. Tidak semua lelaki sejahat suamimu."
Hati Eliana dewasa nyaris meledak. Ia ingin menjerit: Jangan dengarkan! Semua itu jebakan! Tetapi yang keluar hanyalah kalimat lirih lewat bibir Mbak Ira ketika ia pura-pura ikut nimbrung, "Kadang, yang kita butuhkan bukan kabur, tapi menguatkan diri di tempat kita berdiri."
Ratna sempat menoleh, alisnya terangkat heran. Namun Mama mendengarnya, dan tampak seperti menemukan cahaya kecil. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum pada Ratna. "Terima kasih, Ratna. Tapi aku rasa... aku harus tetap di sini. Untuk Lia."
Ratna terdiam, seolah tersinggung. Namun ia tak bisa memaksa lebih. Ia hanya pamit dengan wajah dingin, lalu meninggalkan rumah.
---
Malamnya, Papa kembali dengan langkah berat. Ia menatap Mama yang sedang menidurkan Lia kecil, lalu bertanya dengan nada datar, "Tadi siang ada tamu ya?"
Mama menoleh sekilas. "Iya, Ratna. Teman lama."
Papa menatapnya lekat, senyum tipis muncul di wajahnya. "Bagus... kamu masih punya teman yang peduli. Tapi hati-hati, kadang teman bisa lebih berbahaya daripada musuh."
Kata-kata itu terdengar lembut, tapi bagi Eliana dewasa terasa seperti ancaman. Papa sedang menebar jerat. Ia tidak marah, tapi justru itu yang berbahaya: ia menyimpan rencana.
Malam itu, Eliana dewasa merenung panjang. *Papa sudah mulai menaruh perhatian khusus. Mama pun terhimpit antara godaan teman dan cengkraman Papa. Aku harus memastikan Mama tidak goyah. Kalau tidak, semua yang kuperjuangkan akan sia-sia.*
Ia menatap Lia kecil yang tidur pulas di samping Mama. Wajahnya polos, tenang, seakan tidak tahu badai besar tengah menunggu. Eliana mengulurkan tangan, mengusap rambut Lia kecil pelan.
"Bertahanlah, Nak... bertahanlah. Kau adalah aku, dan aku adalah kau. Bersama, kita akan menghadapi semuanya."
---
Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Mama semakin rajin beribadah, membentengi diri dari kata-kata Ratna. Lia kecil semakin berani berbicara di sekolah, tidak mudah diejek teman-temannya. Namun Papa juga semakin sering mengawasi, memperhatikan gerak-gerik istrinya. Ia mulai menanyakan hal-hal kecil dengan detail, seolah ingin mencari celah.
"Kenapa kamu sering keluar rumah sore-sore?" tanya Papa suatu malam, nada suaranya tenang namun menusuk.
Mama menelan ludah. "Aku... hanya menemani Lia beli sayur."
Papa mengangguk pelan, matanya menyipit. "Hati-hati. Jangan sampai ada yang menjerumuskanmu."
Di dalam dada Eliana, amarah bergolak. Papa selalu memutarbalikkan keadaan, seolah dialah satu-satunya yang paling benar. Namun Eliana menahan diri. Semua harus berjalan sesuai rencana.
"Aku tidak boleh terburu-buru. Yang terpenting sekarang adalah menjaga Mama tetap kuat, Lia kecil tetap tumbuh berani. Sementara Papa... biarlah ia menjerat dirinya sendiri dengan ambisinya."
Di balik kesunyian malam itu, Eliana tahu: pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar