Dongeng Si Cikal 11

Dongeng Si Cikal Bab 11 di blog Cerita Kemuning


Bab 11. Jejak Pengkhianat 


Hari-hari Mama dan Lia kecil belakangan ini mulai sedikit lebih tenang. Setelah sempat dilanda guncangan batin karena sikap Papa yang makin tak terkendali, Mama berusaha memperbaiki dirinya. Setiap malam, Mama mulai meluangkan waktu lebih lama untuk berdoa, memohon petunjuk Tuhan agar diberi jalan keluar terbaik. Lia kecil pun sedikit demi sedikit ikut merasakan ketenangan, meski masih ada ruang kosong di hatinya yang penuh luka.


Eliana dewasa yang kini berada dalam tubuh Mbak Ira tersenyum samar setiap kali melihat perubahan itu. Ia tahu, kehadirannya di masa lalu bukan sekadar kebetulan. Ada alasan besar mengapa Tuhan mengizinkannya kembali: agar ia bisa melindungi Mama dan dirinya sendiri versi kecil dari kehancuran yang lebih dalam.


Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Di balik semangat Mama yang mulai pulih, ada sebuah niat besar yang tersimpan rapi: mengajukan perpisahan ke Pengadilan Agama. Mama tahu, keputusan itu berat. Tapi semakin hari, semakin jelas bahwa Papa bukan lagi sosok yang bisa diajak berjalan bersama. Sikap manipulatif, ambisi yang membabi buta, hingga kehadiran perempuan-perempuan lain yang ia nikahi diam-diam sudah menghancurkan segalanya.


“Lia, Nak… Mama hanya ingin kau tumbuh di lingkungan yang sehat,” ucap Mama lirih suatu malam sambil mengelus kepala Lia kecil yang sudah terlelap.

Eliana dewasa yang di dunia ini bisa melihat dengan mata bathinnya ikut merasakan getirnya. Dalam hati ia berbisik: Mama, kau tidak akan sendirian. Aku ada di sini. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu jatuh.


---


Mama mulai mengatur langkah. Diam-diam ia mencari informasi bagaimana cara mengajukan gugatan perpisahan. Ia tidak bercerita pada banyak orang—hanya beberapa sahabat lamanya yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahnya. Mama percaya pada mereka, setidaknya itulah yang ia yakini.


Namun rupanya, tidak semua sahabat benar-benar tulus. Salah seorang dari mereka—tanpa disadari—menyimpan perasaan khusus pada Papa. Ada rasa kagum bercampur obsesi aneh yang membuatnya berbalik arah. Bagi sahabat ini, Papa adalah sosok yang karismatik, meski penuh cela. Ia terbuai oleh janji-janji manis Papa, dan akhirnya menjadi ‘mata-mata’ yang membocorkan semua rencana Mama.


Suatu sore, Papa pulang dengan wajah penuh keyakinan. Senyum tipisnya membuat udara rumah terasa mencekam. Mama yang tengah menyiapkan teh langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.


“Jadi… kau sudah berniat ke Pengadilan Agama, ya?” tanya Papa dengan suara datar, namun sorot matanya tajam menusuk.


Mama terperanjat. Cangkir di tangannya hampir terlepas. Ia yakin tak pernah membicarakan hal itu pada siapa pun selain sahabat-sahabat lamanya.

“Dari mana… kamu tahu?” Mama mencoba tenang, meski jantungnya berdegup kencang.


Papa menyunggingkan senyum sinis. “Ah, kau lupa siapa aku? Semua bisa kuketahui. Kau pikir bisa sembunyi? Tidak semudah itu. Lagi pula…” Papa mendekat, menatap Mama dengan sorot penuh penguasaan, “…kau tidak akan pernah bisa sampai ke Pengadilan Agama. Aku bisa pastikan itu.”


Mama menatap Papa dengan sorot kaget bercampur marah.

“Apa maksudmu?”


Papa tertawa kecil, lalu berkata dengan nada manipulatif, “Kau pikir hakim-hakim itu akan berpihak padamu? Kau pikir kau bisa dengan mudah mendapatkan akta janda? Jangan mimpi. Aku punya banyak cara untuk menghentikanmu. Ingat, tanpa aku, kau bukan siapa-siapa. Kau tidak akan pernah menjadi apa pun kalau bukan karena aku. Bahkan anak itu—” ia melirik ke arah kamar Lia kecil, “—tidak akan pernah ada kalau bukan karena aku.”


Kata-kata itu menghantam hati Mama. Begitu menusuk, begitu merendahkan. Tapi anehnya, kali ini Mama tidak menangis. Ia hanya terdiam, menahan gemetar di dadanya. Ada luka, ada marah, tapi juga ada kekuatan baru yang tumbuh.


Begini rupanya caramu, ya… batin Mama. Kau benar-benar tidak menghargai apa pun selain dirimu sendiri.


---


Meski hatinya bergetar, Mama tidak gentar. Justru semakin jelas baginya, Papa sudah berubah menjadi orang yang tak lagi bisa dipertahankan. Ia tidak peduli lagi pada ancaman-ancaman halus itu.


Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikiran Mama: bagaimana mungkin Papa tahu soal niat ke Pengadilan Agama? Ia sama sekali tidak pernah membicarakan hal itu pada Papa, apalagi pada keluarga Papa. Satu-satunya kemungkinan adalah: salah seorang sahabatnya sendiri yang berkhianat.


Malam itu, Mama duduk lama di kursi santai samping rumah setelah Lia kecil tidur. Eliana dewasa—dalam tubuh Mbak Ira—datang dan duduk di sampingnya.

“Ibu… ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Mbak Ira dengan lembut, meski sebenarnya itu adalah Eliana sendiri yang bertanya.


Mama menghela napas panjang. “Saya tidak mengerti, Mbak Ira. Saya tidak pernah bilang apa-apa ke siapa pun selain beberapa sahabatku. Tapi entah bagaimana, dia bisa tahu. Rasanya ada yang salah. Apa ada yang mengkhianati saya”


Eliana dewasa menatap Mama dalam-dalam. Dalam hatinya ia tahu benar: inilah titik balik. Ia harus membantu Mama menemukan siapa pengkhianat itu. Karena jika tidak, Mama akan terus dijebak oleh lingkaran manipulasi Papa.


---


Hari-hari berikutnya, Papa makin menjadi. Ia tidak langsung melarang Mama pergi ke luar rumah, tapi setiap kata-katanya penuh ancaman terselubung.


“Kau boleh saja pergi dengan sahabat-sahabatmu,” katanya suatu kali. “Tapi ingat, aku tahu setiap langkahmu. Jangan coba-coba macam-macam. Aku punya mata di mana-mana.”


Mama hanya mengangguk, seolah tak peduli. Padahal dalam hati ia makin yakin: sahabat yang selama ini ia percaya, ternyata ada yang berkhianat.


Lia kecil yang melihat ketegangan itu sering kali merasa terasing. Ia tidak mengerti semua detailnya, tapi yang ia rasakan hanyalah kesepian. Setiap kali Mama sibuk menahan amarah atau Papa datang dengan kata-kata keras, Lia kecil bersembunyi di kamarnya. Di sanalah ruang kosong, kusam, dan dendam kecil mulai terbentuk.


Namun Eliana dewasa berusaha menahan itu. Ia tak ingin Lia kecil semakin tenggelam dalam luka. Maka ia sering membisikkan ketenangan, mendorong Mama untuk menguatkan Lia dengan kasih sayang.


---


Suatu malam, setelah Papa pergi entah ke mana, Mama menulis sesuatu di buku catatannya. Eliana dewasa tahu kalau Mamanya sering menulis di sebuah buku catatan, jadi kalau lampu masih menyala di kamar Mama, Eliana dewasa tahu kalau mamanya masih terjaga untuk menulis di buku catatan. Tulisan itu sederhana:


> “Aku tidak akan berhenti. Apa pun ancamannya, aku akan menemukan jalan keluar. Untuk Lia. Untuk diriku sendiri.”


Air mata Eliana dewasa menggenang kala teringat tulisan Mama di malam ini karena ia pernah membaca buku catatan itu. Ia tahu, kali ini Mama benar-benar serius. Meski Papa berusaha menakut-nakuti dengan kata-kata manipulatifnya, Mama tidak lagi mundur.


Mama menutup bukunya, lalu memandang ke arah jendela. Dalam hati, ia berdoa lirih:

“Ya Tuhan, lindungilah aku dan anakku. Tunjukkan siapa teman yang benar, dan siapa yang hanya berpura-pura. Aku siap menanggung semua ini, asal Lia tidak terluka lagi.”


Eliana dewasa tersenyum haru. Dalam batinnya ia berjanji, Mama, aku akan menemanimu. Dan aku akan memastikan kau tidak berjalan sendirian. Jejak pengkhianat itu akan kita temukan bersama.


---


Udara malam yang hening. Tapi di balik keheningan itu, ada tekad yang semakin kokoh. Mama sudah melangkah ke arah baru—dan Papa, dengan segala kelicikannya, tak akan bisa menghentikan selamanya. Karena kali ini, Mama tidak lagi rapuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar