Bab 9. Cahaya yang Mulai Menyala, Bayangan yang Mengintai
Hari-hari itu terasa sedikit berbeda. Ada sesuatu yang pelan-pelan berubah di rumah kecil yang selama ini lebih sering dipenuhi tegang dan bisu. Mama mulai terlihat lebih rajin beribadah, lebih sering duduk tenang dengan mushaf di pangkuannya, bibirnya bergetar pelan membaca ayat-ayat yang dulu jarang disentuhnya. Wajahnya tak lagi kusam penuh resah seperti bulan lalu. Ada sinar kecil yang muncul di matanya, meski samar, tapi cukup untuk membuat Lia kecil merasa lebih aman.
Lia kecil, yang biasanya ketakutan setiap kali malam tiba atau Papa pulang dengan wajah muram, kini mulai berani tertawa kecil. Ia berlari di halaman depan, meski hanya sebentar, dengan rambut yang tergerai diterpa angin. Setiap kali Mama memanggilnya, ia tidak lagi buru-buru sembunyi di balik pintu. Ada keberanian yang sedang tumbuh, meski masih rapuh.
Aku—Eliana dewasa yang kini terjebak dalam tubuh Mbak Ira—hanya bisa mengamati dari kejauhan. Kadang saat Mama mampir membeli sayur atau sekadar duduk sebentar di bangku kayu warungku, aku merasakan getaran hatiku sendiri ikut berdenyut. "Akhirnya, Mama mau membuka ruang untuk Tuhan masuk lagi dalam hidupnya," batinku. Itu artinya satu lapisan tembok hitam yang dulu menutup jiwa Mama sudah mulai retak. Dan Lia kecil, adik sekaligus diriku di masa lalu, mulai mendapat pelukan emosional yang ia butuhkan.
"Bu, jangan lupa... apapun yang terjadi, tetap dekat dengan doa," ucapku satu sore ketika Mama duduk sambil menunggu belanjaannya dibungkus.
Mama menoleh, agak kaget, seolah kata-kataku datang begitu saja tanpa diminta. "Iya, Mbak Ira... belakangan ini saya memang merasa lebih tenang kalau begini. Entahlah, mungkin memang saya yang terlalu lama jauh."
Aku tersenyum samar, tapi dalam hati aku berbisik: Jangan berhenti, Ma... teruslah kuat. Untuk dirimu, untuk Lia kecil, dan untuk aku yang kelak belajar dari semua ini.
Hari-hari berikutnya, perubahan itu makin terasa. Lia kecil tidak lagi sering meringkuk ketakutan di sudut kamar. Ia mulai berani duduk di meja belajar, menuliskan gambar sederhana di buku tulisnya. Kadang, saat disuruh ke warungku membeli cabai atau buah, ia menatapku penuh arti. Tatapan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, tapi aku tahu persis: Kak Eliana, aku tidak sendiri sekarang, kan?
Namun, ketika aku mulai sedikit lega, bayangan baru muncul. Papa.
Papa mulai menunjukkan gelagat curiga. Ia melihat perubahan Mama yang lebih mandiri, lebih tegar, dan tidak lagi mudah dikendalikan dengan nada tinggi atau ancaman dingin. Suatu malam, aku mendengar dari Lia kecil yang menguping tanpa sengaja:
"Kamu sekarang apa-apaan, Ratih? Kelihatan beda! Ada yang ngajarin kamu, ya? Siapa?!" suara Papa membentak, kasar, penuh amarah.
Mama hanya diam. Aku tahu, diamnya Mama bukan karena takut, tapi karena ia mencoba menjaga diri agar tidak terpancing. Namun bagi Papa, itu seperti bahan bakar untuk menuduh lebih jauh.
Seolah belum cukup, masalah lain muncul. Teman-teman Mama, beberapa di antaranya perempuan-perempuan yang suka bergunjing di kompleks, mulai mendekat. Mereka pura-pura peduli. Mengajak Mama bicara, katanya untuk menenangkan pikiran, untuk "curhat" agar tidak stres. Padahal aku tahu benar: mereka hanya ingin menggerogoti kelemahan Mama.
"Sebaiknya kamu jangan terus-terusan di rumah, Ratih. Suamimu itu sudah terlalu mengekang, mendingan kamu ikut kami saja. Kita bisa jalan-jalan, ke tempat yang bikin tenang," begitu kata salah satu dari mereka.
Aku bisa melihat jelas, itu bukan saran tulus. Itu jerat. Mereka ingin Mama jauh dari rumah, jauh dari Lia kecil, agar ruang kosong di hati Lia makin besar. Ruang kosong itu berbahaya, karena dari situlah lahir dendam, luka, dan trauma yang sulit sembuh.
Aku menatap Mama dengan hati bergetar, berharap ia tidak goyah.
Dan benar saja, meski wajahnya tampak bimbang, Mama akhirnya memilih mampir ke warungku, bukan ikut teman-temannya. Duduk lagi di bangku kayu sederhana itu, menghela napas panjang.
"Mbak Ira... saya bingung. Kadang saya ingin lari, kadang saya ingin bertahan. Teman-teman saya bilang, kalau saya terus di rumah, saya hanya akan makin hancur."
Aku menarik napas dalam-dalam. Aku ingin sekali berteriak, Jangan percaya mereka, Ma! Itu bukan jalan keluar! Tapi aku harus tetap bicara sebagai Mbak Ira, bukan sebagai anaknya.
"Bu, pelarian itu memang terasa enak sebentar... tapi habis itu apa? Kembali lagi ke masalah, malah makin berat. Kalau Ibu ingin kuat, Ibu harus punya pegangan yang benar. Dan pegangan itu bukan orang lain. Bukan saya, bukan teman-teman Ibu, tapi hanya doa Ibu sendiri."
Mama menunduk. Ada air mata jatuh. Lia kecil yang ikut duduk di dekatnya menatap bingung, lalu meraih tangan Mama. "Ma, aku nggak mau Mama pergi. Aku cuma mau sama Mama."
Hatiku bergetar. Di situlah aku melihat titik terang itu lagi. Lia kecil menjadi alasan Mama untuk bertahan. Dan Mama, meski rapuh, masih memilih menggenggam tangan anaknya daripada melepasnya.
Tapi aku juga tahu, jalan ke depan tidak akan mudah. Papa semakin curiga, semakin merasa kendali dalam rumahnya hilang. Teman-teman Mama akan terus mencoba memengaruhi. Aku harus terus mendorong, mengarahkan, meski hanya lewat kata-kata kecil yang seolah sambil lalu.
Karena aku tahu... jika kali ini Mama sampai jatuh dalam bujukan itu, Lia kecil akan kehilangan cahaya yang baru saja menyala. Dan aku—Eliana dewasa—akan kembali gagal menyelamatkan masa lalu yang sudah lama merenggutku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar