Dongeng Si Cikal 6

 

Dongeng Si Cikal Bab 6 di blog Cerita Kemuning

Bab 6. Saat Jarak Mulai Terbentuk


"Waktu memang bisa menjadi musuh, tapi juga sekutu—tergantung bagaimana kita memanfaatkannya."
Sudah hampir tiga bulan sejak aku—Eliana yang terperangkap di tubuh Mbak Ira—mulai membimbing Lia kecil. Dari hari ke hari, aku melihat tubuh mungilnya semakin terbiasa berlari, memanjat, bahkan melakukan gerakan bertahan sederhana. Tidak hanya fisiknya yang berubah, matanya kini punya sorot berbeda. Sorot yang tidak pernah kulihat di masa kecilku dulu—lebih berani, lebih siap.

Namun, perubahan ini rupanya tak luput dari pengamatan orang-orang di sekelilingnya. Khususnya mamanya, yang belakangan menjadi lebih protektif. Kudengar dari obrolan para tetangga, ada gosip kalau papanya Lia mencoba mencari cara untuk bertemu dengannya. Mungkin benar, mungkin hanya kabar burung. Tapi ketakutan itu cukup membuat mamanya membatasi gerak Lia.

Kini, kesempatan kami bertemu jadi langka. Tidak ada lagi sesi latihan di taman sekolah sepulang jam belajar. Semua pertemuan kami hanya terjadi ketika mamanya menyuruhnya membeli sayuran atau buah-buahan di warungku. Itu pun dengan tatapan waspada dari jarak jauh, memastikan Lia tidak terlalu lama mengobrol denganku.

Hari ini pun begitu. Aku sedang menata tomat segar di meja saat langkah kecil itu datang menghampiri. Lia berdiri di depan, memegang keranjang kain berwarna kuning. "Mbak Ira… Mama mau beli tomat, timun, sama pisang kepok," ujarnya pelan.

Aku tersenyum, menyelipkan pesan di balik suaraku. "Boleh. Tapi pilih sendiri tomatnya, yang warnanya paling merah dan utuh. Ingat, yang terlihat kuat biasanya punya isi yang lebih manis."

Dia menatapku sejenak, lalu mulai memilih tomat dengan hati-hati. Ada kilatan paham di matanya—dia tahu aku tidak sedang bicara soal tomat saja.

Setelah semua belanjaan masuk ke keranjang, aku menambahkan satu buah apel hijau. "Bonus untuk kamu. Apel ini keras kulitnya, tapi dagingnya manis. Sama seperti kamu—belajar keras di luar, tapi tetap hangat di dalam."

Sekilas, bibir Lia terangkat membentuk senyum tipis. Tidak ada banyak kata, tapi aku tahu pesan itu akan menempel di kepalanya hingga kami bertemu lagi.

Dia melangkah pergi, dan aku berdiri di depan warung, memperhatikannya berjalan menuju rumah. Aku tidak tahu kapan kesempatan kami berbicara panjang akan datang lagi. Tapi aku yakin, jarak ini tidak akan memutuskan apa yang sudah kami mulai.

"Lia kecil, meski jarak memisahkan, kau tetap akan tumbuh menjadi versi terkuat dari dirimu. Dan aku… akan selalu mengawasi dari sini."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar