Bab 5. Awal Langkah Baru
Suara itu masih terpatri di kepala Lia kecil. Bukan sekadar janji, tapi sumpah yang menghangatkan hatinya di tengah rasa takut. Eliana dewasa, yang kini berada di tubuh Mbak Ira, telah bertekad menjadikannya lebih kuat daripada versi dirinya di masa lalu.
Hari itu, pagi di rumah kontrakan sederhana mereka terasa berbeda. Lia duduk di kursi rotan reyot, menggoyangkan kakinya sambil memandangi langit - langit. Bukan karena bosan tapi pikirannya sibuk merangkai kemungkinan masa depan. Sejak Mbak Ira masuk ke dalam hidupnya, ada rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya -- aman, tapi juga penuh tanda tanya.
"Makan dulu, Nak," suara Mbak Ira memecah lamunannya.
Lia tersenyum kecil. Ia bangkit, melangkah ke meja makan. Nasi hangat mengepul, lauk sederhana tersaji, tapi rasanya jauh lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena ia tahu, mulai sekarang ia tidak benar - benar sendirian.
Di sela suapan, Eliana dewasa berkata dalam hati, Kita harus mulai dari hal kecil. Kalau kamu ingin kuat, kamu harus sehat dulu. Makan, tidur yang cukup, dan jangan biarkan orang lain meremehkanmu.
Lia kecil mengangguk samar. Bagi orang lain, ia mungkin terlihat hanya anak kecil yang sedang makan dengan lahap, tapi di kepalanya, ia sedang berdialog dengan sosok yang hanya ia sendiri yang bisa dengar.
Sesuai harapan, Eliana dewasa meminta izin untuk mengajak Lia kecil ke taman dekat sekolah. "Aku ingin melihat kamu berlari. Kita akan melatih kakimu supaya lebih cepat dan lincah," kata Eliana dewasa.
Lia kecil tertawa kecil. "Kayak latihan atlet?"
"Ya, tapi ini untuk melatih keberanianmu juga," jawab Eliana dewasa.
Perjalanan ke taman dekat sekolah menjadi kesempatan bagi Eliana dewasa untuk bercerita sedikit tentang masa lalunya. Tidak semua--hanya potongan - potongan yang aman untuk Lia kecil dengar. Tentang bagaimana ia dulu juga pernah takut, pernah merasa sendirian, tapi akhirnya bisa bertahan karena tidak pernah menyerah.
Lia kecil mendengarkan dengan mata berbinar. "Kalau kamu bisa, berarti aku juga bisa, kan?"
"Bisa," jawab Eliana dewasa dengan mantap. "Bahkan kamu bisa lebih baik dari aku."
Di taman, Lia kecil berlari di jalur tanah sambil tertawa. Keringat mulai membasahi pelipisnya, tapi wajahnya memancarkan semangat. Di tepi jalur, Eliana dewasa berdiri mengawasi, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia tahu, ini baru awal. Perjalanan mereka masih panjang, dan mungkin akan penuh rintangan. Tapi setiap langkah kecil yang di awali hari ini adalah pondasi bagi masa depan yang lebih kuat.
Sebelum pulang, mereka duduk di bangku kayu. Angin sore mengibaskan rambut Lia kecil. Eliana dewasa memandang jauh, seakan melihat masa depan di balik langit jingga.
Baiklah Lia....mulai hari ini, kita akan membangun dirimu, sedikit demi sedikit, sampai tak ada yang bisa menjatuhkanmu lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar