Bab 7. Bayangan Masa Lalu
Beberapa bulan telah berlalu sejak Eliana dewasa “terperangkap” dalam tubuh Mbak Ira. Waktu terasa berjalan cepat, namun bagi hatinya, semua masih berat. Ia masih sering merasa asing dengan dirinya sendiri—antara menjadi orang lain dan menjadi dirinya yang lama. Namun setiap kali matanya menangkap sosok Lia kecil yang tersenyum malu-malu di depannya, ada cahaya baru yang muncul dalam dadanya.
Sejak awal, Eliana tahu tujuannya hanya satu: melindungi Lia kecil dari semua luka yang pernah ia rasakan di masa lalu. Tapi kini, keadaan mulai berubah.
Mama Lia kecil semakin sering menunjukkan kecemasan yang berlebihan. Trauma ditinggalkan suami membuatnya takut Lia kecil akan direbut. Setiap kali Lia terlihat terlalu dekat dengan orang lain, matanya jadi waspada, kadang ketakutan. Itu termasuk saat Mama melihat Lia kecil begitu betah berada di dekat Mbak Ira, membantu menimbang sayur atau sekadar berbincang.
“Lia, jangan lama-lama di warung,” ucap Mama suatu sore. Suaranya tenang, tapi nadanya menyimpan kegelisahan.
Lia kecil mengangguk, menuruti. Ia tetap diizinkan ke warung, tapi interaksinya dengan Eliana dewasa kini hanya sebentar-sebentar—sekadar saat membeli sayuran atau menitipkan pesan kecil.
Bagi Eliana, perubahan ini terasa pahit. Ada jarak yang tumbuh, bukan karena Lia kecil menghindar, melainkan karena dunia sekitarnya yang penuh luka. Namun justru dalam jarak itu, Eliana makin menyadari betapa rapuhnya masa depan Lia kecil bila dibiarkan begitu saja.
---
Di suatu malam, setelah warung tutup dan sunyi menyelimuti, Eliana duduk termenung. Tangannya masih menggenggam pisau dapur yang baru saja selesai ia gunakan untuk merapikan sisa sayuran. Tatapannya kosong, dan tanpa sadar ia terseret pada ingatan masa lalu—masa dewasanya sebelum masuk lorong waktu.
Satu suara terngiang begitu jelas.
Suara Papa.
"Aku ini Papamu. Kalau nggak ada aku, nggak akan ada kamu. Jadi apa pun yang kuminta, sudah seharusnya kamu kasih. Itu kewajibanmu sebagai anak."
Eliana menutup mata, dadanya bergemuruh. Ia ingat betul bagaimana Papa selalu merasa berhak, seolah menjadi orang tua berarti boleh menuntut segalanya. Ia ingat wajah Papa yang penuh percaya diri, tapi di baliknya tersimpan kebohongan besar.
Papa punya banyak istri siri. Rahasia yang akhirnya terbongkar saat Eliana beranjak dewasa. Satu demi satu perempuan muncul, masing-masing membawa luka, tapi Papa tetap berdiri dengan wajah sok suci, menuntut semua anaknya tunduk.
Dan yang paling menyakitkan: menjelang masa tuanya, Papa pernah mendatangi Eliana, memintanya “mengorbankan diri” demi kepentingan keluarga. Dengan nada manipulatif, ia berkata, “Aku ini Papamu. Aku yang membesarkanmu. Sekarang giliranmu mengabdi. Anggap saja balas budi.”
Eliana dewasa masih ingat bagaimana darahnya mendidih saat itu. Papa bukan hanya menghancurkan keluarganya, tapi juga merampas hak-hak yang seharusnya jadi miliknya. Semua itu membuat luka batin yang begitu dalam, luka yang tak pernah sembuh.
Ia membuka mata, menarik napas panjang. Inilah alasan kenapa ia ada di sini. Kenapa ia harus masuk ke lorong waktu itu, kenapa dirinya kembali. Tuhan memberinya kesempatan, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk Lia kecil.
Agar anak kecil itu—yang sejatinya adalah dirinya sendiri—tidak lagi mengulang penderitaan yang sama.
---
Keesokan harinya, saat Lia kecil mampir membeli tomat dan cabai, Eliana memandangnya lama. Lia tersenyum, tapi senyumnya kini tampak berhati-hati, seperti anak yang belajar memahami kecemasan ibunya.
Eliana tersenyum balik, meski hatinya bergetar. “Kamu harus tetap kuat, Nak. Aku tahu kamu mungkin belum mengerti, tapi ada banyak hal yang menunggu di depan. Papa… orang itu… jangan sampai menghancurkanmu lagi. Tidak kali ini.”
Lia kecil tak tahu, dalam senyum sederhana itu, Eliana dewasa sedang mengucapkan sumpah dalam hati.
Ia akan menjadi perisai.
Ia akan menjadi penuntun.
Bahkan bila harus mengorbankan dirinya, ia takkan membiarkan sejarah terulang.
Dan malam itu, di tengah langit yang redup, Eliana berbisik pada dirinya sendiri:
“Papa… kamu boleh pikir aku akan tunduk lagi. Tapi kali ini aku berbeda. Aku akan melindungi Lia. Aku akan melindungi diriku sendiri. Sekuat apa pun kau berusaha, kau takkan pernah berhasil lagi.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar