Bab 4. Mbak Ira
Udara pagi itu segar dan tipis, seperti baru selesai diguyur hujan semalam. Eliana memandang sekeliling, mencoba mencerna apa yang terjadi. Jalan berbatu di depannya, rumah-rumah yang masih rapi, dan pepohonan rindang di halaman tetangga… semua ini adalah Bogor masa kecilnya.
Tapi… bagaimana bisa?
“Bu Ira, Bu Ira! Sayurnya udah datang?”
Eliana tersentak. Seorang ibu muda keluar dari rumah sebelah sambil membawa keranjang anyaman. Di belakangnya, seorang anak lelaki berlari-lari kecil.
“Ira?” gumam Eliana.
“Lho, kenapa bengong? Sayurnya di mana?” tanya ibu itu heran.
Refleks, Eliana menunduk melihat dirinya sendiri. Baju yang ia kenakan bukan kaos hiking, melainkan kebaya rumahan sederhana dengan rok panjang. Tangan kanannya memegang keranjang rotan penuh sayur dan beberapa buah. Rambutnya lebih panjang, diikat rendah. Kulit tangannya tampak lebih kecokelatan, seperti terbiasa bekerja di luar.
Ini… tubuh siapa?
Ia mengulurkan beberapa ikat kangkung dan tomat, pura-pura tahu apa yang harus dilakukan. “I-iya, Bu… ini.”
Ibu itu tersenyum. “Terima kasih ya, Mbak Ira. Nanti kalau ada pisang raja, bawain.”
Nama itu kembali berputar di kepalanya—Ira. Jadi, ia sekarang sedang menjadi seseorang bernama Mbak Ira?
Langkahnya terhenti ketika melihat ke arah ujung jalan. Seorang gadis kecil sedang duduk di tangga rumah, memeluk boneka lusuh. Rambutnya dikuncir dua, mata bulatnya tampak menerawang jauh. Gadis itu adalah Eliana kecil, tanpa ragu.
Jantung Eliana dewasa berdegup kencang. Ia ingin mendekat, tapi juga takut.
Kalau aku bilang aku adalah dia, apa yang akan terjadi?
Akhirnya ia berjalan pelan, menyapa dengan suara hangat.
“Halo, namamu siapa?”
“Eliana,” jawab si kecil lirih.
“Cantik sekali namanya. Boleh aku duduk?”
Anak itu mengangguk.
Mereka berbicara singkat. Eliana kecil terlihat pemalu, matanya sering menunduk. Setiap jawaban terdengar hati-hati, seolah takut salah bicara. Eliana dewasa bisa melihat jelas—ini adalah awal dari sifat pemalu dan mudah merasa bersalah yang dulu selalu ia bawa sampai dewasa.
Saat matahari mulai condong, Eliana dewasa kembali ke rumah sewa kecil yang ia temukan tak jauh dari situ. Rumah itu sederhana, berdinding papan dan beratap seng, tapi cukup nyaman.
Di meja, ia menatap keranjang sayur yang kini menjadi miliknya.
Mungkin… ini caranya. Aku tak bisa langsung bilang siapa aku sebenarnya. Tapi sebagai Mbak Ira, aku bisa dekat dengannya. Aku bisa mengajarinya hal-hal yang dulu aku harap ada yang ajarkan.
Ia memandang keluar jendela, melihat Eliana kecil berlari mengejar ayam di halaman. Senyum tipis terbit di bibirnya.
“Baiklah, Lia kecil. Kita mulai pelan-pelan. Aku akan pastikan kamu tumbuh lebih kuat dari yang pernah aku lakukan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar