Dongeng Si Cikal 3


Dongeng Si Cikal Bab 3 di blog Cerita Kemuning

Bab 3. Gunung Laras


Bus kecil berhenti di sebuah desa sunyi di kaki Gunung Laras. Udara pagi terasa sejuk menusuk kulit. Eliana menurunkan ranselnya, memandangi barisan hutan pinus yang menjulang. Kabut tipis melayang-layang di antara batang pohon, seolah menyembunyikan rahasia.


“Cantik banget, ya,” gumamnya.

Sinta yang berjalan di sampingnya mengangguk. “Katanya gunung ini belum terlalu terkenal. Jalurnya sepi, tapi view-nya luar biasa.”


Rombongan berjumlah sembilan orang. Mereka memulai pendakian dengan jalur yang landai, disambut aroma tanah basah dan suara burung yang bersahutan. Eliana merasa tubuhnya lebih ringan di sini, seakan beban kerja dan tekanan keluarga tertinggal jauh di kota.


Setelah dua jam, mereka sampai di sebuah pos peristirahatan. Ada bangku kayu dan sumber mata air kecil yang mengalir jernih. Sambil meneguk air dari botol, Eliana mendengar suara gemericik air yang lebih deras di kejauhan.


“Hm… kayaknya ada air terjun,” pikirnya.


Sinta sedang sibuk memotret bunga liar. Teman-teman lain mengobrol sambil makan camilan. Eliana melirik jalur kecil di sisi kiri pos—jalur sempit yang tertutup semak dan tampak jarang dilewati orang.


“Lia, jangan jauh-jauh!” panggil Sinta ketika melihatnya berdiri di tepi jalur itu.

Eliana tersenyum. “Cuma mau lihat sebentar.”


Langkahnya menyusuri jalan setapak. Semakin jauh, suara air makin jelas, tapi bersamaan dengan itu, kabut turun perlahan, menelan pepohonan satu per satu. Aroma wangi tanah bercampur bunga liar menyeruak, anehnya menenangkan.


Lima menit kemudian, ia sampai di sebuah tebing kecil. Di depannya, air terjun mini jatuh dari ketinggian sekitar lima meter, memecah keheningan hutan. Namun, yang membuatnya tertegun adalah dinding batu di sebelah air terjun itu.


Batu itu memiliki ukiran—pola daun dan burung yang saling melingkar, tertutup sebagian oleh lumut. Bentuknya seperti pintu, tapi tak ada celah atau gagang.


Eliana meraba permukaan batu. Sentuhan itu dingin, tapi tiba-tiba seperti berdenyut di bawah jemarinya. Kabut di sekitarnya menebal, udara menjadi berat.


Jantungnya berdetak kencang. Ia hendak menarik tangannya, namun cahaya samar merembes dari sela ukiran batu itu. Cahaya putih menyilaukan, membuat matanya terpejam.


Lalu… hening.


Saat ia membuka mata, gemericik air terjun telah hilang. Digantikan suara ayam berkokok, anak-anak berteriak bermain, dan… aroma mangga matang.


Ia berdiri di jalan berbatu yang sangat ia kenal. Rumah-rumah di sekitarnya sederhana, halaman luas dengan pohon buah, dan jalan masih sempit. Jauh berbeda dari kampung halamannya sekarang yang sudah penuh kafe dan tempat wisata.


Dan di ujung jalan, seorang gadis kecil berlari di halaman rumah sederhana. Rambutnya dikuncir dua, wajahnya polos, kulitnya sedikit cokelat karena sering bermain di luar.


Gadis itu menatapnya sebentar, lalu tertawa kecil.


Itu… dirinya sendiri, dua belas tahun lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar