Dongeng Si Cikal 8

 

Dongeng Si Cikal Bab 8 di blog Cerita Kemuning

Bab 8. Luka yang Membelah, Doa yang Menyatu


Malam itu, rumah sepi. Eliana kecil sudah tertidur lebih awal, mungkin lelah menunggu Mama yang duduk lama di ruang tamu, memeluk kedua lututnya sambil menatap kosong ke arah pintu. Mbak Ira—yang kini ditempati jiwa Eliana dewasa—diam saja dari dapur, memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda malam itu: tatapan Mama penuh gelisah, seakan hatinya dipenuhi beban yang tak bisa ditanggung sendirian.

"Mama kelihatan rapuh sekali…" bisik hati Eliana dewasa.
Seingatnya, dulu saat ia masih kecil, Mama memang sering murung seperti ini. Tapi kini, dengan kesadaran seorang Eliana dewasa, ia mulai melihat sesuatu yang lebih dalam: luka seorang istri yang perlahan kehilangan kekuatan untuk bertahan.

Mama mendesah panjang. “Kadang saya merasa ingin menyerah, Mbak Ira…,” ucapnya pelan, suaranya nyaris patah. “Papa-nya Eliana terlalu sering berubah, terlalu sulit dipahami. Saya sudah berusaha sabar, tapi sepertinya tidak pernah cukup…”

Mbak Ira menarik kursi, duduk di hadapan Mama. “Apa Papanya Eliana masih…”
Mama menunduk, tak sanggup melanjutkan. Tapi Eliana dewasa tahu jawabannya. Ia tahu semua borok masa depan itu, bagaimana Papa ternyata punya istri siri lain, bagaimana Papa berani menuntut Eliana dewasa untuk ‘mengerti’ dan ‘mengalah’ dengan alasan konyol: “Kalau bukan karena Papa, kamu tak akan ada di dunia ini.” Kata-kata manipulatif yang menancap dalam dan menumbuhkan kebencian yang kelak sulit dipadamkan.

Eliana dewasa mengatupkan gigi, menahan emosi. Jadi ini awalnya… ini alasan kenapa aku dulu tumbuh dengan kebencian begitu dalam pada Papa. Karena sejak kecil, aku melihat Mama dikhianati, tapi tidak bisa melawan. Dan aku, Eliana kecil, hanya bisa menyimpan dendam diam-diam.

Mama menutup wajahnya. “Teman-teman saya bilang… mungkin lebih baik saya pergi saja. Hidup sendiri, biar bebas. Kadang saya tergoda. Kalau terus-terusan begini, bagaimana saya bisa kuat?”

Mbak Ira terdiam sesaat. Kata-kata itu seperti pisau bagi Eliana dewasa. Jadi benar… Mama dulu sempat berpikir begitu. Pantas saja aku, Eliana kecil, merasa ditinggalkan. Pantas saja hatiku dulu penuh ruang kosong, dingin, dan penuh dendam. Karena Mama nyaris hilang arah, hampir terjerumus oleh bisikan orang-orang yang tak benar.

Eliana dewasa menghela napas. Dalam tubuh Mbak Ira, ia merasakan dorongan kuat untuk bertindak. Kalau ia membiarkan Mama goyah, semua akan terulang sama seperti dulu. Tidak, kali ini harus berbeda. Mama harus bertahan. Mama harus kembali mengingat siapa dirinya dan untuk siapa ia hidup.

Perlahan, Mbak Ira meraih tangan Mama. “Kalau Ibu pergi, bagaimana dengan Eliana kecil?”
Mama tersentak. Air matanya jatuh begitu saja. “Lia… ya Tuhan… anak itu terlalu sering sendiri. Mama kadang lupa… Dia butuh Mama lebih dari apa pun.”
“Justru itu,” bisik Mbak Ira lembut, tapi dengan penekanan kuat. “Jangan biarkan dia tumbuh dengan luka karena merasa ditinggalkan. Ibu harus tegar. Bukan hanya untuk Ibu, tapi untuk Eliana. Dia butuh pelukan Ibu, doa Ibu, teladan Ibu.”

Mama menatap kosong, lalu menutup mata. Air mata terus mengalir, membasahi tangannya sendiri.
“Kalau Papanya Eliana terus menyakiti saya… bagaimana?”
“Berdoa, Bu. Dekatkan diri pada Tuhan. Jangan biarkan kebencian Bapak meracuni hati Ibu. Kalau Ibu kuat dalam doa, Eliana kecil juga akan kuat.”

Mbak Ira merasakan sesuatu bergemuruh dalam dirinya. Itu bukan hanya nasihat. Itu doa yang terucap melalui dirinya, doa seorang anak untuk ibunya sendiri.

Eliana dewasa menatap Mama dalam-dalam. Ma… dulu aku sering menyalahkanmu karena terlihat lemah. Aku marah karena Mama tidak melawan Papa, tidak meninggalkannya, tidak memilih jalan yang lebih baik. Tapi sekarang aku mengerti… Mama juga manusia, bisa goyah, bisa salah langkah. Bedanya kali ini, aku di sini untuk menjaga Mama agar tetap berada di jalur yang benar.

Mama akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Mbak Ira. “Terima kasih… Kamu selalu ada saat saya ingin runtuh. Kadang saya merasa hanya padamu saya bisa bicara jujur, Mbak Ira…”
“Kalau begitu, biarkan aku jadi teman setia Ibu. Tapi janji satu hal… jangan biarkan diri Ibu hancur. Karena kalau Ibu hancur, Eliana kecil juga akan ikut hancur.”

Malam itu, di sudut ruang tamu yang hening, tercipta janji tak terucap. Eliana dewasa, lewat tubuh Mbak Ira, bertekad melindungi Mama dari kesalahan yang sama. Ia sadar, kalau tidak ada dorongan itu, Mama bisa saja tergoda mengikuti bujukan teman-temannya—meninggalkan rumah, meninggalkan Lia kecil, dan membiarkan ruang kosong di hati putrinya semakin menganga.

Dan Lia kecil… ah, gadis itu.
Eliana dewasa bisa membayangkan wajah Lia kecil yang sering termenung di pojok kamar, menggambar sendirian dengan krayon yang warnanya sudah pudar. Raut yang kusam, mata yang menyimpan pertanyaan, “Kenapa Mama tidak sepenuhnya ada untukku?”
Di situlah, benih dendam lahir. Bukan semata-mata pada Papa, tapi juga pada keadaan, bahkan pada Mama sendiri. Lia kecil merasa kosong karena kasih sayang itu tidak hadir penuh.

Eliana dewasa menutup mata. Tidak lagi. Kali ini tidak akan aku biarkan. Aku akan menjaga Mama, menjaga Lia kecil, supaya luka itu tidak semakin dalam.

Malam itu, meski air mata masih membasahi wajah Mama, sebuah kekuatan baru mulai tumbuh. Bukan kekuatan dari dirinya sendiri, melainkan kekuatan yang disalurkan oleh doa seorang anak dari masa depan.

Dan di balik semua itu, Eliana dewasa tahu:
perjalanan masih panjang, luka masih banyak, tapi setidaknya satu hal sudah berubah—Mama kini punya alasan untuk tetap bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar