Dongeng Si Cikal 2

Dongeng Si Cikal Bab 2 di blog Cerita Kemuning

 Bab 2. Lebaran yang Penuh Tanya


Surabaya mulai sepi. Bus-bus antar kota dipenuhi penumpang yang pulang kampung. Eliana duduk di kursi dekat jendela, menatap jalanan yang memanjang keluar kota.

Ia jarang pulang. Tapi kali ini Mama meminta dengan suara yang terdengar lebih lembut dari biasanya. “Pulanglah, Nak. Setahun sekali saja. Mama kangen.”


Mini bus yang khusus menerima layanan antar - jemput alamat antar kota membawanya pulang ke Bogor, melewati sawah, perkampungan dan perbukitan. Begitu turun di depan gerbang rumahnya, aroma tanah basah menyambutnya. Rumah Mama masih sama—halaman rindang, pohon mangga tua, dan pagar kayu yang mulai lapuk.


“Lia sudah pulang!” teriak sepupu kecilnya begitu melihatnya di gerbang.


Namun, suasana hangat itu tak berlangsung lama. Di ruang tamu, suara ibu-ibu bergaung.

“Lia, kapan nih dikenalin calonnya?” tanya seorang bibi sambil tersenyum penuh arti.

“Waduh, jangan lama-lama. Nanti keburu diambil orang.”

“Kerja terus sih, nggak mikirin nikah ya?”


Eliana tersenyum tipis. “Masih fokus nabung dulu, Bi.”

Jawaban aman itu justru memancing tawa kecil yang membuat pipinya panas.


Di dapur, Mama Ratih sedang mengaduk opor. “Biarin aja, Nak. Mereka nggak tahu hidup kita.”

“Tapi kenapa Mama selalu ikut senyum-senyum?” suara Eliana meninggi sedikit.

Mama terdiam. “Kalau Mama marah, gosipnya tambah panjang. Lebih baik pura-pura setuju.”

Eliana memalingkan wajah. Inilah yang selalu membuatnya frustrasi: Mama terlalu sering menutup rapat luka keluarga, seakan berpura-pura semua baik-baik saja.


Malam itu, setelah semua tamu pulang, Eliana duduk di teras. Angin malam membawa suara jangkrik. Ia memandang langit, bertanya-tanya: sampai kapan hidupnya akan begini—selalu harus menghindar, selalu merasa salah, selalu menjaga jarak.


Beberapa hari kemudian ia kembali ke Surabaya. Di kantor, Sinta kembali mengajaknya hiking ke Gunung Laras.

“Lia, serius deh, ini bakal bikin pikiran segar. Kamu kan suka naik gunung.”

Eliana tertawa kecil. “Suka, tapi udah lama nggak.”

“Nah, pas banget. Siapa tahu ketemu jodoh di gunung,” goda Sinta.

Eliana menggeleng. “Jodoh nggak usah dicarikan. Biar dia nyasar sendiri ke aku.”


Ia tak tahu, perjalanan itu akan membawanya pada pertemuan yang lebih penting—bukan dengan laki-laki, tapi dengan dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar