Bab 1. Merantau demi Sunyi
Suara mesin fotokopi berderak-derak di pojok ruangan. Eliana duduk di meja kerjanya, matanya fokus pada layar komputer, jemari cekatan mengetik laporan keuangan. Di luar kaca, Surabaya siang itu panas menyengat, tapi AC kantor membuatnya tetap nyaman.
Ia menarik napas panjang. Tiga tahun di kota ini, dan aku belum menyesal pergi dari Bogor.
Bukan berarti ia tak rindu rumah masa kecilnya. Kadang, di tengah hiruk pikuk kota, ia merindukan aroma tanah basah di halaman rumahnya dulu, suara gemericik hujan di atap seng, dan kicau burung di pohon jambu belakang rumah. Tapi rindu yang terlalu sering hanya mengundang luka lama kembali.
Ponselnya bergetar. Nama sepupunya, Yani, muncul di layar. Eliana ragu mengangkatnya, tapi pada akhirnya menekan tombol hijau.
“Lia, udah denger belum? Bapak kamu—”
“Stop.” Nada suaranya datar, dingin. “Aku nggak mau dengar.”
“Ya ampun, ini penting lho—”
“Yan, aku lagi kerja.” Eliana memutus panggilan, menutup mata sebentar.
Tiga tahun terakhir, ia sudah ahli menutup telinga dari gosip soal ayahnya. Gosip yang terlalu sering benar, tapi tak pernah ia minta untuk tahu.
Papanya, Wira Pratama—lelaki yang di masa kecilnya ia puja setinggi langit—ternyata punya lebih dari satu istri siri. Rahasia itu terbongkar saat ia SMK. Mamanya, Mama Ratih, memilih diam, pura-pura rumah tangga mereka baik-baik saja. Sampai akhirnya, diam itu pecah menjadi perceraian yang memecah dua keluarga, dua kampung, dan hati Eliana sendiri.
Pagi berikutnya, ia berangkat kerja lebih awal. Di lift, rekan kantornya, Sinta, menyapanya.
“Lia, minggu depan ikut hiking, nggak? Rame-rame, ke Gunung Laras. Pemandangannya katanya cakep banget.”
Eliana mengangkat alis. “Gunung Laras? Di mana itu?”
“Jawa Timur. Nggak terlalu tinggi, cuma lumayan menantang. Kita nginap semalam, besoknya pulang.”
Mendengar kata nginap dan menantang, entah kenapa hatinya tergelitik. Mungkin ia memang butuh keluar sebentar dari rutinitas.
Beberapa hari kemudian, ia duduk di bis kecil bersama delapan rekan kantornya. Jalanan berkelok menuju kaki Gunung Laras, melewati hutan pinus yang sejuk. Eliana merasa tenang untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.
Perjalanan mendaki terasa menyenangkan—sampai mereka beristirahat di sebuah pos kecil. Eliana, yang penasaran dengan suara gemericik air, melangkah sendirian ke jalur sempit di samping pos.
“Lia, jangan jauh-jauh!” teriak Sinta.
“Iya, bentar!” jawabnya sambil terus berjalan.
Kabut mulai turun, menutup jarak pandang. Di antara pepohonan, ia melihat dinding tebing berlumut dengan ukiran daun dan burung. Tangannya terulur, menyentuh permukaan dingin batu itu.
Saat itu juga, bumi seperti berputar. Suara hutan lenyap, digantikan kicau burung dan suara ayam berkokok.
Ketika Eliana membuka mata, ia berdiri di jalan berbatu yang sangat ia kenal—desa masa kecilnya di Bogor. Tapi ada yang aneh. Jalan itu belum dilebarkan, dan rumah-rumah tetangganya tampak lebih muda, lebih terawat.
Dan di ujung jalan, ia melihat seorang gadis kecil berlari di halaman rumah sederhana. Rambutnya dikuncir dua, wajahnya polos.
Itu… dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar