Dongeng Si Cikal 12

Dongeng Si Cikal Bab 12 di blog Cerita Kemuning


Bab 12. Jejak Pengkhianat Yang Tersingkap


Langkah-langkah Mama di dalam rumah terasa semakin mantap belakangan ini. Ada sesuatu yang berubah dari sorot matanya: lebih tegas, lebih berani, meski luka di dalam hatinya masih jelas. Setiap kali Papa berusaha mendekat dengan tutur kata manis yang biasanya mampu membius, Mama hanya menatapnya dingin, lalu kembali tenggelam dalam aktivitas rumah tangga.


Namun, ada satu hal yang masih menghantui pikirannya: bagaimana mungkin Papa tahu tentang niatnya mengajukan perpisahan ke Pengadilan Agama, padahal ia sama sekali tidak pernah berbicara terang-terangan kecuali pada dua sahabat dekatnya? Kata-kata ancaman halus Papa waktu itu begitu menusuk: “Kamu jangan bermimpi bisa keluar dari rumah ini. Bahkan kalau kau sampai ke Pengadilan Agama pun, aku akan pastikan namamu tidak pernah tercatat sebagai janda. Semua akan berpihak padaku.”


Mama masih ingat jelas, ia tidak pernah membicarakan rencananya dengan orang lain, kecuali dalam lingkar kecil bersama sahabat-sahabat lamanya. Hatinya mendadak diselimuti kabut kecurigaan. Apakah di antara mereka ada yang membocorkan? Dan… kenapa?


---


Malam itu, Mama duduk di ruang tengah setelah menidurkan Eliana kecil. Telepon genggamnya bergetar, ada pesan dari salah satu sahabatnya. “Aku bisa ke rumah besok? Kita bicara baik-baik.”


Mama hanya menatap layar ponsel itu lama. Dadanya berdegup. Ia tahu, percakapan ini akan menjadi kunci.


Keesokan harinya, sahabat yang dimaksud datang. Perempuan itu sudah berteman dengan Mama sejak masa sekolah, sudah seperti saudara sendiri. Tapi entah kenapa, Mama merasakan jarak yang aneh di antara mereka.


“Aku… mau jujur,” kata sahabat itu, suaranya bergetar. “Aku… memang selama ini punya rasa sama suamimu.”


Kata-kata itu menghantam dada Mama seperti palu godam. Namun anehnya, tidak ada letupan emosi besar yang ia rasakan. Justru seolah semua rasa sakit itu menetes perlahan, bukan meledak. Mama hanya terdiam, menatap sahabatnya dengan mata yang teduh tapi tajam.


“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menghianatimu, tapi ketika dia begitu perhatian… aku goyah. Aku bodoh. Dan… aku sempat bilang ke dia tentang niatmu ke Pengadilan Agama. Aku menyesal…”


Mama menarik napas panjang. Ada bagian dari dirinya yang ingin marah, ingin menampar, ingin menjerit. Tapi bagian lain justru merasa lega—akhirnya teka-teki itu terjawab.


“Aku tidak marah padamu,” ujar Mama perlahan. “Kalau kau memang menyukainya, silakan. Dia memang lelaki yang terbiasa bermain hati. Dia sudah punya banyak istri sirih sebelum ini. Jadi kau bukan yang pertama… dan mungkin bukan yang terakhir. Aku tidak akan menghalanginya.”


Sahabat itu terkejut. “Kamu… tidak membenciku?”


Mama menggeleng pelan. “Membencimu tidak akan membuatku lebih kuat. Aku justru berterima kasih, karena akhirnya aku tahu siapa yang bisa kujadikan tempat bersandar, dan siapa yang tidak.”


Sahabat itu menangis tersedu-sedu. Mama menepuk tangannya sebentar, lalu melepasnya begitu saja. Sejak hari itu, Mama tidak lagi menaruh rahasia hidupnya pada lingkaran pertemanan itu. Ia memilih untuk diam, menyimpan semua rencana di dalam hati, dan hanya berdoa agar Tuhan memberinya jalan.


---


Hari-hari berikutnya, Mama berubah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri dan Eliana kecil. Pagi-pagi ia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan sederhana, lalu membangunkan Eliana dengan belaian lembut.


“Eliana sayang, bangun ya. Mama sudah siapkan roti dan susu,” bisiknya sambil mengecup kening putrinya.


Eliana menguap kecil lalu tersenyum. “Mama… peluk dulu.”


Mama langsung memeluk erat tubuh mungil itu. “Mama akan selalu peluk kamu, setiap pagi dan setiap malam.”


Di sekolah pun, Eliana mulai terbiasa melihat Mamanya menunggu di gerbang ketika pulang. Bagi Eliana, itu hal kecil yang membuat hatinya hangat. Mama selalu berusaha menyambut dengan senyum, meski hatinya sendiri masih penuh beban.


Sore-sore, mereka duduk di ruang tamu, sekadar bercerita tentang pelajaran sekolah, atau menggambar bersama. Mama ingin memastikan Eliana kecil tumbuh dengan kasih sayang yang utuh, meski bayang-bayang Papa yang penuh manipulasi masih ada di rumah itu.


---


Suatu malam, setelah Eliana tidur, Mama duduk sendiri sambil menatap foto lama orang tuanya yang tersimpan di album. Wajah mereka yang ramah dan penuh kasih seolah memanggil-manggilnya. Sudah lama ia jarang berhubungan, karena selama ini Papa selalu menekannya agar tidak terlalu dekat dengan keluarga sendiri.


Namun malam itu, Mama memberanikan diri. Ia menekan nomor lama itu dengan tangan bergetar.


“Halo?” suara lembut seorang perempuan terdengar. Itu suara ibunya sendiri.


Mama terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tangisnya pecah. “Mama…”


“Nak? Apa benar ini kamu? Ya Tuhan, kami merindukanmu…”


Mama menangis tersedu-sedu, membiarkan semua air mata jatuh setelah sekian lama ia tahan. Ia bercerita sedikit demi sedikit, tanpa menjelek-jelekkan siapa pun, hanya mengungkapkan betapa berat hidup yang ia jalani.


Dan dari seberang telepon, suara ibunya penuh keteguhan. “Kami selalu di sini untukmu. Apa pun keputusanmu, kami akan mendukungmu. Jangan merasa sendirian.”


Ayahnya pun ikut bicara, suaranya tegas namun hangat. “Kalau dia mengancammu, jangan takut. Kau masih punya rumah. Kau masih punya keluarga. Pulanglah kapan pun kau mau.”


Malam itu, Mama merasa hatinya diberi energi baru. Ada dukungan, ada kekuatan, ada tempat pulang yang nyata. Ia tidak lagi merasa terkurung sendirian dalam jeratan manipulasi Papa.


---


Seiring berjalannya waktu, Mama makin mantap melangkah. Ia tidak lagi curhat ke teman-teman yang bisa mengkhianati. Ia menyimpan semuanya sendiri, sambil sesekali bercerita pada orang tuanya yang selalu memberi nasihat menenangkan.


Setiap kali Papa mencoba mengancam, Mama hanya menanggapinya dengan senyum tipis. “Kita lihat saja nanti,” ucapnya pendek. Papa bisa merasakan bahwa Mama mulai berbeda: tidak lagi mudah dipatahkan.


Dan yang paling terasa adalah kasih sayang yang Mama limpahkan untuk Eliana. Anak kecil itu tumbuh dengan pelukan, dengan kata-kata penuh cinta, dengan keyakinan bahwa ia tidak sendirian. Meski Mama menyimpan luka besar, ia tidak ingin luka itu menetes ke hati putrinya.


---


Hari itu, sebelum berangkat sekolah, Eliana merengek. “Mama, jangan lupa jemput aku ya. Aku mau tunjukkin gambar yang aku buat di kelas.”


Mama tersenyum hangat. “Tentu, sayang. Mama pasti datang.” Ia mengecup pipi Eliana, memeluk erat tubuh mungil itu, seolah menyalurkan semua keberanian yang baru saja ia kumpulkan dari percakapan dengan orang tuanya.


Ketika Eliana melangkah keluar rumah, Mama menatapnya lama. Dalam hati ia berbisik: “Nak, apa pun yang terjadi nanti, Mama akan berjuang. Tidak hanya untuk diri Mama, tapi juga untukmu.”


Itulah janji yang Mama genggam erat—janji seorang perempuan yang pernah terkhianati, tapi memilih bangkit, mandiri, dan mulai menyusun langkah besar menuju kebebasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar