Dongeng Si Cikal 13

Dongeng Si Cikal Bab 13 di blog Cerita Kemuning


Bab 13. Keteguhan yang Diuji 


Hari-hari yang belakangan dilalui Mama mulai berbeda. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang berubah. Bukan lagi tatapan seorang perempuan yang terjebak dalam lingkaran manipulasi suaminya, melainkan tatapan yang menyimpan keyakinan baru.


Pagi itu, sinar matahari menembus gorden tipis kamar sederhana mereka. Lia kecil masih mengusap matanya, malas bangun dari hangatnya selimut. Mama sudah duduk di sisi ranjang, merapikan rambut anaknya dengan penuh kelembutan.

“Bangun, Sayang,” bisiknya. “Hari ini kamu harus berangkat lebih awal, ada ujian, kan?”


Lia mengangguk pelan, lalu mengucek mata. Ia menatap Mama yang tampak lebih tenang dari biasanya. Ada senyum kecil yang membuat Lia merasa nyaman.

“Ma…” suara Lia serak, masih setengah mengantuk, “…Mama sekarang sering senyum, ya?”


Mama tersentak sebentar, lalu tertawa pelan sambil mencubit pipi anaknya. “Memangnya dulu Mama tidak sering senyum?”


“Beda, Ma,” jawab Lia polos. “Sekarang senyumnya kayak… bikin aku berani.”


Mama terdiam. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Ia tidak ingin lagi menularkan kesedihan pada anak sekecil itu. Ia tahu, sejak dulu Lia kecil sering menjadi saksi pertengkaran, ancaman, bahkan diam-diamnya air mata Mama. Kini, ia bertekad menanamkan sesuatu yang berbeda: keberanian.


Setelah menyiapkan sarapan sederhana, Mama memeluk Lia sebelum anak itu berangkat ke sekolah. Ia membungkuk, menempelkan keningnya ke kening Lia, lalu berbisik,

“Apapun yang terjadi, kamu harus percaya Mama. Kita akan baik-baik saja.”


Pelukan itu begitu erat, seolah Mama sedang memindahkan seluruh kekuatan yang ia punya ke dalam tubuh kecil anaknya. Lia merasakan kehangatan itu menembus kulit, menyalakan sesuatu yang baru di dadanya.


---


Sementara itu, Eliana dewasa dalam tubuh Mbak Ira mengamati perubahan Mama dengan hati bergetar. Malam sebelumnya, ia sempat menyinggung tentang doa.

“Bu Ratih,” ucapnya saat mereka duduk di ruang tamu sepi, hanya ditemani cahaya lampu redup, “kekuatan besar selalu datang dari hati yang yakin. Kalau Ibu sudah memilih untuk tidak takut lagi, jangan goyah. Ingat, setiap langkah kecil berarti kemenangan untuk Lia.”


Mama mengangguk, dan sejak itu, ia rajin berdoa tiap malam. Tidak lagi berdoa dengan wajah muram, melainkan dengan suara tenang, penuh keteguhan. Eliana dewasa tahu, doa itu bukan hanya bisikan pada langit, melainkan pengikat batin antara tiga jiwa: Mama, Lia kecil, dan dirinya sendiri.


---


Namun, badai tidak pernah jauh dari mereka. Papa mulai mencium adanya perubahan. Ia pulang lebih awal dari biasanya, langkah sepatunya berat, wajahnya keras seperti patung. Mama yang sedang melipat baju di ruang tengah berhenti, jantungnya berdegup cepat, tapi ia tetap duduk.


Papa meletakkan ponselnya di meja dengan layar menyala, menampilkan percakapan WhatsApp. Nama kontak salah satu teman Mama terpampang jelas.

“Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu semua yang kau lakukan,” kata Papa dingin. “Kalau kau berniat pergi, jangan harap bisa lolos. Aku bisa bawa semua ini ke pengadilan. Aku bisa bilang kau istri tidak patuh. Kau pikir hakim akan berpihak padamu?”


Suara itu menusuk seperti belati. Biasanya, Mama akan gemetar, menangis, lalu berusaha membela diri. Tapi kali ini berbeda. Mama menatap lurus, menahan gemetar di ujung jarinya. Ia menarik napas panjang.

“Kalau memang begitu,” suaranya pelan namun tegas, “biarkan Tuhan yang menilai. Aku sudah tidak takut.”


Papa mendengus, tersenyum miring, merasa ancamannya masih bekerja. Ia tidak sadar bahwa perempuan di hadapannya bukan lagi istri yang sama.


Malam itu, Lia kecil masuk ke kamar Mama. Ia baru saja selesai belajar, tapi wajahnya muram.

“Ma…” suaranya lirih, “…kalau Papa terus jahat, Mama tetap sayang Papa?”


Pertanyaan itu membuat dada Mama sesak. Ia mengusap rambut Lia, lalu memeluknya erat.

“Sayang itu banyak macamnya, Nak. Tapi yang paling penting, Mama harus sayang pada diri Mama sendiri, dan pada kamu. Kalau Mama tidak kuat, siapa yang akan lindungi kamu?”


Lia kecil menatap mata mamanya, lalu mengangguk pelan. Kata-kata itu menancap dalam. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa Mama benar-benar ingin berdiri, bukan hanya bertahan.


---


Beberapa hari kemudian, Papa mendatangi rumah orang tua Mama. Ia masuk dengan wajah dibuat sendu, seolah menanggung beban berat.

“Bapak, Ibu…” katanya lirih. “Saya hanya ingin menjaga rumah tangga ini. Tapi Ratih seperti menutup hati. Saya khawatir ada pihak yang memengaruhinya.”


Ia menatap penuh pura-pura, berusaha menarik simpati. Tapi orang tua Mama sudah terlalu sering melihat kepalsuan itu.


Ayah Mama menegakkan badan, menatap menantunya dengan sorot tajam.

“Kalau kau benar-benar ingin menjaga rumah tangga,” katanya tegas, “kenapa harus dengan ancaman? Kami tahu apa yang kau lakukan selama ini. Jangan anggap kami buta.”


Papa tercekat. Kata-kata itu bagai tamparan keras. Ia menoleh ke Mama yang muncul dari balik pintu, menggandeng Lia kecil dengan tangan mantap.


“Papa,” kata Mama dengan suara lantang, “jangan lagi pakai nama keluarga ini untuk menekan aku. Kalau kau mau mempertahankan rumah tangga, buktikan dengan sikap. Bukan dengan ancaman. Aku sudah tidak bisa dibohongi lagi.”


Suasana hening. Papa menegang, matanya berkilat penuh amarah, tapi tidak ada kata keluar dari mulutnya. Untuk pertama kalinya, ia ditantang secara terbuka di depan orang tua Mama.


Lia kecil yang menggenggam tangan Mama merasakan getaran di telapak ibunya. Tapi yang ia lihat bukan ketakutan, melainkan kekuatan. Ia tersenyum kecil, dadanya terasa ringan.


Dan di sudut ruangan, Eliana dewasa dalam tubuh Mbak Ira menatap adegan itu dengan air mata haru. Ia tahu, ini baru langkah awal. Jalan ke depan masih penuh duri, tapi Mama sudah berdiri di titik yang tak bisa kembali lagi.


Setelah Papa pulang lebih dulu dengan marah, tak lama Mama, Lia kecil dan Mbak Ira juga segera berpamitan dan kembali. Setelah sampai di depan rumah Mbak Ira, Mama dan Lia kecil berterima kasih karena telah bersedia mengantar untuk menyusul Papanya Eliana ke rumah orang tua Mama Eliana dengan menggunakan sepeda motor. 


---


Malam itu, ketika semua sudah tenang, Mama duduk di kamar sendirian. Ia membuka jendela, membiarkan angin malam masuk, dan berbisik lirih pada dirinya sendiri:

“Aku tidak lagi jadi tawanan. Aku harus melangkah.”


Lia kecil yang pura-pura tidur di ranjang tersenyum samar, merasakan getar doa itu menyelimuti tubuhnya.


Sementara Eliana dewasa, meski tidak bisa berbicara langsung, tahu satu hal: benang merah takdir mulai berubah. Ia, Lia kecil, dan Mama kini terikat oleh keteguhan yang sama.


Dan malam itu, bintang di langit seakan bersinar sedikit lebih terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar