![]() |
Gerahnya siang tak selalu buruk—kadang ia datang sambil membawa tawa kecil di pangkuan - Blog Cerita Kemuning |
Tentang Cuaca Ekstrem, Demam Seruni, dan Pelukan yang Tak Mau Lepas.
Beberapa hari ini, panasnya terasa beda. Bukan sekadar siang yang terik, tapi seperti ada sesuatu yang menekan dari atas langit—diam, panjang, dan melelahkan. Katanya, ini belum puncaknya. Katanya lagi, bisa bertahan sampai Oktober nanti. Aku membaca itu dari berita yang berseliweran di media sosial. Entah benar sepenuhnya atau tidak, tapi tubuh ini sudah lebih dulu percaya—karena memang terasa.
Dan sebagai ibu, rasa itu tidak berhenti di kulit. Ia masuk ke kepala. Lalu ke hati. Dan diam-diam berubah jadi kekhawatiran yang tidak ada jedanya.
Awal April kemarin, Seruni demam. Bukan demam biasa yang datang lalu pergi begitu saja. Ia datang dengan sariawan yang membuat gusinya bengkak. Aku bisa melihat dari cara dia menelan, dari cara dia diam lebih lama dari biasanya. Anak yang biasanya riang itu jadi lebih banyak bersandar di tubuhku.
Aku tahu rasanya tidak nyaman. Mungkin bahkan sakit. Tapi seperti biasa, dia tidak banyak mengeluh. Justru aku yang sibuk menebak-nebak rasa sakitnya.
Sejak itu, hari-hariku berubah jadi rutinitas kompres. Pagi, siang, sore, sampai malam. Aku pakai bantalan dingin dari freezer. Aku tempelkan pelan di pipinya, di bagian yang bengkak. Kadang dia meringis sedikit, tapi setelah itu wajahnya lebih tenang. Mungkin dinginnya membantu meredakan denyut kecil yang menyiksa itu.
Kalau malam, aku pakai kompres instan. Yang biasa ditempel di dahi anak-anak itu. Tapi kadang, bantalan dari freezer tetap jadi andalan.
Dan ada satu momen yang bikin dadaku sesak sekaligus hangat.
Suatu malam, aku ketiduran.
Ketika aku bangun, aku lihat Seruni tidak membangunkanku. Dia diam-diam bangun sendiri, berjalan ke dapur, membuka freezer, dan mengambil bantalan dingin yang baru. Bantalan yang dia pakai sebelumnya sudah mencair. Lalu dia kembali ke tempat tidur, menempelkannya sendiri ke pipinya.
Aku melihat itu dalam diam.
Ada perasaan bangga, tapi juga perih.
Anak sekecil itu belajar menahan sakit dan mencari cara untuk mengatasinya sendiri—karena ibunya kelelahan dan tertidur.
Sejak bayi, Seruni memang begitu. Tidak pernah benar-benar mau jauh dariku. Bahkan sekarang pun, dia seperti perangko. Nempel. Selalu ingin ada di pelukanku, di pangkuanku. Dan jujur saja, aku tidak pernah benar-benar keberatan.
Karena di saat seperti ini, pelukan itu bukan cuma buat dia.
Tapi juga buat aku.
Aku memeluknya dengan rasa khawatir yang penuh. Tapi anehnya, dia selalu bisa tertidur dengan tenang. Nafasnya teratur. Wajahnya damai. Seolah-olah dunia baik-baik saja selama dia ada di dekatku.
Kadang dia terbangun, bukan karena sakitnya, tapi karena aku mengubah posisi. Aku pegal. Badanku seperti kayu karena harus bertahan di satu arah terlalu lama. Tapi setiap kali dia bergerak sedikit, aku langsung sadar.
Begitulah malam-malam kami.
Sunyi, hangat, dan penuh doa yang tidak diucapkan.
Setelah dia sembuh, aku bicara pelan dengannya. Tidak dengan nada marah, tidak juga menggurui. Hanya seperti ibu yang sedang menitipkan pesan kecil untuk masa depan anaknya.
Aku bilang, jangan terlalu sering makan dan minum yang manis. Tidak apa-apa sesekali, tapi jangan jadi kebiasaan. Aku bilang juga, buah dan sayur itu bukan musuh. Mereka teman baik yang kadang memang tidak seenak permen, tapi jauh lebih setia menjaga tubuh.
Aku juga mengingatkannya tentang makanan pedas. Tentang latiao yang pernah dia coba. Tentang bagaimana tubuhnya belum siap menerima rasa yang terlalu tajam.
Dia mengangguk.
Seperti biasa.
Anggukan kecil yang sederhana, tapi aku selalu berharap di dalamnya ada pemahaman yang tumbuh perlahan.
Karena aku tahu, aku tidak akan selalu ada di setiap langkahnya.
Akan ada hari di mana dia harus memilih sendiri. Menjaga dirinya sendiri.
Dan tugas kecilku sekarang adalah menanamkan kebiasaan itu, sedikit demi sedikit.
Di tengah semua itu, cuaca tetap panas. Tidak peduli siapa yang sedang sakit, siapa yang sedang khawatir.
Matahari tetap tinggi, seolah tidak kenal lelah.
Dan aku mulai berpikir soal hal-hal kecil yang dulu sering dianggap sepele. Seperti membawa payung.
Dulu, aku sering malas. Ah, sebentar saja. Ah, tidak terlalu jauh.
Sekarang, rasanya seperti kewajiban.
Apalagi nanti saat mengantar Seruni mengaji. Jalan kaki di tengah hari, pulang sekitar setengah dua. Matahari tepat di atas kepala. Panasnya bukan main.
Bahkan di dalam pondok saja, gerahnya terasa seperti dipeluk udara yang tidak bergerak.
Jadi ya, payung bukan lagi soal gaya. Tapi soal bertahan.
Lucu ya, kadang hidup mengajarkan kita lewat hal-hal sederhana.
Tentang panas yang membuat kita lebih menghargai teduh.
Tentang sakit yang membuat kita lebih perhatian pada tubuh.
Tentang anak yang diam-diam tumbuh, bahkan saat kita sibuk khawatir.
Aku masih sering merasa cemas. Terutama soal cuaca ini. Tentang bagaimana beberapa bulan ke depan akan berjalan. Tentang bagaimana menjaga Seruni tetap sehat di tengah kondisi yang tidak ramah seperti ini.
Tapi di sisi lain, aku juga belajar.
Bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan.
Yang bisa kita lakukan adalah menjaga yang ada di dalam jangkauan kita.
Air minum yang cukup. Makanan yang lebih baik. Istirahat yang cukup. Dan pelukan yang tidak pelit.
Sisanya… kita titipkan pada Tuhan.
Untuk kamu yang membaca ini, yang mungkin juga sedang merasa hal yang sama—khawatir, lelah, atau sekadar ingin memastikan orang yang kamu sayangi baik-baik saja…
Jaga kesehatanmu, ya.
Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli.
Dan jaga juga keselamatanmu. Di jalan, di rumah, di mana pun kamu berada.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi besok.
Tapi kita bisa berusaha hari ini.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Aamiin.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar