Hari-Hari yang Penuh Debu, Tapi Hati Pelan-Pelan Menemukan Rumah

Ilustrasi perempuan berambut merah duduk di meja kayu jati, menatap taman bunga dari jendela sambil menulis di depan laptop.

Di antara sibuk dan sunyi, aku belajar bernapas lagi - Blog Cerita Kemuning



Di antara renovasi, lelah, dan tumpukan pekerjaan—ada jeda kecil yang diam-diam menyembuhkan.

---

Ada hari-hari yang terasa seperti berlari tanpa garis finish. Bangun pagi bukan lagi tentang segar atau tidak, tapi tentang “hari ini harus mulai dari mana dulu?” Dan belakangan ini, hampir setiap hari terasa seperti itu.

Renovasi pondok sedang berjalan. Bukan renovasi kecil yang tinggal tunjuk tukang lalu beres. Ini jenis renovasi yang melibatkan tangan, tenaga, waktu, dan hati keluarga sendiri. Di sana-sini masih berantakan. Debu seperti sahabat setia. Suara ketukan, gesekan, dan langkah kaki jadi latar musik harian.

Aku bolak-balik bantu mama bersih-bersih. Kadang di depan, kadang di belakang. Kadang menyapu, kadang hanya berdiri sebentar sambil menghela napas dan bertanya dalam hati: ini kapan selesainya ya? Tapi ya begitu hidup—tidak semua harus selesai cepat. Ada yang memang harus dijalani perlahan, seperti menyeduh teh agar rasanya pas.

Kemarin jadi hari yang cukup berarti. Kamar baru untukku dan Runi akhirnya selesai. Tidak sempurna, tapi cukup. Bersih, lebih rapi, dan yang paling penting—lebih tenang. Malam tadi kami tidur di sana untuk pertama kalinya. Rasanya seperti menemukan ruang kecil di tengah badai. Tidak mewah, tapi hangat. Tidak luas, tapi cukup untuk menaruh lelah.

Dan hari ini… ah, hari ini rasanya seperti hadiah kecil dari langit.

Runi ikut kakek dan neneknya jalan-jalan. Rumah mendadak sunyi. Tidak ada suara langkah kecilnya, tidak ada panggilan “Mama…” yang biasanya muncul setiap beberapa menit. Bahkan hari ini dia bolos mengaji lagi—tapi karena masih anak bawang, belum masuk absen resmi. Jadi aku bisa menarik napas lebih panjang tanpa rasa bersalah yang terlalu berat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku punya waktu duduk dan menulis lagi.

Rasanya seperti bertemu teman lama.

Menulis itu seperti pulang. Walau cuma sebentar, walau di sela-sela kesibukan yang belum selesai, tapi tetap terasa menenangkan. Aku tidak harus jadi sempurna di sini. Tidak harus rapi seperti kamar baru. Tidak harus cepat seperti pekerjaan renovasi. Aku hanya perlu jujur.

Dan jujurnya… aku capek.

Capek yang bukan cuma di badan, tapi juga di kepala. Banyak yang dipikirkan, banyak yang harus diurus. Kadang ingin mengeluh, tapi langsung diingatkan hati: ini semua proses. Ini semua bagian dari membangun, bukan cuma bangunan, tapi juga kehidupan.

Renovasi ini memang proyek panjang. Kakeknya Runi benar-benar mendesain dan mengerjakan banyak hal sendiri. Kadang ada bantuan, tapi hanya sesekali. Sisanya? Dikerjakan pelan-pelan, dengan tangan sendiri.

Dan jujur saja—aku bangga.

I’m proud of you, Pa.

Tidak semua orang punya kesabaran seperti itu. Tidak semua orang mau repot sejauh itu untuk membangun sesuatu dari nol. Ini bukan sekadar pondok. Ini seperti mimpi yang dipahat sedikit demi sedikit. Walau lama, tapi pasti.

Sekarang kamar kami sudah selesai, tapi perjalanan belum. Nanti lanjut ke kamar eyang putrinya Runi. Bagian belakang juga masih jauh dari kata beres. Tapi anehnya, sekarang aku tidak terlalu terburu-buru lagi.

Mungkin karena aku sudah merasakan satu bagian selesai.

Dan ternyata, satu langkah kecil itu cukup untuk memberi harapan.

Hari-hari sibuk ini memang belum ada jedanya. Hampir tidak ada hari santai. Bahkan ketika duduk, pikiran tetap berjalan. Tapi hari ini berbeda. Hari ini seperti diberi ruang kecil untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti dari hidup, tapi berhenti dari kejar-kejaran.

Aku duduk, menulis, dan merasakan sunyi yang tidak menakutkan. Sunyi yang justru menenangkan. Seperti pelukan diam yang bilang, “tidak apa-apa, kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri. Merasa harus selalu kuat, selalu siap, selalu bisa. Padahal, manusia juga butuh jeda. Butuh ruang untuk tidak melakukan apa-apa, selain sekadar bernapas dan merasa.

Dan hari ini, aku memilih itu.

Memilih untuk tidak memikirkan yang belum selesai. Memilih untuk menikmati yang sudah ada. Kamar kecil yang baru, waktu menulis yang jarang, dan keheningan yang sederhana.

Kalau dipikir-pikir, kebahagiaan memang sering datang dalam bentuk yang tidak besar. Tidak selalu pesta, tidak selalu liburan. Kadang hanya berupa kamar yang rapi, secangkir susu coklat hangat, dan waktu tanpa gangguan.

Dan hari ini, aku punya itu.

Semoga semua lelah ini tidak sia-sia. Semoga setiap debu yang disapu, setiap barang yang dipindah, setiap tenaga yang dikeluarkan—semuanya jadi amal, jadi berkah, jadi cerita yang nanti bisa dikenang dengan senyum.

Semoga juga kita semua selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang cukup—bahkan lebih.

Aamiin.

Hari ini mungkin hanya jeda kecil. Besok kemungkinan besar akan kembali ramai, kembali sibuk, kembali penuh suara. Tapi setidaknya, aku sudah mengisi ulang sedikit tenaga.

Seperti baterai yang tidak penuh, tapi cukup untuk jalan lagi.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat selesai. Tapi siapa yang tetap berjalan, walau pelan, walau lelah, walau sesekali berhenti.

Dan aku… masih berjalan.

---

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca. 

--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar