Pemahamanku tentang Bermasyarakat Ternyata Masih Seperti Jalan di Gang Sempit

Ilustrasi perempuan berbaju oranye memancing ikan koi di taman sebagai gambaran perjalanan memahami kehidupan bermasyarakat.
Kadang yang perlu kita benahi bukan orang lain, melainkan cara kita melihat, berpikir, dan berbicara tentang mereka 🐳 - Blog Cerita Kemuning


Belajar Memahami Orang Lain Tanpa Kehilangan Diri Sendiri


Aku pernah berpikir bahwa aku sudah cukup memahami bagaimana kehidupan bermasyarakat bekerja. Ternyata setelah benar-benar menjalaninya, pemahamanku masih seperti jalan di gang sempit: baru beberapa langkah, sudah ketemu belokan. Kadang lurus sedikit, eh tiba-tiba mentok tembok. Mau balik juga malu. 😁

Selama ini aku lebih banyak mengenal kehidupan bermasyarakat dari cerita yang sampai ke keluargaku. Ada cerita tentang orang ini, orang itu, begini dan begitu. Ada pula gosip yang entah berangkat dari mana, lalu ketika sampai di telinga kami sudah berubah bentuk seperti cerita bersambung yang episodenya tidak pernah tamat.

Karena mendengar banyak cerita, tanpa sadar aku membangun dugaan sendiri.

Aku mengira, mungkin orang-orang memang berpikir seperti itu. Mungkin mereka memang punya cara pandang tertentu. Mungkin kalau seseorang melakukan sesuatu, maksudnya memang seperti yang diceritakan.

Ternyata belum tentu.

Ketika aku sendiri mulai lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang, aku baru menyadari bahwa manusia memang rumit. Apa yang menurut seseorang benar, belum tentu benar bagi orang lain. Apa yang menurutku biasa saja, mungkin dianggap aneh oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Dan di situlah aku mulai memahami bahwa sawang sinawang memang bukan sekadar istilah yang enak didengar.

Kita sering melihat kehidupan orang lain dari luar, lalu merasa sudah tahu seluruh ceritanya.

Padahal kita hanya melihat satu potong.

Satu rumah.

Satu percakapan.

Satu ekspresi wajah.

Satu kebiasaan.

Satu kejadian.

Lalu otak kita dengan rajinnya menyusun cerita lengkap.

Hebat juga otak manusia. Netflix kalah cepat. 😂

Aku sendiri akhirnya sadar bahwa aku pun bisa melakukan hal yang sama.

Bukan karena ingin merendahkan orang lain. Bukan karena merasa lebih baik. Kadang hanya karena spontanitas. Melihat sesuatu, lalu pikiran langsung menyimpulkan atau mulut langsung berbicara sebelum otak sempat mengadakan rapat koordinasi.

Nah, rapat koordinasinya sering terlambat. Mulut sudah jalan duluan. 😭

Dari situ aku belajar bahwa hidup bermasyarakat ternyata membutuhkan lebih banyak kesadaran daripada yang kukira.

Kita tidak hanya perlu menjaga perilaku ketika sedang marah. Justru ketika sedang santai dan merasa tidak punya maksud buruk pun kita tetap perlu berhati-hati.

Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana orang lain menangkap ucapan kita.

Bisa saja menurut kita itu hanya kalimat biasa. Tetapi bagi orang lain, mungkin ada bagian tertentu yang terasa menusuk. Sebaliknya, kita juga sering mengalami hal yang sama. Seseorang mungkin melakukan sesuatu tanpa maksud apa-apa, tetapi kita sudah terlanjur menafsirkannya macam-macam.

Maka aku semakin merasa bahwa prasangka memang harus dikendalikan mulai dari rumah.

Bukan hanya prasangka terhadap orang lain, tetapi juga prasangka yang kita buat di dalam kepala sendiri.

Kalau aku tidak suka urusanku dicampuri, berarti aku juga harus belajar tidak mencampuri urusan orang lain.

Kalau aku tidak suka hidupku dibicarakan, berarti aku juga harus berhati-hati agar tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai bahan pembicaraan.

Kalau aku tidak suka orang membuat kesimpulan tentang diriku hanya berdasarkan apa yang mereka lihat, berarti aku juga harus belajar tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Sederhana, sebenarnya.

Tapi menjalankannya yang kadang seperti memasak tanpa minyak: kelihatannya gampang, ternyata ada saja dramanya. 😂

Aku juga mulai memahami bahwa berbicara seperlunya ternyata bukan berarti kita menjadi orang yang dingin.

Kita tetap bisa ramah.

Tetap bisa tersenyum.

Tetap bisa menyapa.

Tetap bisa menghargai orang lain.

Tetapi tidak semua hal harus kita komentari.

Tidak semua masalah orang harus kita pikirkan.

Tidak semua cerita harus kita cari ujungnya.

Karena kalau semua masalah orang mau kita pikirkan, masalah sendiri saja sudah antre panjang. Masa mau ditambah punya tetangga satu RT dalam kepala? 😭

Ada hal-hal yang memang lebih baik dibiarkan menjadi milik orang lain.

Mereka punya kehidupan mereka.

Aku punya kehidupanku.

Mereka punya cara berpikir sendiri.

Aku juga punya cara berpikir sendiri.

Dan mungkin salah satu kedewasaan dalam bermasyarakat adalah ketika kita mampu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan melihat sesuatu dengan kacamata yang sama.

Aku tidak harus membuat semua orang memahami caraku.

Mereka juga tidak harus memahami semua alasanku.

Selama aku tidak berniat merugikan, merendahkan, atau menyakiti orang lain, dan ketika tanpa sengaja aku melakukan kesalahan, aku mau menyadarinya serta memperbaikinya, aku akan berusaha untuk tetap menjaga sikap dan tidak mengulanginya lagi.

Dan ketika aku sudah berusaha ramah dan sopan, tetapi dibalas dengan sikap jutek atau cuek, ya sudah.

Tenangkan pikiran.

Tidak perlu mengejar.

Tidak perlu bertanya-tanya, “Aku salah apa?” sampai kepala berasap.

Mungkin memang tidak cocok.

Mungkin dia sedang punya masalah.

Mungkin memang tidak ingin dekat.

Atau mungkin aku memang tidak perlu tahu.

Dan kalau memang tidak cocok, bukankah Indonesia ini luas? 😁

Masih banyak manusia di luar sana. Masih banyak tempat yang bisa kita datangi. Masih banyak orang yang mungkin lebih cocok dengan cara kita berinteraksi.

Kita tidak perlu memaksa semua pintu terbuka.

Ada pintu yang cukup kita ketuk dengan sopan, lalu kalau tidak dibukakan, kita pergi dengan tenang.

Bukan karena kalah.

Tetapi karena kita tahu bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan berdiri di depan pintu orang lain sambil bertanya-tanya kenapa mereka tidak mau membukanya.

Pada akhirnya, aku merasa bahwa belajar bermasyarakat adalah belajar mengendalikan dua hal: pikiran dan ucapan.

Pikiran supaya tidak terlalu cepat membuat kesimpulan.

Ucapan supaya tidak terlalu cepat keluar sebelum dipikirkan.

Aku mungkin masih seperti orang yang berjalan di gang sempit. Masih sering bertemu belokan yang tidak kuduga. Masih bisa salah membaca keadaan. Masih bisa salah memahami orang. Mungkin begitu juga dengan orang lain terhadapku.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa jalan itu memang sempit, sehingga aku harus lebih berhati-hati ketika berjalan.

Tidak semua yang kulihat harus kusimpulkan.

Tidak semua yang kudengar harus kupercaya.

Tidak semua yang kupikirkan harus kuucapkan.

Dan tidak semua orang harus kupahami sampai tuntas.

Begitu pula sebaliknya.

Orang lain juga tidak wajib memahami seluruh diriku.

Aku hanya perlu terus belajar menjadi manusia yang lebih sadar: ramah tanpa berpura-pura, tegas tanpa menyakiti, menjaga diri tanpa mencurigai semua orang, dan tidak mencampuri kehidupan orang lain karena aku sendiri tahu rasanya ketika hidupku dicampuri.

Mungkin inilah bagian dari belajar dewasa.

Bukan menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Tetapi menjadi manusia yang ketika sadar telah salah, mau berhenti sebentar, melihat ke dalam diri, lalu belajar berjalan lagi.

Pelan-pelan.

Lewat gang yang sempit itu.

Sampai suatu hari mungkin jalannya terasa lebih lapang.

Atau jangan-jangan gangnya memang tetap sempit, hanya kita yang sudah belajar berjalan tanpa menabrak kanan-kiri. 😁


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar