Menghitung Hari, Menyulam Rindu: Antara Idul Fitri dan Hari Bahagia Adikku

Ilustrasi Ibu dan anak perempuan mengenakan kebaya biru dan batik Mega Mendung dengan aksen emas, bermain di bawah pohon besar, memandang langit ceria

Di bawah teduhnya waktu, aku memeluk masa kecilmu—dan diam-diam membayangkan masa depan yang sedang Tuhan siapkan untuk kita - Blog Cerita Kemuning 



Dari sidang isbat hingga pelaminan, dari takbir hingga haru yang diam-diam menetes—kisah sederhana tentang keluarga, waktu, dan cinta yang tumbuh tanpa suara.

 

---

 

Ada fase dalam hidup yang rasanya seperti berdiri di antara dua musim. Tidak sepenuhnya hujan, belum sepenuhnya kemarau. Hangat, tapi juga basah di sudut mata. Begitulah rasanya sekarang—aku sedang menghitung hari menuju hari H pernikahan adik laki-lakiku.

Di kalender, tanggal itu sudah dilingkari. Tebal. Seolah ingin bilang, “Hei, bersiaplah. Hidupmu akan berubah sedikit… atau mungkin banyak.”

Tapi sebelum sampai ke sana, kami akan melewati satu momen sakral yang selalu datang dengan cara yang tak pernah benar-benar bisa ditebak: Idul Fitri. Menunggu sidang isbat seperti menunggu kabar dari langit. Apakah besok sudah lebaran? Atau masih puasa sehari lagi?

Lucu ya, hal yang setiap tahun terjadi, tetap saja membuat hati berdebar kecil.

Biasanya, malam menjelang keputusan itu terasa syahdu. TV menyala, berita tentang sidang isbat ditunggu. Di dapur, aroma kue kering sudah lebih dulu merayakan. Di hati, doa-doa dipanjatkan diam-diam. Semoga kita semua dipertemukan dengan hari kemenangan.

Dan tahun ini… rasanya berbeda.

Karena setelah gema takbir reda, setelah tangan-tangan saling bersalaman, setelah maaf-maafan yang kadang diiringi air mata, kami tidak benar-benar kembali ke rutinitas biasa. Tidak. Kami akan lanjut ke bab berikutnya: mempersiapkan pernikahan adik laki-lakiku.

Ah, menulis ini saja sudah bikin dada terasa penuh.

Adikku itu… yang dulu suka iseng, suka jahil, kadang ngambekan kayak anak kecil, tapi diam-diam paling penyayang. Yang kalau aku lagi lelah, dia bisa tiba-tiba datang dengan candaan receh yang entah kenapa selalu berhasil bikin ketawa.

Sekarang… dia akan menikah.

Aku sampai harus ngomong ke diri sendiri, setengah bercanda, setengah serius:

“Tenang Ning, nanti kamu dibawakan adik perempuan sama dia.”

Hehe.

Lucu juga membayangkan. Dulu aku hanya punya dia sebagai adik laki-laki. Sekarang, hidup akan memberiku “adik perempuan” baru. Seseorang yang mungkin nanti akan jadi teman cerita, teman dapur, teman tertawa… atau bahkan teman nangis diam-diam di pojok rumah.

Dan lebih jauh lagi—aku mulai membayangkan peran baru yang akan datang pelan-pelan.

Dia sudah jadi paman untuk anakku.

Dan aku… akan jadi uwak. Bu De. Tante.

Kapan hari itu tiba?

Pertanyaan itu datang seperti angin sore. Ringan, tapi terasa. Membawa bayangan-bayangan kecil: suara tawa anak-anak, langkah kaki mungil di lantai rumah, dan mungkin wajah kecil yang… sedikit “copas” dari adik laki-lakiku.

Yang kelak akan menjadi sepupu Runi—sepupu yang benar-benar terikat oleh garis keluarga yang sama, dari nenek yang sama. Hehe… membayangkannya saja sudah bikin hati hangat.

Karena suatu hari nanti, Runi tidak lagi sendiri. Ia akan punya “squad”-nya sendiri—teman tumbuh, teman ribut, teman berbagi cerita dalam satu rumah besar bernama keluarga.

Ah, kalau itu terjadi, mungkin aku akan sering gemas sendiri.

 

---

 

Setelah Idul Fitri nanti, rumah tidak benar-benar akan sepi. Justru sebaliknya. Akan ada kesibukan baru. Persiapan hajatan. Dari hal besar sampai hal kecil yang kadang justru paling melelahkan.

Mulai dari daftar tamu, dekorasi, makanan, menghias seserahan, hingga hal-hal yang sering dianggap remeh—tapi kalau tidak diurus, bisa bikin panik di hari H.

Di sela-sela itu, ada satu hal yang paling penting: doa.

Kami akan mendoakan adikku. Bukan hanya agar acaranya lancar, tapi agar hidup barunya benar-benar diberkahi. Karena menikah itu bukan hanya tentang hari bahagia dengan baju indah dan foto yang rapi.

Menikah adalah tentang perjalanan panjang. Tentang belajar memahami. Tentang menahan ego. Tentang tetap memilih satu sama lain, bahkan di hari-hari yang tidak indah.

Dan sebagai kakak, aku hanya bisa berdiri sedikit di belakang, sambil berbisik dalam hati:

“Semoga kamu kuat. Semoga kamu bahagia. Semoga rumah tanggamu nanti dipenuhi tawa, bukan hanya sabar.”

 

---

 

Kadang, di tengah semua ini, aku merasa ingin menangis.

Bukan karena sedih sepenuhnya. Tapi karena haru yang terlalu penuh. Seperti gelas yang diisi sampai bibirnya—sedikit goyang saja, langsung tumpah.

Aku ingat dia yang dulu.

Dan sekarang melihatnya bersiap jadi kepala keluarga.

Waktu memang tidak pernah minta izin.

Dia berjalan saja. Diam-diam, tapi pasti.

Dan kita… hanya bisa mengikuti, sambil sesekali menoleh ke belakang.

 

---

 

Di pagi hari, ketika adzan Subuh berkumandang, ada rasa syukur yang sulit dijelaskan. Kami masih dibangunkan. Masih diberi kesempatan membuka mata. Masih bisa merasakan dinginnya air wudhu, dan hangatnya sinar matahari yang pelan-pelan muncul dari ufuk timur.

Hal-hal sederhana, tapi sering kita lupakan.

Padahal di situlah letak nikmat yang paling jujur.

Aku duduk, memandangi cahaya pagi, dan dalam hati hanya bisa berkata:

Alhamdulillah Ya Allah… atas semua yang Engkau beri.

Atas keluarga yang masih utuh.

Atas momen-momen kecil yang diam-diam jadi kenangan besar.

Atas perjalanan yang tidak selalu mudah, tapi selalu cukup.

 

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal.

 

---

 

Menghitung hari menuju pernikahan adik ternyata bukan hanya soal tanggal.

Ini tentang menerima perubahan.

Tentang belajar melepaskan sedikit demi sedikit.

Tentang memberi ruang bagi kehidupan baru untuk tumbuh.

Dan di antara semua itu, aku tetap menjadi aku—seorang kakak, seorang ibu, seorang perempuan yang kadang kuat, kadang rapuh, tapi selalu berusaha berdiri lagi.

Hari itu akan tiba.

Hari ketika adikku mengucap akad.

Hari ketika satu bab selesai, dan bab baru dimulai.

Dan aku akan ada di sana.

Mungkin sambil tersenyum.

Mungkin sambil menahan air mata.

Atau mungkin… dua-duanya sekaligus.

Karena begitulah cinta bekerja dalam keluarga—tidak selalu rapi, tidak selalu tenang, tapi selalu tulus.

Dan untuk semua yang akan datang nanti, aku hanya bisa berdoa pelan:

Semoga setiap langkah kami selalu dalam keberkahan.

Semoga setiap perubahan membawa kebaikan.

Dan semoga… rumah kecil kami selalu punya tempat untuk pulang.

 

Aamiin.

 

---

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

 

--- 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar