![]() |
Di antara lelah yang belum lunas, ada bahagia yang diam-diam tumbuh—seorang ibu memandangi dunia kecilnya yang tertidur tenang di sampingnya - Blog Cerita Kemuning |
Dari begadang, bersih-bersih rumah sampai ke sudut tersempit, hingga tamu berdatangan—ini kisah lelah yang terasa manis setelah semuanya usai.
---
Ada masa di mana tubuh terasa berat, kepala sedikit berdenyut, dan mata seperti belum benar-benar bangun… walaupun hari sudah siang.
Aku lagi ada di fase itu sekarang. Masih sering ngantuk.
Bukan tanpa alasan. Beberapa malam terakhir sebelum hari besar itu, aku begadang. Bukan untuk hal yang aneh-aneh—bukan sekadar scroll tanpa arah sampai lupa waktu—tapi karena membantu mama menyiapkan pamulang, bingkisan untuk keluarga dan tamu sebagai tanda terima kasih.
Yang sederhana, tapi penuh makna. Yang kalau dilihat orang mungkin hanya “paket”, tapi di dalamnya ada perhatian, ada niat baik, dan ada rasa ingin berbagi.
Dan seperti biasa, setiap acara besar dalam keluarga… yang sibuk bukan cuma satu dua orang. Semua ikut bergerak, seperti roda yang harus berputar bersama.
---
Bersih-Bersih yang Sampai ke Sudut yang Lupa Disapa
Rumah kami berubah.
Bukan cuma rapi, tapi benar-benar dibersihkan. Sampai ke sela-sela yang biasanya lolos dari sapu. Sampai ke pojokan yang jarang disentuh lap pel.
Aku sampai mikir, “Ini rumah atau lagi ikut lomba kebersihan tingkat nasional ya?”
Tapi memang begitulah kalau mau menyambut tamu. Apalagi tamu keluarga besar. Ada rasa ingin memberikan yang terbaik. Bukan untuk pamer, tapi untuk menghormati.
Barang-barang yang sudah tidak terpakai mulai disingkirkan. Ada yang dibuang, ada yang diseleksi ulang. Yang masih bisa dipakai dirapikan, ditata ulang seperti menemukan rumahnya kembali.
Mainan Runi? Jangan ditanya.
Dikumpulkan. Dimasukkan ke dalam karung besar. Dirapikan. Disusun. Walaupun aku tahu, nanti pasti akan keluar lagi satu per satu… seperti pasukan kecil yang tidak pernah benar-benar bisa diam.
Rumah jadi terasa lebih lega.
Lebih luas.
Lebih “siap” menerima cerita-cerita baru.
---
Tamu Datang, Rumah Jadi Hidup
Satu per satu anggota keluarga mulai berdatangan.
Ada yang dari jauh. Ada yang jarang bertemu. Ada yang terakhir kali ketemu mungkin sudah lupa wajahnya seperti apa dulu.
Dan yang paling membuat hati hangat… kakaknya nenekku datang bersama semua anak-anaknya.
Rasanya seperti melihat potongan masa lalu yang tiba-tiba hadir di depan mata.
Setelah Hari Raya Idul Fitri, tamu-tamu yang sebelumnya belum sempat hadir di acara hajatan mulai berdatangan silih berganti. Memang, di tanggal-tanggal itu banyak sekali yang punya hajat. Seolah sudah menjadi “tanggal cantik” untuk acara besar.
Jadi, wajar saja kalau ada yang menyempatkan datang lebih awal, sebelum tanggal yang telah diberitahukan.
Dan aku? Aku senang.
Capek sih… iya. Jangan ditanya.
Tapi senangnya itu nyata. Hangat. Seperti teh manis di pagi hari.
---
Anak-Anak Tetaplah Anak-Anak
Di tengah semua kesibukan orang dewasa…
Anak-anak tetap jadi dunia mereka sendiri.
Runi dan teman-temannya punya “kerajaan” di kamar. Mereka main rumah-rumahan, tertawa, berlarian kecil, lalu—entah sejak kapan—tempat tidur berubah jadi trampolin dadakan.
Loncat.
Loncat lagi.
Dan loncat lagi.
Aku yang lihat dari jauh cuma bisa tarik napas panjang.
Sprei yang tadi rapi… ya, sudah. Kotor lagi.
Di titik itu, jujur saja… aku sempat kesal. Sedikit marah.
Bukan karena anak-anaknya.
Tapi karena aku capek.
Capek itu kadang bikin emosi jadi lebih tipis. Lebih mudah naik ke permukaan.
Dan di situ aku cuma bisa bilang dalam hati,
“Astaghfirulloh…”
Karena aku tahu, mereka hanya sedang jadi anak-anak.
Dan aku… hanya sedang terlalu lelah.
---
Runi dan Pertanyaan-Pertanyaannya
Ada satu hal yang selalu bikin aku tersenyum, walaupun lagi pusing.
Runi.
Dengan segala rasa ingin tahunya.
“Ma, kita mau ngapain?”
“Ma, kenapa banyak orang di rumah?”
“Ma, kok beres-beres terus?”
Pertanyaan yang sederhana… tapi terus diulang.
Kadang dia juga mau ikut begadang. Mau nemenin aku.
Tapi aku tetap nina boboin dulu. Karena anak kecil tidak seharusnya ikut lelahnya orang dewasa.
Biarlah dia tidur dengan dunia mimpinya.
Sementara aku kembali ke dapur, ke ruang tamu, ke tumpukan pekerjaan yang belum selesai.
---
Hari Besar Itu Datang… dan Berlalu dengan Indah
Semua lelah itu akhirnya sampai di puncaknya.
Hari pernikahan adik laki-lakiku.
Acara demi acara berjalan.
Dan Alhamdulillah… semuanya lancar.
Tanpa drama besar.
Tanpa kekacauan yang berarti.
Dan di situ rasanya… semua capek itu seperti dibayar lunas.
Kadang hidup memang begitu.
Kita jungkir balik dulu… baru bisa duduk tenang sambil tersenyum.
---
Setelah Semua Usai: Bab yang Tidak Pernah Hilang
Kalau ada yang bilang setelah acara selesai kita bisa langsung istirahat total…
Aku ingin ketawa kecil.
Karena kenyataannya, ada satu bab yang selalu datang setelah semua keramaian selesai.
Beres-beres.
Cucian.
Dan sisa-sisa “perang” kecil yang ditinggalkan oleh kebahagiaan.
Sejujurnya, setelah semua selesai… aku cuma ingin tidur.
Tidur yang panjang.
Tanpa alarm.
Tanpa suara orang memanggil.
Tapi ya itu… cucian menunggu. Rumah perlu dirapikan lagi.
Jadi kami kerjakan pelan-pelan.
Dicicil.
Tidak harus selesai dalam satu hari.
Dan di saat seperti ini, bantuan itu terasa sangat berharga.
Kami memanggil seseorang yang biasa membantu saat kondisi seperti ini—saat tenaga sudah hampir habis, tapi pekerjaan masih menumpuk.
Dan jujur… itu keputusan yang bijak.
Karena tidak semua harus kita lakukan sendiri.
---
Lelah yang Tidak Sia-Sia
Sekarang, di tengah rasa ngantuk yang masih sering datang…
Aku justru merasa bersyukur.
Karena lelah ini bukan lelah yang kosong.
Ini lelah yang punya cerita.
Lelah karena membantu orang tua.
Lelah karena menyambut keluarga.
Lelah karena merayakan kebahagiaan orang yang kita sayangi.
Dan kalau dipikir-pikir…
Tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan lelah seperti ini.
---
Untuk Kamu yang Membaca Ini
Aku menulis ini sambil masih mengumpulkan sisa-sisa energi.
Dengan harapan… tulisan ini bisa jadi teman.
Mungkin kamu membacanya di pagi hari, sambil minum teh hangat.
Atau sore hari, ditemani kopi.
Atau bahkan sebelum tidur, saat dunia sudah mulai sunyi.
Kalau kamu juga sedang lelah… aku paham.
Kalau kamu juga sering ngantuk akhir-akhir ini… mungkin kita sedang berada di fase yang sama.
Dan tidak apa-apa.
Tidak harus selalu kuat.
Tidak harus selalu rapi.
Kadang hidup memang berantakan sedikit… baru terasa hidup.
---
Penutup yang Hangat
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, untuk kamu yang merayakan.
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Kalau selama ini ada kata yang kurang berkenan—baik yang disengaja maupun tidak—semoga dimaafkan.
Dan untuk kamu yang membaca ini, siapa pun kamu…
Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.
Diberi kesehatan.
Diberi rezeki yang cukup, bahkan berlebih dengan berkah.
Dan hati yang tetap hangat, walaupun dunia kadang terasa dingin.
Aamiin.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar