Tulisan Rumit Kemuning 5

Ilustrasi perempuan berambut merah mengenakan gaun kuning terang berbordir emas menaiki tangga batu yang terpahat di tebing tinggi, dikelilingi bunga daisy dan mawar, dengan lautan biru dan langit cerah berawan di sampingnya, digambar dalam gaya semi lukisan.

Naik pelan-pelan, setinggi tebing, seterang gaunnya - Blog Cerita Kemuning




Tidak Ada yang Sial, Hanya Jiwa yang Sedang Ditempa Langit
 

---

 

Pernah nggak sih, lagi capek-capeknya, terus tanpa sadar ngomong dalam hati, “Ini hari kok sial banget, sih?”

 

Padahal kita tahu. Tahu banget malah. Dalam Islam tidak ada hari sial. Tidak ada tanggal sial. Tidak ada bayi yang lahir membawa kesialan di jidatnya. Semua hari itu ciptaan Allah. Semua waktu itu milik-Nya. Masa iya Dia menciptakan sesuatu lalu diberi label “awas, ini zonk”?

 

Nggak masuk akal.

 

Tapi tetap saja… ketika ujian datang bertubi-tubi, rasanya teori itu seperti lewat begitu saja di kepala. Yang terasa justru beratnya. Yang terasa justru lelahnya.

 

Dan di situlah aku—Kemuning yang kadang sok tegar, kadang mewek diam-diam di dapur—mulai bertanya dalam hati:

 

Kenapa harus aku?

Kenapa bagian ini jatuh ke aku?

Kenapa rasanya selalu aku?

 

Tenang. Ini bukan tulisan keluhan. Ini cuma tulisan orang waras yang sedang belajar warasnya diuji.

 

---

 

Tidak Ada Hari Sial, yang Ada Hari Ujian

 

Dalam Islam, keyakinan tentang hari sial itu termasuk bentuk prasangka yang keliru. Rasulullah ﷺ sudah menegaskan bahwa tidak ada kesialan karena hari atau benda tertentu. Artinya, Senin tidak pernah bangun pagi dengan niat mencelakakan kita. Selasa tidak punya agenda membuat kita bangkrut. Tanggal 13 juga tidak duduk santai sambil merencanakan drama hidup kita.

 

Yang ada adalah takdir.

Yang ada adalah ujian.

Yang ada adalah proses.

 

Dan proses itu… seringkali tidak minta izin dulu sebelum datang.

 

Kadang satu.

Kadang dua.

Kadang rombongan seperti arisan keluarga besar.

 

Di sinilah hati mulai goyah. Bukan karena kita tidak tahu dalilnya. Tapi karena kita manusia. Kita punya rasa lelah. Kita punya batas.

 

Namun pelan-pelan aku belajar satu hal: mungkin yang membuat terasa “sial” itu bukan harinya, tapi cara aku memandang kejadian di hari itu.

 

Kalau kacamata kita retak, dunia terlihat retak.

 

---

 

Tidak Ada Manusia Pembawa Sial

 

Ini penting. Sangat penting.

 

Tidak ada manusia yang dilahirkan membawa kesialan. Anak perempuan bukan pembawa beban. Anak laki-laki bukan jaminan keberuntungan. Janda bukan simbol kegagalan. Single mom bukan magnet masalah.

 

Setiap manusia lahir dalam keadaan suci. Fitrah. Bersih. Putih. Yang menentukan arah hidupnya adalah pilihan, usaha, dan takdir yang berjalan sesuai kehendak Allah.

 

Kalau ada yang berkata, “Sejak dia lahir, hidupku jadi susah,” maka itu bukan akidah. Itu emosi.

 

Dan emosi boleh ada, tapi jangan sampai jadi keyakinan.

 

Aku pernah berada di titik merasa seperti awan mendung berjalan. Ke mana-mana bawa beban. Kalau ada masalah, rasanya refleks berkata, “Ya sudah, memang nasibku begini.”

 

Padahal… siapa yang bilang itu nasib buruk? Bisa jadi itu tangga. Hanya saja bentuknya bukan eskalator, tapi anak tangga manual. Naiknya capek. Tapi sampai atasnya lebih terasa.

 

---

 

Ujian Bertubi-tubi, Tanda Apa?

 

Nah ini yang sering bikin pikiran muter-muter seperti kipas angin tua.

 

Kenapa kalau satu masalah belum selesai, yang lain sudah antre? Kenapa kalau hati belum sembuh, keadaan sudah nambah luka?

 

Jawabannya mungkin tidak romantis, tapi sederhana: karena hidup memang begitu.

 

Allah berfirman bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Ujian itu bukan tanda dibenci. Justru tanda diperhatikan.

 

Bayangkan ini: seorang guru tidak akan memberikan soal sulit kepada murid yang tidak dia anggap mampu. Soal sulit diberikan karena ada potensi. Ada kemampuan yang ingin ditarik keluar.

 

Mungkin kita bukan manusia sial.

Mungkin kita manusia yang dianggap kuat.

 

Masalahnya… seringkali kita sendiri belum percaya kita kuat.

 

---

 

“Kenapa Harus Aku?”

 

Pertanyaan ini manusiawi. Jangan merasa berdosa hanya karena pernah bertanya.

 

Nabi-nabi pun diuji berat. Nabi Ayyub dengan sakit bertahun-tahun. Nabi Yusuf dengan pengkhianatan dan penjara. Nabi Muhammad ﷺ dengan kehilangan orang-orang tercinta.

 

Kalau hidup tanpa ujian adalah tanda kemuliaan, para nabi pasti hidup paling santai.

 

Tapi nyatanya tidak.

 

Jadi ketika kita bertanya, “Kenapa aku?” mungkin jawabannya bukan karena kita sial. Tapi karena kita sedang berada di jalur pembentukan.

 

Besi tidak jadi pedang tanpa ditempa.

Emas tidak jadi perhiasan tanpa dilebur.

Hati tidak jadi kuat tanpa retak dulu.

 

Dan ya, retaknya itu sakit. Jangan pura-pura tidak sakit. Tapi jangan juga menyebutnya sial.

 

---

 

Mengganti Narasi dalam Kepala

 

Aku pernah sadar satu hal memalukan: kadang yang paling kejam kepada diriku adalah aku sendiri.

 

Saat gagal, aku bilang bodoh.

Saat ditinggal, aku bilang tidak pantas.

Saat diuji, aku bilang memang nasib.

 

Padahal lidah kita ini doa. Pikiran kita ini arah. Kalau setiap hari kita mengisi kepala dengan kalimat “aku sial”, jangan heran kalau energi kita ikut merunduk.

 

Lalu aku mencoba mengganti narasi.

 

Bukan dengan pura-pura bahagia. Tapi dengan lebih jujur dan lebih dewasa.

 

Bukan “aku sial”.

Tapi “aku sedang diuji.”

 

Bukan “kenapa aku terus”.

Tapi “apa yang Allah ingin ajarkan lewat ini?”

 

Bukan “hidupku paling berat”.

Tapi “mungkin ini cara Allah mengangkat derajatku.”

 

Kedengarannya klise? Mungkin. Tapi otak kita seperti kebun. Kalau tidak kita tanami pikiran baik, rumput liar akan tumbuh sendiri.

 

---

 

Bahkan Saudara Kandung Pun Ujiannya Berbeda

 

Ini juga hal yang sering bikin hati membanding-bandingkan.

 

“Kok dia hidupnya lancar?”

“Kok dia seolah tenang saja?”

“Padahal kita lahir dari ibu yang sama.”

 

Ya, karena takdir tidak dibagi rata seperti kue ulang tahun.

 

Setiap jiwa punya porsi. Punya garis. Punya jalan masing-masing.

 

Ada yang diuji dengan kekurangan.

Ada yang diuji dengan kelimpahan.

Ada yang diuji dengan kehilangan.

Ada yang diuji dengan kelebihan.

 

Dan seringkali kita hanya melihat permukaan.

 

Kita tidak tahu mungkin orang yang terlihat tenang sedang menangis tiap malam. Kita tidak tahu mungkin orang yang terlihat mapan sedang berjuang melawan kecemasan.

 

Membandingkan ujian itu seperti membandingkan luka. Tidak ada gunanya. Yang terasa tetap sakit di kulit kita sendiri.

 

---

 

Manusia Pilihan? Berani Mengatakan Itu?

 

Awalnya aku ragu berpikir seperti ini. Takut terdengar sombong. Tapi kemudian aku sadar: merasa diri berharga di hadapan Allah itu bukan kesombongan. Itu iman.

 

Kalau Allah memilih kita untuk diuji dengan sesuatu yang tidak semua orang sanggup tanggung, mungkin itu karena Dia tahu kapasitas kita.

 

Bukankah Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya?

 

Artinya apa?

Artinya kita sanggup.

 

Meski hari ini belum terasa.

Meski hari ini masih gemetar.

Meski hari ini masih banyak bertanya.

 

Mungkin kita bukan manusia sial.

Mungkin kita manusia pilihan yang sedang ditempa.

 

Dan ditempa itu panas. Jangan heran kalau terasa terbakar.

 

---

 

Saat Down, Apa yang Harus Dilakukan?

 

Pertama, izinkan diri merasa. Jangan jadi robot. Nangis kalau perlu. Curhat sama Allah panjang lebar. Dia tidak lelah mendengar.

 

Kedua, jaga lisan. Jangan terlalu mudah menyebut diri sial. Jangan terlalu gampang menuduh takdir kejam.

 

Ketiga, isi kepala dengan pikiran yang menguatkan. Bukan motivasi murahan, tapi keyakinan yang berpijak pada iman.

 

Keempat, tetap bergerak. Sekecil apa pun. Masak. Menulis. Membersihkan rumah. Mengurus anak. Gerakan kecil menjaga jiwa tetap hidup.

 

Kadang yang kita butuhkan bukan solusi besar. Tapi konsistensi kecil.

 

---

 

Hidup Bukan Tentang Mulus, Tapi Tentang Tumbuh

 

Kalau hidup selalu mulus, mungkin kita akan sombong. Kalau semua keinginan langsung terpenuhi, mungkin kita lupa bersujud.

 

Ujian itu seperti rem. Mengingatkan kita bahwa kita bukan pengendali penuh.

 

Dan anehnya, justru dari titik paling lemah, kita sering menemukan versi diri yang lebih matang.

 

Aku belajar sabar bukan karena hidup mudah.

Aku belajar ikhlas bukan karena semua berjalan sesuai rencana.

Aku belajar kuat justru karena pernah merasa rapuh.

 

Jadi kalau hari ini terasa berat, mungkin itu bukan kesialan. Itu latihan.

 

Dan latihan memang melelahkan. Tapi hasilnya tidak sia-sia.

 

---

 

Penutup dari Hati yang Sedang Belajar

 

Tulisan ini bukan tulisan orang yang sudah selesai dengan ujiannya. Ini tulisan orang yang masih belajar berdamai dengan takdir.

 

Masih kadang bertanya.

Masih kadang mengeluh dalam hati.

Masih kadang merasa capek.

 

Tapi satu hal yang sedang aku pegang erat: aku bukan manusia sial.

 

Dan kamu juga bukan.

 

Tidak ada hari sial dalam Islam. Tidak ada tanggal yang membawa petaka. Tidak ada manusia yang lahir dengan label pembawa malang.

 

Yang ada hanyalah jiwa-jiwa yang sedang Allah bentuk.

 

Kalau hari ini kamu bertanya, “Kenapa aku?”

Coba pelan-pelan ganti dengan, “Untuk apa Allah memilih aku melewati ini?”

 

Siapa tahu jawabannya bukan tentang kesialan.

Tapi tentang kemuliaan yang sedang disiapkan.

 

Dan kalau nanti suatu hari kamu berdiri lebih kuat, lebih matang, lebih bijak—kamu akan menoleh ke belakang dan berkata:

 

“Oh… jadi ini alasannya.”

 

Sampai hari itu tiba, kita jalan pelan-pelan saja.

Sambil percaya.

Sambil memperbaiki pikiran.

Sambil terus berusaha.

 

Karena hidup bukan tentang bebas ujian.

Tapi tentang tetap beriman saat ujian datang bertamu tanpa undangan.

 

Dan percaya deh… kita tidak sedang sial.

Kita hanya sedang naik kelas.

 

---

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca. 

 

---

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar