![]() |
Seorang anak, salju yang turun pelan, dan hati yang belajar kuat sejak dini - Blog Cerita Kemuning |
Tumisan, Kompor Minyak Tanah, dan Ingatan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Aku bukan tipe perempuan yang jago masak. Jangan bayangkan aku lihai meracik opor, rendang, atau kue-kue cantik berlapis krim. Keahlianku sederhana dan jujur saja: tumisan. Itu pun tumisan ala rumah, bukan ala restoran. Tapi kalau dipikir-pikir, masuk akal. Karena itulah yang paling sering kulihat di dapur nenekku sejak kecil. Dapur yang tidak banyak drama, tapi selalu hangat oleh wajan dan cerita.
Nenekku bukan tipe yang suka bereksperimen. Masak ya masak. Tumis bawang, masukkan sayur, beri garam, selesai. Hidup pun begitu menurut beliau: jangan ribet kalau bisa sederhana. Dan rupanya filosofi itu menempel lama di kepalaku, bahkan sampai urusan memasak.
---
Ketika Kompor Belum Berbunyi “Klik”
Mama sering bilang, aku sudah bisa bikin nasi goreng sejak kelas 4 SD. Waktu itu aku masih sekitar sembilan tahun. Usia yang sekarang mungkin sudah sibuk dengan gawai, tapi dulu sibuk dengan minyak tanah.
Ya, ini cerita dari masa ketika tabung gas belum merajalela di dapur ibu-ibu. Kompor minyak tanah masih jadi raja. Dan aku, anak kecil dengan tubuh mungil, sudah paham cara mengisi ulang minyak tanah, cara memantik api, dan—ini penting—cara menunggu api itu meninggi pelan-pelan sampai cukup panas untuk menyentuh pantat ketel.
Ada seni dalam menyalakan kompor minyak tanah. Tidak bisa tergesa. Kalau terlalu cepat, api ngambek. Kalau terlalu pelan, kita yang keburu lapar. Dan entah kenapa, aku paham proses itu tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Seperti naluri. Seperti sesuatu yang Tuhan titipkan diam-diam.
---
Dua Guru, Dua Gaya, Satu Wajan
Yang mengajariku memasak nasi goreng adalah Appa dan Mama. Tidak barengan. Tidak pernah satu suara. Dan tentu saja, bumbunya berbeda.
Appa itu tipe praktis. Baginya, nasi goreng cukup bawang merah, bawang putih, telur, lalu kecap manis atau kecap asin. Yang penting jadi. Yang penting kenyang. Tidak perlu drama rasa.
Mama beda cerita. Walaupun cuma nasi goreng, bumbunya harus medok. Harus “berasa”. Harus seperti nasi goreng abang-abang yang aromanya bisa bikin orang satu gang menoleh. Ada ulekan, ada cabai, ada kesabaran. Menurut Mama, rasa itu bentuk perhatian.
Sementara kakekku—almarhum—punya versi sendiri. Hampir mirip Mama, tapi dengan jalan memutar. Beliau bikin sambal terasi dulu, digoreng, baru nasi dimasukkan, lalu penyedap. Jadi nasi goreng yang lahir dari sambal. Untuk anak sembilan tahun sepertiku, itu terasa agak ribet. Walau kalau dipikir sekarang, sebenarnya tidak juga.
---
Anak Baik di Dunia yang Mulai Sepi
Di usia itu, dunia batinku sudah terasa sunyi. Banyak yang absen, meski aku belum sepenuhnya paham apa artinya kehilangan. Yang jelas, ada ruang kosong yang dingin. Seperti salju turun diam-diam di hati anak kecil.
Tapi aku tetap sekolah. Tetap mengerjakan PR. Tetap jadi anak baik. Karena begitulah caraku bertahan. Diam, rapi, dan tidak merepotkan siapa pun.
Aku tidak menceritakan kesepian itu pada siapa pun. Anak kecil jarang punya kosa kata untuk menjelaskan perasaan yang terlalu besar. Jadi aku simpan. Aku lipat rapi. Aku taruh di sudut terdalam.
---
Nasi Goreng Pagi Hari
Suatu pagi, Appa dan Mama pulang dini hari. Pekerjaan sedang banyak. Mama ikut membantu Appa di kantor. Mereka lelah.
Aku bangun dengan satu ide sederhana: bikin nasi goreng.
Bumbu seadanya. Cara sederhana ala Appa. Tidak medok, tidak ribet. Yang penting hangat dan bisa dimakan.
Setelah selesai memasak, aku mandi, memakai seragam sekolah, lalu membangunkan Mama. Kucium keningnya.
“Ma, nasi goreng di lemari tempat menyimpan makanan. Ning mau berangkat sekolah.”
Mama membuka mata. Lalu tersenyum. Memujiku. Memberiku uang ongkos, uang jajan, dan sedikit untuk ditabung. Jarak sekolahku di Bandung lumayan jauh, naik angkot.
“Makasih banyak. Ini ongkos, jajan, sama nabung ya. Hati-hati di jalan.”
Aku salim. Berangkat. Menunggu angkot. Sekolah. Belajar. Bermain saat istirahat. Pulang.
Hari itu berlalu seperti hari-hari biasa.
---
Kenangan yang Tinggal di Kepala Orang Tua
Yang tidak biasa adalah: cerita itu tinggal.
Sampai sekarang, Mama kadang masih mengulangnya. “Ning itu sudah pandai masak nasi goreng sejak kelas 4 SD. Dan enak loh.”
Aku hanya tersenyum.
Sejujurnya, aku hampir lupa. Bukan karena tidak penting, tapi karena hidup memberiku begitu banyak ujian sampai aku harus memilih: mengingat yang indah saja, atau tenggelam.
Mama tidak pernah tahu, di balik nasi goreng itu, hatiku sudah mulai turun salju. Aku sudah bersiap menghadapi perubahan suhu hidup, bahkan sebelum paham apa yang sebenarnya terjadi.
---
Naluri yang Ditempa Sejak Dini
Sekarang aku berpikir, mungkin sejak kecil firasatku memang diasah. Bukan untuk menjadi hebat, tapi untuk bertahan. Untuk melindungi diri dari takdir yang tidak bisa kuhindari.
Memasak, bagiku, bukan sekadar urusan dapur. Ia adalah bahasa sunyi. Cara kecil untuk berkata, “Aku ada. Aku peduli.”
Dan mungkin itulah sebabnya aku hanya mahir di tumisan. Karena hidupku pun sering ditumis: panas sebentar, diaduk cepat, lalu harus siap disajikan.
---
Tidak Jago Masak, Tapi Tahu Rasa
Sampai hari ini, aku tidak mengklaim diri sebagai perempuan yang pandai memasak. Tapi aku tahu rasa. Aku tahu kapan sesuatu kurang garam, kapan terlalu asin, kapan cukup.
Seperti hidup.
Kita tidak harus ahli untuk mengerti. Tidak harus sempurna untuk bermakna.
Aku jalani saja. Kembali hidup. Mensyukuri. Membuang rasa sakitnya, mengambil hikmahnya.
Tidak mudah. Tapi aku baik-baik saja.
Dan mungkin, di suatu dapur sederhana, dengan wajan biasa, dan api yang tidak terlalu besar, aku akan selalu menemukan caraku pulang.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar