![]() |
| Pelukan paling hangat adalah tempat pulang pertama bagi seorang anak. ❤️🌺 - Blog Cerita Kemuning |
Kadang, Cinta Itu Berwujud Datang ke Tempat yang Tidak Kita Sukai
Kalau boleh jujur, aku bukan tipe orang yang senang berada di tengah keramaian.
Aku lebih suka rumah yang tenang, secangkir minuman hangat, dan suara anakku yang bermain di dekatku. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Keramaian sering membuat energiku terkuras lebih cepat daripada baterai ponsel yang dipakai seharian.
Tapi menjadi orang tua memang sering mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang kita lakukan harus kita sukai terlebih dahulu.
Kadang kita melakukannya karena seseorang yang kita cintai begitu bahagia karenanya.
Seperti hari ini.
Tempat mengaji anakku mengadakan acara dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Acara dilaksanakan di pendopo kecamatan dan melibatkan banyak peserta. Sejak awal aku sudah membayangkan suasananya pasti ramai.
Dan benar saja.
Begitu sampai di lokasi, aku langsung dibuat sedikit terkejut melihat lautan manusia. Banyak ibu-ibu mengenakan pakaian putih dengan kerudung cokelat. Sebagian lagi memakai pakaian serba hitam. Para staf pengajar tempat mengaji anakku juga tampil kompak dengan seragam mereka.
Aku yang memang tidak terlalu nyaman berada di kerumunan langsung sadar diri.
Daripada memaksakan diri berdesakan di tengah orang banyak, aku memilih menepi.
Sedikit.
Jauh lebih nyaman begitu.
---
Berdiri di Parkiran dan Menjadi Penonton dari Jauh
Sementara peserta mulai berkumpul, aku berdiri cukup lama di area parkiran.
Dari sana aku masih bisa melihat anakku.
Meski dari kejauhan.
Sesekali aku memperhatikan barisan anak-anak yang mulai terbentuk. Mereka tampak bersemangat, mengobrol dengan teman-temannya, dan sesekali berlarian kecil sebelum kembali ke posisi masing-masing.
Aku juga sempat menitipkan sejumlah uang kepada salah satu seniornya.
Bukan apa-apa.
Aku hanya berpikir, kalau nanti dia ingin membeli jajanan di dalam area pendopo yang penuh ibu-ibu dan anak-anak itu, setidaknya dia tidak perlu repot mencariku di tengah keramaian.
Acara puncaknya sendiri ternyata masih menunggu rombongan terakhir tiba.
Jadi kami semua menunggu.
Lumayan lama.
Dan cuaca siang itu benar-benar terasa panas.
Panas yang membuat jilbab terasa semakin tebal dan langkah kaki terasa sedikit lebih berat.
Tapi anehnya, suasana hatiku justru ringan.
Mungkin karena aku terus melihat wajah anakku yang terlihat sangat bahagia.
---
Senyum Kecil yang Membuat Semua Rasa Gerah Terbayar
Ada satu hal yang paling kuingat hari ini.
Senyum anakku.
Bukan senyum biasa.
Tapi senyum yang muncul berulang kali setiap kali dia menoleh ke arahku.
Setiap kali pandangan kami bertemu, wajahnya langsung sumringah.
Nyengir lebar.
Seolah ingin memastikan bahwa aku masih ada di sana.
Masih melihatnya.
Masih mendukungnya.
Dan setiap kali itu terjadi, aku otomatis ikut tersenyum.
Rasanya lucu.
Aku berdiri di bawah cuaca yang panas, dikelilingi banyak orang yang sebenarnya membuatku tidak nyaman, tapi tetap merasa bahagia.
Karena ternyata kebahagiaan anak memang bisa menular.
Tanpa izin.
Tanpa aba-aba.
Langsung sampai ke hati.
Saat itulah aku sadar bahwa kehadiranku mungkin tidak perlu sempurna.
Aku tidak harus menjadi ibu yang paling aktif.
Tidak harus berdiri di barisan depan.
Tidak harus berbaur dengan semua orang.
Kadang cukup hadir.
Cukup datang.
Cukup membuat anak tahu bahwa ada seseorang yang menyaksikan langkah kecilnya hari ini.
Dan ternyata itu sudah sangat berarti.
---
Mengikuti dari Belakang
Ketika pawai akhirnya dimulai, aku memilih berjalan dari belakang.
Karena memang aku hanya orang tua murid.
Biarlah anak-anak menjadi bintang utamanya.
Aku memperhatikan para staf pengajar yang berjalan di sisi kanan dan kiri barisan. Mereka menjaga agar anak-anak tetap rapi dan tidak keluar jalur.
Pekerjaan yang tidak mudah, tentu saja.
Apalagi jika berhadapan dengan anak-anak yang sedang bersemangat.
Aku melihat anakku sesekali menoleh.
Sesekali melambaikan tangan.
Sesekali tersenyum lagi.
Dan aku membalasnya dengan senyum yang mungkin tidak terlalu lebar, tapi tulus.
Kadang kebahagiaan memang sesederhana itu.
Bukan tentang acara yang megah.
Bukan tentang dokumentasi yang sempurna.
Bukan juga tentang berada di posisi paling depan.
Melainkan tentang menyaksikan seseorang yang kita cintai menikmati harinya.
---
Pulang, Membersihkan Diri, lalu Istirahat
Sesampainya di rumah, hal pertama yang ingin kulakukan hanyalah membersihkan diri.
Aku langsung mengganti pakaian.
Mencuci tangan.
Mencuci kaki.
Mencuci muka.
Lalu melakukan hal yang sama pada anakku.
Rasanya seperti ritual wajib setelah keluar rumah dalam waktu lama.
Apalagi setelah bergelut dengan cuaca panas dan keramaian.
Setelah semuanya beres, kami rebahan.
Main ponsel sebentar.
Tidak lama.
Karena rasa lelah akhirnya menang.
Kami tertidur.
Dan sejujurnya, itu tidur yang sangat nikmat.
Mungkin karena tubuh lelah.
Mungkin juga karena hati sedang tenang.
---
Hari yang Sederhana, Tapi Penuh Syukur
Kalau dipikir-pikir, hari ini tidak ada kejadian luar biasa.
Tidak ada pencapaian besar.
Tidak ada hal spektakuler yang akan masuk berita.
Hanya seorang ibu yang datang ke acara anaknya.
Hanya seorang anak yang mengikuti kegiatan dengan riang.
Sesederhana itu.
Namun justru dari hari-hari seperti inilah rasa syukur sering muncul.
Aku bersyukur karena anakku sehat.
Aku bersyukur karena dia bisa tersenyum lepas.
Aku bersyukur karena hari ini aku mampu mengalahkan rasa malas dan ketidaknyamananku terhadap keramaian.
Dan yang paling penting, aku bersyukur karena bisa menyaksikan kebahagiaannya secara langsung.
Karena suatu hari nanti, mungkin aku akan merindukan masa-masa ketika dia masih sering menoleh untuk memastikan ibunya ada di dekatnya.
Untuk hari ini, cukup itu saja.
Panasnya terbayar.
Gerahnya terlupakan.
Dan hati ini pulang dengan rasa yang hangat.
Alhamdulillahi 'ala kulli hal.
Anakku sehat.
Anakku bahagia.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
---
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah
Bagi teman-teman yang merayakan, selamat menyambut Tahun Baru Islam.
Semoga langkah kita di tahun yang baru ini dipenuhi kesehatan, keberkahan, dan hati yang selalu menemukan alasan untuk bersyukur, bahkan dari hari-hari yang terlihat biasa saja.
Karena sering kali, kebahagiaan terbesar justru bersembunyi di balik senyum kecil anak-anak kita. 🌿✨
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar