![]() |
| Sebagian kampung hilang ditelan waktu, sebagian lagi hidup dalam cerita. Dan ada cerita yang tetap bertahan meski orang-orang yang mengisahkannya telah lama tak berjumpa. 🌾✨ - Blog Cerita Kemuning |
Sebuah cerita yang kudengar saat remaja dari dua saudari di ujung wetan kabupaten, tentang rombongan gaib yang konon terlambat membawa jasad seorang pembuat perjanjian
---
Cerita ini datang dari ujung wetan kabupatenku, sebuah daerah yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggalku. Meski begitu, kisahnya sampai juga ke telingaku melalui pertemuan yang tak pernah kusangka sebelumnya.
Waktu itu aku masih remaja. Aku dan mama pergi berziarah ke salah satu makam tua yang berada tidak jauh dari kampung kami. Tujuan kami sederhana, mendoakan para leluhur yang telah mendahului. Bagiku, berziarah bukan hanya soal doa. Dari perjalanan seperti itulah aku sering mendengar cerita-cerita lama yang perlahan membuatku mengerti bahwa setiap kampung, setiap desa, bahkan setiap sudut tempat tinggal manusia pasti memiliki sejarah yang jauh lebih tua daripada yang kita bayangkan.
Mama sering berkata bahwa sebuah perkampungan tidak mungkin ada begitu saja. Selalu ada orang-orang terdahulu yang membuka hutan, membersihkan semak belukar, lalu menjadikannya tempat tinggal. Dan orang-orang yang mampu berjalan jauh menembus belantara pada zaman dahulu biasanya bukan orang sembarangan. Mereka memiliki keberanian, pengetahuan yang luas, serta pemahaman tentang ilmu kebatinan yang digunakan untuk menjaga diri dan menjaga hubungan dengan makhluk lain yang tidak kasat mata.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sepulang dari makam, kami berjalan bersama rombongan peziarah lainnya. Di tengah perjalanan, kami bertemu dua orang ibu yang ternyata kakak beradik. Mereka berasal dari daerah yang sangat jauh di ujung wetan kabupatenku. Karena perjalanan masih panjang dan matahari terasa cukup terik, kami akhirnya beristirahat di sebuah saung kecil di pinggir sawah.
Saat itu sawah sedang tidak ditanami. Musim panen baru saja lewat dan para petani tengah sibuk menjemur padi hasil panennya. Angin berembus pelan melewati hamparan tanah yang menguning. Kami membuka bekal masing-masing, saling menawarkan makanan, lalu menikmati kopi panas dari termos yang kami bawa dari rumah.
Mama dan kedua ibu itu mulai saling memperkenalkan diri. Aku pun ikut diperkenalkan meski hanya membalas dengan senyum malu-malu. Setelah makan, aku memilih berbaring santai di lantai bambu saung sambil menikmati angin yang memainkan rambutku. Mama menyalakan rokoknya, lalu obrolan mengalir ke mana-mana.
Awalnya mereka membicarakan mimpi, firasat, dan berbagai pertanda yang kadang dialami manusia. Namun ada satu cerita yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas.
Cerita itu tentang seekor harimau yang kesiangan membawa salah satu budak janji dari kerajaannya.
Menurut kedua ibu tersebut, ada manusia yang memilih jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Mereka merasa lelah hidup dalam kesederhanaan, sakit hati karena sering diremehkan, atau tidak tahan menjadi bahan perbandingan oleh orang lain. Dalam keadaan seperti itu, sebagian orang konon tergoda untuk mencari kekayaan secara instan melalui perjanjian dengan makhluk-makhluk gaib.
Mereka percaya bahwa makhluk tersebut dapat memberikan uang, emas, kekuasaan, bahkan kemakmuran yang bertahan hingga beberapa keturunan. Namun semua itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Selalu ada syarat yang harus dibayar.
Konon, syarat yang paling sering diminta adalah nyawa.
Cerita itu menyebutkan bahwa keturunan yang ingin terus menikmati kekayaan warisan tersebut biasanya harus menjaga hubungan yang sama dengan pihak yang dahulu membuat perjanjian. Alasannya sederhana, agar kekayaan itu tidak berhenti mengalir dan agar mereka tidak kembali hidup sederhana seperti kebanyakan orang.
Lalu bagaimana nasib orang yang pertama kali membuat perjanjian itu?
Menurut kisah yang diceritakan kedua ibu tersebut, ketika usia orang itu habis di dunia, jasadnya tidak benar-benar beristirahat sebagaimana manusia pada umumnya. Mereka percaya bahwa bala tentara dari kerajaan gaib yang pernah memberinya kekayaan akan datang menjemput. Di dalam kubur, jasadnya konon ditukar dengan batang pohon pisang sehingga keluarga yang datang berziarah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu, ruh atau jasad gaibnya dibawa ke kerajaan tempat perjanjian dibuat. Di sana ia dipercaya akan bekerja sebagai budak hingga hari kiamat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas seluruh kekayaan yang pernah diterimanya.
Bahkan jika selama hidupnya ia telah memberikan berbagai tumbal sebagai bukti kesetiaan, menurut cerita itu, semua pengorbanan tersebut hanyalah tanda kepatuhan. Pada akhirnya, tetap akan ada perhitungan yang harus dibayar atas setiap kekayaan instan yang pernah diterima.
Aku yang saat itu masih remaja hanya diam mendengarkan. Entah percaya atau tidak, kisah itu membuat suasana siang di saung sederhana tersebut terasa berbeda. Angin masih berembus pelan, sawah tetap terbentang luas, tetapi cerita yang keluar dari mulut kedua saudari itu seolah membawa kami memasuki dunia lain yang penuh rahasia dan tanda tanya.
---
Ada satu bagian dari cerita yang disampaikan dua saudari itu yang hingga hari ini masih kuingat dengan cukup jelas. Entah karena cara mereka menceritakannya, atau karena suasana siang itu yang begitu tenang di saung pinggir sawah, sehingga setiap kata yang keluar terasa menempel di ingatan.
Konon, adik dari salah satu ibu yang sedang berbincang dengan kami pernah mengalami sakit meriang dan pusing selama dua hari akibat syok setelah melihat sesuatu yang menurutnya tidak mungkin dilihat manusia biasa.
Peristiwa itu terjadi menjelang subuh, sekitar pukul setengah empat pagi.
Saat itu musim panen baru saja selesai. Seperti kebanyakan petani lainnya, keluarga mereka juga berencana menjemur padi pagi itu. Sang adik memiliki ide untuk menyiapkan segala sesuatunya lebih awal agar setelah mandi dan salat Subuh nanti pekerjaan menjadi lebih ringan.
Ketika seluruh rumah masih terlelap, ia bangun terlebih dahulu. Ia mengambil air wudu, melaksanakan salat tahajud, lalu keluar rumah untuk mempersiapkan terpal dan perlengkapan menjemur padi.
Rumah mereka menghadap ke halaman yang cukup luas. Di bagian belakang rumah terbentang sawah yang seolah tak berujung. Jauh di kejauhan berdiri perbukitan yang masih hijau dan lebat oleh pepohonan tinggi. Udara pagi selalu terasa sejuk di sana, terlebih sebelum matahari terbit.
Semula tidak ada hal aneh apa pun.
Ia mengangkat perlengkapan satu per satu, lalu mulai membentangkan terpal besar di halaman belakang. Karena ukuran terpal cukup lebar, ia harus berjalan mundur perlahan sambil menarik ujungnya.
Mundur.
Mundur.
Mundur.
Sampai akhirnya terpal hampir terbentang sempurna.
Saat itulah pandangannya tanpa sengaja tertuju ke salah satu bagian bukit.
Awalnya ia mengira hanya bayangan pepohonan yang bergerak diterpa angin. Namun semakin lama matanya memperhatikan, semakin jelas sesuatu yang sedang bergerak di antara batang-batang pohon.
Ia melihat sebuah pocong.
Tubuh yang masih terbungkus kain kafan itu tampak naik turun seperti sedang dipantulkan. Ujung kepala dan ujung kakinya bergerak ke atas dan ke bawah, seakan ada yang membawanya melintasi lereng bukit.
Seketika tubuhnya membeku.
Kakinya terasa kaku.
Dadanya berdebar sangat keras.
Ia ingin berteriak memanggil kakaknya yang masih tertidur di dalam rumah, tetapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Bibirnya bergerak, namun yang keluar hanya bunyi-bunyi yang tidak jelas.
Semakin lama, penglihatannya justru semakin terang.
Barulah ia menyadari bahwa yang membawa jasad itu bukan manusia.
Seekor harimau.
Namun bukan harimau biasa.
Harimau itu berjalan hanya dengan tiga kaki.
Satu kaki depannya digunakan untuk memegangi tubuh yang masih terbungkus kain kafan tersebut. Meski membawa beban, langkahnya tetap mantap, walaupun terlihat sedikit tertatih.
Pandangan harimau itu lurus ke depan.
Tidak menoleh.
Tidak berhenti.
Seolah sedang menjalankan tugas yang harus segera diselesaikan.
Di sekelilingnya, pada pepohonan yang memenuhi lereng bukit, tampak bayangan-bayangan menyerupai ratusan monyet bergelantungan. Mereka bergerak mengikuti arah perjalanan harimau tersebut.
Semakin lama rombongan itu semakin jelas terlihat.
Dan justru itulah yang membuat rasa takut sang adik semakin menjadi-jadi.
Tubuhnya tidak mampu bergerak sedikit pun.
Tangannya masih memegang ujung terpal.
Matanya tak mampu berpaling.
Lalu terdengar ayam jantan mulai berkokok menyambut datangnya fajar.
Anehnya, setelah suara ayam itu terdengar, rombongan tersebut malah tampak semakin jelas di pandangannya.
Dari dalam rumah, kakaknya yang baru terbangun mendengar suara aneh.
"Aa... eueuh... oooh... aduh... aa... eueuh..."
Bukan teriakan.
Bukan pula tangisan.
Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha berbicara namun tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Merasa curiga, kakaknya segera memeriksa kamar.
Namun adiknya tidak ada di sana.
Ia lalu keluar menuju halaman belakang dan mendapati pemandangan yang membuatnya terkejut.
Adiknya berdiri mematung.
Air mata mengalir deras di wajahnya.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak mengeluarkan suara yang jelas.
Tangannya masih menggenggam ujung terpal yang tadi sedang dibentangkan.
Sang kakak sempat mengira adiknya terkena stroke.
Dengan panik ia memapah adiknya masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian keluarga, para orang tua, bahkan Pak RT dan Pak RW berdatangan untuk membantu.
Ia diberi minum.
Ditenangkan.
Dan ketika seseorang mulai menyarankan agar segera dibawa ke dokter, sang adik akhirnya berhasil berbicara meski dengan suara pelan.
"Saya tidak perlu dibawa ke dokter. Saya tidak stroke. Saya hanya butuh istirahat."
Mendengar itu, sebagian warga akhirnya kembali ke rumah masing-masing.
Tinggallah keluarga inti yang menemani.
Setelah suasana lebih tenang, barulah ia menceritakan apa yang dilihatnya menjelang subuh tadi.
Salah seorang tetua yang hadir kemudian mengambil segelas air. Ia membacakan doa-doa, lalu meminta sang adik meminumnya.
Setelah itu beliau berkata dengan tenang,
"Yang kamu lihat tadi adalah bala tentara yang kesiangan membawa manusia yang pernah membuat perjanjian dengan mereka."
Beliau melanjutkan,
"Tidak akan ada akibat apa pun pada dirimu. Mereka yang salah perhitungan hingga terlambat. Banyak-banyaklah berdoa. Jangan dipikirkan lagi. Lupakan. Sekarang istirahatlah."
Anehnya, setelah mendengar nasihat itu, sang adik benar-benar terlihat lebih tenang. Ia akhirnya bisa tidur dan beristirahat.
Sebelum pulang, tetua tersebut berpesan kepada kakaknya.
"Tak usah diceritakan lagi kepada banyak orang. Kasihan adikmu, bisa menjadi trauma. Dan lain kali, keluarlah dari rumah setelah azan Subuh."
"Baik, Kek," jawab sang kakak.
Begitulah cerita yang kudengar saat remaja.
Bertahun-tahun kemudian aku pernah menanyakan kisah itu kepada mama.
"Lah, kok bisa kesiangan? Bukannya mereka punya jalan sendiri yang tidak mungkin terlihat manusia?" tanyaku.
Jawaban mama sederhana sekali.
"Mungkin ada doa yang terus mengalir atau amal saleh dari salah satu keturunannya yang diridhai Allah SWT. Siapa tahu itulah yang menjadi sebab proses pengangkutan itu terhambat hingga akhirnya kesiangan."
Aku hanya menjawab singkat.
"Oh..."
Kini ketika mengingatnya kembali, aku justru lebih banyak merenungkan hikmah di balik cerita tersebut daripada bagian menyeramkannya.
Benar atau tidaknya kisah itu, Wallahu a'lam.
Namun satu hal yang selalu kuingat, bahwa rezeki yang baik tidak pernah datang dari jalan yang melanggar perintah Allah SWT. Kekayaan, jabatan, dan kenikmatan dunia hanyalah titipan yang umurnya sangat singkat. Sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan setelah dunia ini berakhir.
Na'udzubillahi min dzalik.
Ya Allah, lindungilah kami, keluarga kami, dan seluruh keturunan kami dari rezeki yang tidak halal. Jangan biarkan hati kami bergantung kepada selain-Mu. Cukupkanlah kami dengan karunia-Mu yang baik dan berkah.
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
Nah, kalau di tempat kalian, adakah cerita serupa yang pernah kalian dengar? Atau mungkin ada kisah yang lebih misterius dan lebih menyeramkan daripada cerita yang pernah kudengar di masa remaja ini?
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar