![]() |
Mengejar matahari dari teras samping—di antara jemuran basah, hujan, dan tawa kecil yang tetap hangat - Blog Cerita Kemuning |
Catatan Pagi dari Teras Samping Rumah
Pagi di musim hujan selalu datang dengan suara yang sama: rintik air di atap, tanah yang basah, dan udara yang dingin menyelinap ke sela-sela rumah. Di iklim tropis seperti Indonesia—terutama di Pulau Jawa—musim hujan sejatinya adalah musim berkah. Musim berkumpul. Musim ketika rumah menjadi pusat dunia, dan keluarga kembali menjadi porosnya.
Setiap tetes hujan, jika kita mau berhenti sejenak, adalah nikmat yang tak terhitung dengan logika. Ada rezeki di dalamnya, ada kehidupan yang disuburkan, ada doa-doa yang seolah ikut turun bersama air dari langit. Air hujan bukan sekadar cuaca; ia adalah karunia.
Namun beberapa tahun belakangan, hujan juga datang membawa cerita lain. Cerita tentang banjir, longsor, hingga lubang menganga di tanah—sinkhole—yang fotonya berseliweran di media sosial. Jujur saja, melihatnya bikin merinding. Hujan yang dulu kita tunggu-tunggu, kini kadang datang bersama kecemasan.
---
Ketika Berkah dan Ujian Turun Bersamaan
Populasi bertambah. Rumah tumbuh. Sawah dan ladang menyempit. Hutan yang dulu menjadi penyangga air hujan semakin berkurang. Tanah kehilangan kemampuannya menyerap air, dan hujan—yang mestinya mengalir tenang—mencari jalan sendiri. Kadang dengan cara yang menyakitkan.
Di titik ini, rasanya tak banyak yang bisa dilakukan oleh orang-orang seperti saya. Selain tetap waspada, menjaga diri dan keluarga, dan memperbanyak doa. Doa yang terbaik. Doa untuk kesehatan dan keselamatan teman-teman yang tinggal di daerah rawan bencana. Doa agar hujan tetap menjadi rahmat, bukan musibah.
Bersamaan dengan datangnya keberkahan dari air hujan, datang pula ujian dari Allah SWT. Dan di antara keduanya, kita diajak untuk tetap husnudzon—berprasangka baik. Bukan menutup mata dari masalah, tapi memilih untuk tidak kehilangan iman dan harapan.
---
Teras Samping yang Berubah Jadi Toko Baju
Di tengah semua renungan besar itu, ada cerita kecil dari rumah kami. Cerita yang sederhana, tapi nyata. Saya seorang mama toddler yang belum punya mesin cuci. Di samping kamar, ada teras samping rumah. Di situlah jemuran kami tinggal.
Beberapa hari terakhir, hujan turun dari subuh sampai subuh lagi. Siang hari pun matahari hanya muncul malu-malu, redup di balik awan. Hasilnya? Jemuran berjejer rapi—atau mungkin lebih tepatnya berjejer penuh—seperti toko baju. Alhamdulillah, baju Runi banyak.
Sebenarnya, meski banyak yang dicuci dan belum kering, itu bukan masalah besar. Tidak sampai bikin stres. Hanya… kesal kecil yang manusiawi. Setiap hari kerjaannya geser-geser jemuran basah di teras samping rumah. Geser ke kiri, geser ke kanan. Masuk, keluar. Begitu saja. Hehehe.
---
Mengejar Matahari yang Datang Sebentar
Lucunya, di sela hujan yang bandel, kadang matahari muncul sebentar. Secercah cahaya menembus awan. Saat itu juga, refleks kami sekeluarga aktif. Saya dan mama bergantian berjemur—bukan kami yang dijemur, tentu saja—tapi baju-baju itu.
Satu jam. Dua jam paling lama. Lalu mendung datang lagi. Cepat-cepat baju dimasukkan, dirapikan, disusun ulang. Hari-hari kami seperti itu. Tidak bisa menumpuk cucian di kamar mandi, jadi pilihannya jelas: lebih baik jemuran basah berjejer rapi daripada pakaian kotor menumpuk diam-diam.
Ada kepuasan kecil di situ. Bukan karena baju kering, tapi karena semuanya tetap bergerak. Tidak ada yang dibiarkan menumpuk terlalu lama.
---
“Oh, Mama di Sini”
Hari-hari Runi berjalan seperti biasa. Habis makan, main sebentar di depan rumah, lalu kadang mencari saya. Ia melihat sekeliling, lalu berkata polos, “Oh, mama di sini.”
Iya. Di sini. Di teras samping rumah. Di antara jemuran basah yang sudah mirip etalase.
Saya tidak ingin mengajarkan Runi mengutuk keadaan. Tidak ingin ia tumbuh dengan kebiasaan mengeluh pada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan. Jadi jawaban saya selalu sederhana.
“Iya nih, mama bantu nenek beresin baju basah dulu ya. Biar kalau ada panas, gampang ngeluarinnya. Sebentar ya.”
Runi hanya melihat. Melihat tangan mamanya sibuk menata baju basah. Mungkin kelak, tanpa disadari, ia akan ingat bahwa ibunya pernah berdiri lama di teras, sabar, sambil tetap tersenyum.
---
Pelajaran Musim Kemarau
Musim kemarau juga punya ceritanya sendiri. Kadang panasnya kelewat batas. Terik menyengat, bikin kepala pening. Pada hari-hari seperti itu, yang saya ajarkan sederhana.
“Di rumah saja kalau di luar panas banget.”
“Minum air dingin. Mau pakai es atau tidak, yang penting dingin.”
“Kalau panas terik, jangan main di luar dulu. Bisa bikin pusing.”
Biasanya, solusi pamungkas kami adalah tidur. Hehehe.
Setiap musim membawa pelajarannya. Kemarau mengajarkan tentang batas. Hujan mengajarkan tentang kesabaran.
---
Tidur Siang dan Hujan Deras
Musim hujan punya satu kenikmatan yang tak tergantikan: tidur siang. Ketika di luar hujan turun deras, dunia seperti mengecil. Suara hujan menjadi pengantar tidur yang paling jujur.
Tak ada tuntutan untuk keluar. Tak ada rasa bersalah karena menunda aktivitas luar. Semua seolah memberi izin untuk beristirahat.
Dan di situ, saya kembali merasa: hujan memang musim berkah. Jika kita mau diam sebentar dan mendengarkannya.
---
Nikmatnya Jemuran di Musim Kemarau
Tentu saja, saya tidak munafik. Musim kemarau punya nikmat yang sulit ditandingi: jemuran cepat kering. Bahkan sekarang ini, di musim panas, baju dijemur pagi hari, sebelum ashar tiba sudah rapi lagi di lemari. Mau disetrika dulu atau tidak, itu urusan nanti.
Kemarau itu praktis. Efisien. Tidak ribet. Walaupun ngipas terus.
Tapi justru karena itulah, hujan terasa istimewa. Ia datang dengan kerepotan kecil yang kelak akan dirindukan.
---
Menyimpan Rindu untuk Nanti
Saya memilih menikmati dan mensyukuri musim hujan ini. Sejuknya. Ademnya. Ribet-ribet kecilnya. Karena saya tahu, semua itu akan saya rindukan ketika musim kemarau datang lagi.
Hidup memang begitu. Kita sering baru rindu setelah sesuatu pergi.
Di antara jemuran basah, doa-doa yang dipanjatkan, dan matahari yang dikejar-kejar, saya belajar satu hal: tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Ada yang cukup dijalani saja.
---
Doa di Ujung Hujan
Untuk teman-teman yang tinggal di dekat atau di daerah bencana, semoga selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Semoga hujan kembali menjadi sahabat, bukan ancaman.
Mari jaga diri, jaga keluarga, dan jaga harapan. Perbanyak doa. Karena kadang, itu memang satu-satunya yang bisa kita lakukan—dan itu tidak pernah sia-sia.
Musim hujan akan berlalu. Matahari akan kembali penuh. Jemuran akan kosong. Teras samping akan kembali lengang.
Dan ketika itu terjadi, mungkin saya akan tersenyum kecil dan berkata dalam hati: dulu, di musim hujan, aku pernah mengejar matahari dari teras samping rumah, ditemani tawa kecil dan baju-baju basah yang tak pernah benar-benar membuat hidup berhenti.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar