Di Antara Lantai yang Mengilap dan Hutang Puasa: Catatan Sunyi Seorang Ibu

Ilustrasi ibu muda berambut merah dicepol memakai daster biru motif emas bermain dengan anak perempuan di taman bunga depan rumah industrial

Bermain sebentar, menyimpan bahagia 💛 - Blog Cerita Kemuning



Ketika rumah hampir rapi, hati justru diajak merapikan yang tak terlihat—lelah, syukur, dan janji yang belum lunas.

---

Ada satu momen yang selalu terasa ganjil sekaligus hangat: ketika rumah hampir selesai dibereskan. Lantai sudah kinclong, barang-barang mulai kembali ke tempatnya, dan udara di dalam rumah terasa lebih lega. Tapi di saat yang sama, justru hati seperti membuka daftar baru—daftar yang tak kasat mata.

Aku berdiri di tengah rumah, melihat sekeliling. Bersih, rapi, tenang. Tapi di dalam kepala, ada suara kecil yang berbisik, “Masih ada yang harus dibereskan.”

Bukan lagi soal debu.

Bukan lagi soal cucian.

Tapi soal janji.

Janji yang tertunda.

Hutang puasa yang harus dibayar.

---

Menjadi perempuan, apalagi seorang ibu, itu seperti membawa tas tanpa dasar. Diisi terus, tapi tak pernah benar-benar kosong. Ada saja yang masuk: tanggung jawab, kebutuhan orang lain, jadwal anak, urusan rumah, dan yang paling sering terlupakan—diri sendiri.

Lucunya, lelah itu nyata, tapi sering tak punya tempat untuk diakui.

Kalau bilang, “Aku capek,”

jawabannya kadang sederhana, tapi cukup menusuk:

“Ah, manja.”

Akhirnya kita belajar satu hal: diam.

Bukan karena tidak lelah.

Tapi karena lelah itu tidak selalu dimengerti.

Jadi ya sudah… disimpan saja. Dipeluk sendiri. Kadang sambil tertawa kecil, kadang sambil menarik napas panjang di dapur.

---

Tapi di balik semua itu, aku tidak sedang mengeluh.

Aku bahagia.

Iya, bahagia yang sederhana tapi penuh. Bahagia yang tidak selalu terlihat di foto, tapi terasa di dada.

Aku suka menyiapkan keperluan anakku.

Aku suka mengajaknya jalan-jalan, melihat dia tertawa di tempat bermain.

Aku suka melihat matanya berbinar saat menemukan hal baru.

Sekarang, dia sudah mulai masuk fase baru: prasekolah.

Dan sebentar lagi, aku akan mendaftarkannya ke tempat ngaji. Tempat sederhana, dekat rumah, tempat anak-anak tetangga belajar mengaji dengan suara yang kadang belum fasih, tapi justru itu yang membuatnya indah.

Runi sudah tertarik sekali.

Setiap kali mendengar suara anak-anak mengaji, dia ikut menoleh. Matanya penasaran. Seperti ada dunia baru yang ingin ia masuki.

Dan sebagai ibunya, aku tahu—ini saatnya memperkenalkan proses belajar.

Pelan-pelan.

Tidak terburu-buru.

Tapi tetap punya arah.

---

Tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin aku tuntaskan: qodho puasa.

Ini bukan sekadar kewajiban. Ini seperti percakapan pribadi antara aku dan Tuhan. Sesuatu yang tidak terlihat orang lain, tapi terasa berat kalau belum diselesaikan.

Aku ingin memulainya dengan tenang.

Bukan terburu-buru.

Bukan setengah hati.

Karena aku tahu, kalau hati ini sudah lega, langkah berikutnya akan terasa lebih ringan.

---

Jujur saja, tantangan terbesarnya bukan di niat.

Tapi di realita.

Setelah bulan Ramadan berlalu, siang hari di tempatku tinggal terasa… luar biasa terik. Matahari seperti tidak mau kompromi. Panasnya jatuh lurus ke atap rumah, memantul ke jalan, lalu naik lagi ke wajah.

Kebayang kalau harus antar jemput anak di siang hari.

Keringat, lelah, belum lagi kalau anak mulai rewel karena kepanasan.

Itu bukan drama. Itu kenyataan.

Makanya aku memilih strategi sederhana: selesaikan dulu qodho puasa, baru masuk ke rutinitas baru Runi.

Biar tidak semuanya datang bersamaan.

Karena hidup itu bukan lomba cepat.

Ini maraton panjang.

---

Aku juga mulai sadar satu hal penting: mendidik anak zaman sekarang tidak bisa pakai cara terburu-buru.

Generasi anak kita—yang sering disebut Gen Alpha—hidup di dunia yang jauh berbeda dari kita dulu.

Mereka lahir di tengah perubahan yang berjalan cepat, hampir tanpa jeda. Segalanya serba instan, serba responsif, seolah dunia selalu siap menjawab sebelum mereka sempat bertanya.

Mereka cepat, tanggap, dan akrab dengan perubahan—bahkan mungkin lebih dari yang kita pahami.

Justru di situlah tugas kita: bukan mengejar kecepatan mereka, tapi menjadi tempat pulang yang tenang. Tempat mereka belajar pelan-pelan, memahami makna, bukan sekadar terbiasa dengan laju dunia.

Kalau kita terlalu keras, mereka bisa menjauh.

Kalau kita terlalu longgar, mereka bisa kehilangan arah.

Jadi jalannya cuma satu: seimbang.

Santai, tapi tidak lalai.

Lembut, tapi tetap tegas.

Mengalir, tapi tetap punya tujuan.

Dan jujur saja… ini PR besar buatku.

Sebagai generasi milenial, aku tumbuh di masa perubahan yang serba cepat. Kita dipaksa adaptasi, kadang tanpa sempat bertanya, “Ini cocok nggak ya buatku?”

Tapi sekarang, sebagai ibu, aku tidak mau anakku hanya “bertahan”.

Aku ingin dia tumbuh dengan sadar.

Dengan arah.

Dengan rasa aman.

---

Kadang hari-hariku terasa seperti suara drum: gedebag-gedebug.

Pagi belum selesai, siang sudah datang.

Siang belum tuntas, sore sudah menunggu.

Dan malam… sering jadi satu-satunya waktu untuk diam.

Tapi di tengah semua itu, aku belajar satu hal yang sederhana, tapi kuat:

Jalani saja.

Tidak perlu sempurna.

Tidak perlu selalu benar.

Yang penting terus berjalan.

Dan jangan lupa bersyukur.

Karena di balik lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan, ada cinta yang terus bekerja diam-diam.

Di balik rutinitas yang terasa berat, ada makna yang perlahan tumbuh.

---

Rumah ini mungkin sudah hampir rapi.

Lantainya bersih.

Barang-barangnya kembali ke tempatnya.

Tapi yang sedang benar-benar aku rapikan sekarang… adalah diriku sendiri.

Pelan-pelan.

Satu niat.

Satu langkah.

Satu doa.

Menyelesaikan yang tertunda.

Menyiapkan yang akan datang.

Dan menikmati setiap peran yang Tuhan titipkan.

Sebagai perempuan.

Sebagai ibu.

Sebagai manusia yang terus belajar.

---

Kalau kamu bertanya, “Capek nggak?”

Jawabannya: iya.

Tapi kalau kamu tanya lagi,

“Bahagia nggak?”

Aku akan jawab, sambil tersenyum kecil—

Banget. 💛

---

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

--- 

Masih Ngantuk Setelah Lebaran? Cerita Lelah yang Hangat di Balik Persiapan Hajat Keluarga

Ilustrasi semi lukisan seorang ibu muda berambut merah bergelombang berbaring di kasur putih motif bunga, memandang putrinya yang tidur pulas di sampingnya dengan ekspresi lelah namun bahagia.

Di antara lelah yang belum lunas, ada bahagia yang diam-diam tumbuh—seorang ibu memandangi dunia kecilnya yang tertidur tenang di sampingnya - Blog Cerita Kemuning



Dari begadang, bersih-bersih rumah sampai ke sudut tersempit, hingga tamu berdatangan—ini kisah lelah yang terasa manis setelah semuanya usai.

---

Ada masa di mana tubuh terasa berat, kepala sedikit berdenyut, dan mata seperti belum benar-benar bangun… walaupun hari sudah siang.

Aku lagi ada di fase itu sekarang. Masih sering ngantuk.

Bukan tanpa alasan. Beberapa malam terakhir sebelum hari besar itu, aku begadang. Bukan untuk hal yang aneh-aneh—bukan sekadar scroll tanpa arah sampai lupa waktu—tapi karena membantu mama menyiapkan pamulang, bingkisan untuk keluarga dan tamu sebagai tanda terima kasih.

Yang sederhana, tapi penuh makna. Yang kalau dilihat orang mungkin hanya “paket”, tapi di dalamnya ada perhatian, ada niat baik, dan ada rasa ingin berbagi.

Dan seperti biasa, setiap acara besar dalam keluarga… yang sibuk bukan cuma satu dua orang. Semua ikut bergerak, seperti roda yang harus berputar bersama.

---

Bersih-Bersih yang Sampai ke Sudut yang Lupa Disapa

Rumah kami berubah.

Bukan cuma rapi, tapi benar-benar dibersihkan. Sampai ke sela-sela yang biasanya lolos dari sapu. Sampai ke pojokan yang jarang disentuh lap pel.

Aku sampai mikir, “Ini rumah atau lagi ikut lomba kebersihan tingkat nasional ya?”

Tapi memang begitulah kalau mau menyambut tamu. Apalagi tamu keluarga besar. Ada rasa ingin memberikan yang terbaik. Bukan untuk pamer, tapi untuk menghormati.

Barang-barang yang sudah tidak terpakai mulai disingkirkan. Ada yang dibuang, ada yang diseleksi ulang. Yang masih bisa dipakai dirapikan, ditata ulang seperti menemukan rumahnya kembali.

Mainan Runi? Jangan ditanya.

Dikumpulkan. Dimasukkan ke dalam karung besar. Dirapikan. Disusun. Walaupun aku tahu, nanti pasti akan keluar lagi satu per satu… seperti pasukan kecil yang tidak pernah benar-benar bisa diam.

Rumah jadi terasa lebih lega.

Lebih luas.

Lebih “siap” menerima cerita-cerita baru.

---

Tamu Datang, Rumah Jadi Hidup

Satu per satu anggota keluarga mulai berdatangan.

Ada yang dari jauh. Ada yang jarang bertemu. Ada yang terakhir kali ketemu mungkin sudah lupa wajahnya seperti apa dulu.

Dan yang paling membuat hati hangat… kakaknya nenekku datang bersama semua anak-anaknya.

Rasanya seperti melihat potongan masa lalu yang tiba-tiba hadir di depan mata.

Setelah Hari Raya Idul Fitri, tamu-tamu yang sebelumnya belum sempat hadir di acara hajatan mulai berdatangan silih berganti. Memang, di tanggal-tanggal itu banyak sekali yang punya hajat. Seolah sudah menjadi “tanggal cantik” untuk acara besar.

Jadi, wajar saja kalau ada yang menyempatkan datang lebih awal, sebelum tanggal yang telah diberitahukan.

Dan aku? Aku senang.

Capek sih… iya. Jangan ditanya.

Tapi senangnya itu nyata. Hangat. Seperti teh manis di pagi hari.

---

Anak-Anak Tetaplah Anak-Anak

Di tengah semua kesibukan orang dewasa…

Anak-anak tetap jadi dunia mereka sendiri.

Runi dan teman-temannya punya “kerajaan” di kamar. Mereka main rumah-rumahan, tertawa, berlarian kecil, lalu—entah sejak kapan—tempat tidur berubah jadi trampolin dadakan.

Loncat.

Loncat lagi.

Dan loncat lagi.

Aku yang lihat dari jauh cuma bisa tarik napas panjang.

Sprei yang tadi rapi… ya, sudah. Kotor lagi.

Di titik itu, jujur saja… aku sempat kesal. Sedikit marah.

Bukan karena anak-anaknya.

Tapi karena aku capek.

Capek itu kadang bikin emosi jadi lebih tipis. Lebih mudah naik ke permukaan.

Dan di situ aku cuma bisa bilang dalam hati,

“Astaghfirulloh…”

Karena aku tahu, mereka hanya sedang jadi anak-anak.

Dan aku… hanya sedang terlalu lelah.

---

Runi dan Pertanyaan-Pertanyaannya

Ada satu hal yang selalu bikin aku tersenyum, walaupun lagi pusing.

Runi.

Dengan segala rasa ingin tahunya.

“Ma, kita mau ngapain?”

“Ma, kenapa banyak orang di rumah?”

“Ma, kok beres-beres terus?”

Pertanyaan yang sederhana… tapi terus diulang.

Kadang dia juga mau ikut begadang. Mau nemenin aku.

Tapi aku tetap nina boboin dulu. Karena anak kecil tidak seharusnya ikut lelahnya orang dewasa.

Biarlah dia tidur dengan dunia mimpinya.

Sementara aku kembali ke dapur, ke ruang tamu, ke tumpukan pekerjaan yang belum selesai.

---

Hari Besar Itu Datang… dan Berlalu dengan Indah

Semua lelah itu akhirnya sampai di puncaknya.

Hari pernikahan adik laki-lakiku.

Acara demi acara berjalan.

Dan Alhamdulillah… semuanya lancar.

Tanpa drama besar.

Tanpa kekacauan yang berarti.

Dan di situ rasanya… semua capek itu seperti dibayar lunas.

Kadang hidup memang begitu.

Kita jungkir balik dulu… baru bisa duduk tenang sambil tersenyum.

---

Setelah Semua Usai: Bab yang Tidak Pernah Hilang

Kalau ada yang bilang setelah acara selesai kita bisa langsung istirahat total…

Aku ingin ketawa kecil.

Karena kenyataannya, ada satu bab yang selalu datang setelah semua keramaian selesai.

Beres-beres.

Cucian.

Dan sisa-sisa “perang” kecil yang ditinggalkan oleh kebahagiaan.

Sejujurnya, setelah semua selesai… aku cuma ingin tidur.

Tidur yang panjang.

Tanpa alarm.

Tanpa suara orang memanggil.

Tapi ya itu… cucian menunggu. Rumah perlu dirapikan lagi.

Jadi kami kerjakan pelan-pelan.

Dicicil.

Tidak harus selesai dalam satu hari.

Dan di saat seperti ini, bantuan itu terasa sangat berharga.

Kami memanggil seseorang yang biasa membantu saat kondisi seperti ini—saat tenaga sudah hampir habis, tapi pekerjaan masih menumpuk.

Dan jujur… itu keputusan yang bijak.

Karena tidak semua harus kita lakukan sendiri.

---

Lelah yang Tidak Sia-Sia

Sekarang, di tengah rasa ngantuk yang masih sering datang…

Aku justru merasa bersyukur.

Karena lelah ini bukan lelah yang kosong.

Ini lelah yang punya cerita.

Lelah karena membantu orang tua.

Lelah karena menyambut keluarga.

Lelah karena merayakan kebahagiaan orang yang kita sayangi.

Dan kalau dipikir-pikir…

Tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan lelah seperti ini.

---

Untuk Kamu yang Membaca Ini

Aku menulis ini sambil masih mengumpulkan sisa-sisa energi.

Dengan harapan… tulisan ini bisa jadi teman.

Mungkin kamu membacanya di pagi hari, sambil minum teh hangat.

Atau sore hari, ditemani kopi.

Atau bahkan sebelum tidur, saat dunia sudah mulai sunyi.

Kalau kamu juga sedang lelah… aku paham.

Kalau kamu juga sering ngantuk akhir-akhir ini… mungkin kita sedang berada di fase yang sama.

Dan tidak apa-apa.

Tidak harus selalu kuat.

Tidak harus selalu rapi.

Kadang hidup memang berantakan sedikit… baru terasa hidup.

---

Penutup yang Hangat

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, untuk kamu yang merayakan.

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Kalau selama ini ada kata yang kurang berkenan—baik yang disengaja maupun tidak—semoga dimaafkan.

Dan untuk kamu yang membaca ini, siapa pun kamu…

Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.

Diberi kesehatan.

Diberi rezeki yang cukup, bahkan berlebih dengan berkah.

Dan hati yang tetap hangat, walaupun dunia kadang terasa dingin.

Aamiin.

---

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca. 

--- 

Menghitung Hari, Menyulam Rindu: Antara Idul Fitri dan Hari Bahagia Adikku

Ilustrasi Ibu dan anak perempuan mengenakan kebaya biru dan batik Mega Mendung dengan aksen emas, bermain di bawah pohon besar, memandang langit ceria

Di bawah teduhnya waktu, aku memeluk masa kecilmu—dan diam-diam membayangkan masa depan yang sedang Tuhan siapkan untuk kita - Blog Cerita Kemuning 



Dari sidang isbat hingga pelaminan, dari takbir hingga haru yang diam-diam menetes—kisah sederhana tentang keluarga, waktu, dan cinta yang tumbuh tanpa suara.

 

---

 

Ada fase dalam hidup yang rasanya seperti berdiri di antara dua musim. Tidak sepenuhnya hujan, belum sepenuhnya kemarau. Hangat, tapi juga basah di sudut mata. Begitulah rasanya sekarang—aku sedang menghitung hari menuju hari H pernikahan adik laki-lakiku.

Di kalender, tanggal itu sudah dilingkari. Tebal. Seolah ingin bilang, “Hei, bersiaplah. Hidupmu akan berubah sedikit… atau mungkin banyak.”

Tapi sebelum sampai ke sana, kami akan melewati satu momen sakral yang selalu datang dengan cara yang tak pernah benar-benar bisa ditebak: Idul Fitri. Menunggu sidang isbat seperti menunggu kabar dari langit. Apakah besok sudah lebaran? Atau masih puasa sehari lagi?

Lucu ya, hal yang setiap tahun terjadi, tetap saja membuat hati berdebar kecil.

Biasanya, malam menjelang keputusan itu terasa syahdu. TV menyala, berita tentang sidang isbat ditunggu. Di dapur, aroma kue kering sudah lebih dulu merayakan. Di hati, doa-doa dipanjatkan diam-diam. Semoga kita semua dipertemukan dengan hari kemenangan.

Dan tahun ini… rasanya berbeda.

Karena setelah gema takbir reda, setelah tangan-tangan saling bersalaman, setelah maaf-maafan yang kadang diiringi air mata, kami tidak benar-benar kembali ke rutinitas biasa. Tidak. Kami akan lanjut ke bab berikutnya: mempersiapkan pernikahan adik laki-lakiku.

Ah, menulis ini saja sudah bikin dada terasa penuh.

Adikku itu… yang dulu suka iseng, suka jahil, kadang ngambekan kayak anak kecil, tapi diam-diam paling penyayang. Yang kalau aku lagi lelah, dia bisa tiba-tiba datang dengan candaan receh yang entah kenapa selalu berhasil bikin ketawa.

Sekarang… dia akan menikah.

Aku sampai harus ngomong ke diri sendiri, setengah bercanda, setengah serius:

“Tenang Ning, nanti kamu dibawakan adik perempuan sama dia.”

Hehe.

Lucu juga membayangkan. Dulu aku hanya punya dia sebagai adik laki-laki. Sekarang, hidup akan memberiku “adik perempuan” baru. Seseorang yang mungkin nanti akan jadi teman cerita, teman dapur, teman tertawa… atau bahkan teman nangis diam-diam di pojok rumah.

Dan lebih jauh lagi—aku mulai membayangkan peran baru yang akan datang pelan-pelan.

Dia sudah jadi paman untuk anakku.

Dan aku… akan jadi uwak. Bu De. Tante.

Kapan hari itu tiba?

Pertanyaan itu datang seperti angin sore. Ringan, tapi terasa. Membawa bayangan-bayangan kecil: suara tawa anak-anak, langkah kaki mungil di lantai rumah, dan mungkin wajah kecil yang… sedikit “copas” dari adik laki-lakiku.

Yang kelak akan menjadi sepupu Runi—sepupu yang benar-benar terikat oleh garis keluarga yang sama, dari nenek yang sama. Hehe… membayangkannya saja sudah bikin hati hangat.

Karena suatu hari nanti, Runi tidak lagi sendiri. Ia akan punya “squad”-nya sendiri—teman tumbuh, teman ribut, teman berbagi cerita dalam satu rumah besar bernama keluarga.

Ah, kalau itu terjadi, mungkin aku akan sering gemas sendiri.

 

---

 

Setelah Idul Fitri nanti, rumah tidak benar-benar akan sepi. Justru sebaliknya. Akan ada kesibukan baru. Persiapan hajatan. Dari hal besar sampai hal kecil yang kadang justru paling melelahkan.

Mulai dari daftar tamu, dekorasi, makanan, menghias seserahan, hingga hal-hal yang sering dianggap remeh—tapi kalau tidak diurus, bisa bikin panik di hari H.

Di sela-sela itu, ada satu hal yang paling penting: doa.

Kami akan mendoakan adikku. Bukan hanya agar acaranya lancar, tapi agar hidup barunya benar-benar diberkahi. Karena menikah itu bukan hanya tentang hari bahagia dengan baju indah dan foto yang rapi.

Menikah adalah tentang perjalanan panjang. Tentang belajar memahami. Tentang menahan ego. Tentang tetap memilih satu sama lain, bahkan di hari-hari yang tidak indah.

Dan sebagai kakak, aku hanya bisa berdiri sedikit di belakang, sambil berbisik dalam hati:

“Semoga kamu kuat. Semoga kamu bahagia. Semoga rumah tanggamu nanti dipenuhi tawa, bukan hanya sabar.”

 

---

 

Kadang, di tengah semua ini, aku merasa ingin menangis.

Bukan karena sedih sepenuhnya. Tapi karena haru yang terlalu penuh. Seperti gelas yang diisi sampai bibirnya—sedikit goyang saja, langsung tumpah.

Aku ingat dia yang dulu.

Dan sekarang melihatnya bersiap jadi kepala keluarga.

Waktu memang tidak pernah minta izin.

Dia berjalan saja. Diam-diam, tapi pasti.

Dan kita… hanya bisa mengikuti, sambil sesekali menoleh ke belakang.

 

---

 

Di pagi hari, ketika adzan Subuh berkumandang, ada rasa syukur yang sulit dijelaskan. Kami masih dibangunkan. Masih diberi kesempatan membuka mata. Masih bisa merasakan dinginnya air wudhu, dan hangatnya sinar matahari yang pelan-pelan muncul dari ufuk timur.

Hal-hal sederhana, tapi sering kita lupakan.

Padahal di situlah letak nikmat yang paling jujur.

Aku duduk, memandangi cahaya pagi, dan dalam hati hanya bisa berkata:

Alhamdulillah Ya Allah… atas semua yang Engkau beri.

Atas keluarga yang masih utuh.

Atas momen-momen kecil yang diam-diam jadi kenangan besar.

Atas perjalanan yang tidak selalu mudah, tapi selalu cukup.

 

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal.

 

---

 

Menghitung hari menuju pernikahan adik ternyata bukan hanya soal tanggal.

Ini tentang menerima perubahan.

Tentang belajar melepaskan sedikit demi sedikit.

Tentang memberi ruang bagi kehidupan baru untuk tumbuh.

Dan di antara semua itu, aku tetap menjadi aku—seorang kakak, seorang ibu, seorang perempuan yang kadang kuat, kadang rapuh, tapi selalu berusaha berdiri lagi.

Hari itu akan tiba.

Hari ketika adikku mengucap akad.

Hari ketika satu bab selesai, dan bab baru dimulai.

Dan aku akan ada di sana.

Mungkin sambil tersenyum.

Mungkin sambil menahan air mata.

Atau mungkin… dua-duanya sekaligus.

Karena begitulah cinta bekerja dalam keluarga—tidak selalu rapi, tidak selalu tenang, tapi selalu tulus.

Dan untuk semua yang akan datang nanti, aku hanya bisa berdoa pelan:

Semoga setiap langkah kami selalu dalam keberkahan.

Semoga setiap perubahan membawa kebaikan.

Dan semoga… rumah kecil kami selalu punya tempat untuk pulang.

 

Aamiin.

 

---

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

 

---